OPINI  

Ketika Iman Katolik dan Hubula Bertemu di Tanah Tabi

Darnol Huby, Kader Senior IPMPKDPT Jayapura. Foto: Istimewa

Oleh Darnol Huby

Kader Senior IPMPKDPT Jayapura

DI TENGAH riuh isu pembangunan dan krisis kemanusiaan di tanah Papua, ada sebuah cerita kecil yang luput dari sorotan media besar. Cerita tentang 24 anak muda Hubula-Wamena, Jayawijaya, Papua Pegunungan.

Anak-anak muda ini baru turun dari pesawat di Sentani, tersesat di Dok 5, lalu menemukan kembali rumahnya di Kapel Yesus Pilamo, kapel mungil di Angkasa, Jayapura.

Peristiwa itu terjadi pada 8-10 Oktober 2026. Kala itu, Ikatan Pelajar Mahasiswa Pemuda Katolik Dekanat Pegunungan Tengah di Jayapura (IPMPKDPT) menyelenggarakan Penerimaan Anggota Baru dan Rapat Umum Anggota.

Tema utama acara Penerimaan Anggota Baru dan Rapat Umum Anggota yaitu Melahirkan Kader-Kader IPMPKDPT yang Mampu Mengembangkan Nilai-Nilai Kekatolikan dalam Budaya Setempat dengan subtema Optimalisasi Transformasi Meneguhkan Iman, Merawat Persaudaraan, Membangun Regenerasi Organisasi yang Berintegritas dan Loyal.

Tema ini tentu terasa berat untuk anak muda yang baru beberapa bulan merantau. Tapi justru di situlah relevansinya. IPMPKDPT bukan organisasi biasa. Ia adalah rumah bersama bagi pelajar dan mahasiswa Katolik dari sembilan paroki dan satu kuasi paroki di Dekanat Pegunungan Tengah, Keuskupan Jayapura.

Di Jayapura, di mana arus modernitas dan tantangan identitas begitu kuat, para pelajar dan mahasiswa mencoba merawat apa yang disebut persaudaraan antar paroki.

Ketua Panitia Emanuel Siep menegaskan, dengan dana yang hanya terkumpul Rp 5.480.000 panitia berhasil menyelenggarakan kegiatan selama tiga hari. Angka yang kecil jika dibandingkan dengan anggaran seminar di hotel. Tapi di tangan panitia, uang itu menghasilkan 24 kader baru organisasi kedaerahan itu.

Acara pembukaan, Kamis pagi 8 Oktober pukul 07.20 WIT di Kapel Yesus Pilamo dipimpin Frater Dany Isaba. Pesannya sederhana tapi menyentuh: jadikan Yesus sebagai figur dan andalan, khususnya bagi mahasiswa Hubula di Jayapura. Bagi anak Hubula di tanah rantau, kata “andalan” itu bukan sekadar khotbah. Ia adalah jangkar.

Dalam benak penulis tantangannya adalah kesadaran. Pendaftaran dibuka lama, tetapi belum semua paroki terlibat. Padahal, kegiatan seperti ini sebenarnya sangat positif untuk belajar hidup berorganisasi, saling mendukung dalam kegiatan belajar hingga proses perkuliahan sekaligus merawat kebersamaan di antara sesama anggota.

Pembina, Alfons Alua, S.I.Kom yang resmi membuka acara, berharap lahir kader yang tidak hanya militan dalam iman, tetapi mampu menjadi jembatan antara Injil dan budaya Pegunungan Tengah. Dan jembatan itu dibangun pada hari kedua pada 9 Oktober.

Tiga Lagu, Tiga Perjalanan Identitas

Jika pembukaan bicara tentang iman, maka hari kedua bicara tentang budaya. Dan inilah bagian paling kuat dari kegiatan ini. Tiga kelompok menampilkan tiga cerita yang berbeda, tetapi satu benang merah.

Kelompok I, 3W (Wen, Wam, Wene) dipimpin Nelson Walilo, menyanyikan Wene Pugur. Lagu tentang Yeke Isi di lengan, Puali di kepala, Werene mahkota para Waya. Mereka menjelaskan dengan detail: atribut-atribut ini tidak dipakai sehari-hari, hanya di acara tertentu. Di Jayapura, atribut itu menjadi pengingat: siapa mereka. Yel-yel mereka: “Nakmu Hakumu, Nabua Habua, Noguuk – Saling Mengasihi Satu Sama Lain.”

Kelompok II, Yesu dipimpin penulis menyanyikan Ewetaï. Ini lagu yang paling jujur tentang menjadi perantau. Liriknya bercerita: “Wamena neno, Agumua nen oh, Pesawat ohwa oh, Aniwuh ohwa oh… Oh Yayapura Yoma, Oh Angkasa Yoma.”

Seorang anak meninggalkan keluarga, naik pesawat, datang di kota studi Jayapura. Datang di IPMPKDPT bukan untuk digantung, tetapi untuk dididik. Harapannya bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk kembali membangun Wamena. Pesan penutupnya: “Penderitaan hari ini adalah bukti masa depan lebih jauh dari capek yang kita rasakan. Wa…wa…wa…”

Kelompok III, Hubula Nit Meke, menyanyikan De Isa (Nir Wamewa Nyanye). Lagu tentang perjalanan dari Dok 5 sampai ke honai. Cerita yang sangat Jayapura-sentris: anak-anak Wamena yang dimarahi, diceritakan, diusir oleh pemilik tanah di sekitar perjalanan.

Bingung mau pergi kemana, tersesat, lalu bertemu orang tak dikenal yang berjabat tangan dan mengarahkan mereka masuk ke Pilamo untuk menjadi satu persaudaraan dalam satu wadah.

Di sana mereka diajarkan: “Kalian tidak perlu takut, karena kami ini juga bagian dari kalian dan kalian juga bagian dari kami. Maka kita akan menjadi satu untuk menjaga tungku api di dalam honai tetap menyala.”

Tiga lagu ini bukan sekadar penampilan. Ini adalah narasi teologi kontekstual. Ketika Gereja Katolik berbicara tentang inkulturasi, inilah wujudnya. Injil tidak datang menghapus budaya, tapi menyalakan kembali tungku api honai.

Dari Pilamo untuk Papua

Pada Sabtu, 10 Oktober, 24 anggota baru itu diserahkan secara resmi oleh Emanuel Siep kepada pengurus Darnol Huby, ditutup dengan doa oleh Gabriel Faluk, salam-salaman dan foto bersama. Dilanjutkan dengan RUA, laporan pertanggungjawaban, dan salam perpisahan pengurus demisioner.

Apa artinya 24 orang ini di tengah data besar yang selama ini kita bicarakan: 83.177 personel TNI-Polri yang kepung tanah Papua, 13.413 janda pada usia produktif di Sentani, Kabupaten Jayapura-Papua, 5 suku punah dari 250 lebih di tanah Papua, miliaran ton tailing di buang di Timika dari hasil tambang Freeport.

Artinya adalah harapan dalam skala kecil. Di saat negara Indonesia masih sibuk dengan pendekatan keamanan, anak-anak muda ini memilih pendekatan kebudayaan dan iman. Di saat banyak organisasi mahasiswa sibuk dengan politik praktis, IPMPKDPT sibuk merawat Pilamo, merawat honai, merawat identitas.

Jika Otonomi Khusus gagal karena tata kelola dan kepercayaan publik, seperti kata Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), maka kegiatan seperti inilah yang justru sedang membangun kembali kepercayaan itu dari bawah: dari kapel kecil di Angkasa.

Melahirkan kader yang mampu mengembangkan nilai Kekatolikan dalam budaya setempat bukanlah jargon. Ia adalah jawaban atas pertanyaan: bagaimana menjadi Katolik yang tetap hubula dan menjadi hubula yang tetap Katolik di tanah Tabi yang majemuk?

Dari Pilamo di Angkasa, Jayapura, 24 kader baru itu pulang dengan yel-yel yang sederhana: saling mengasihi satu sama lain. Opakimo, Hahihano, Douok. Semoga tungku api di honai mereka tetap menyala. Wa…wa…wa…