Uskup Timika Tekankan 4 Pilar Bangun Kerajaan Allah Saat Misa Peresmian Gedung Baru Gereja Idakebo

Uskup Timika Mgr Dr Bernardus Bofitwos Baru, OSA (kanan) dan Bupati Kabupaten Dogiyai Yudas Tebai, S.Pd, M.Si (kiri) saat memotong pita menandai berdirinya gedung baru Gereja Paroki Santa Maria Ratu Rosari, Idakebo, Dogiyai, Dekanat Kammapi, Keuskupan Timika, Papua Tengah, Rabu (7/10). Sumber foto: pemdadogiyai.id, Rabu, 7 Oktober 2026

IDAKEBO, ODIYAIWUU.com — Uskup Keuskupan Timika Mgr Dr Bernardus Bofitwos Baru, OSA, Rabu (7/10) mempersembahkan Misa pemberkatan gedung baru Gereja Paroki Santa Maria Ratu Rosari, Idakebo, Dogiyai, Dekanat Kamuu-Mapia (Kammapi), Keuskupan Timika, Papua Tengah.

Saat memimpin Misa, Uskup Bernardus didampingi Pastor Paroki RD Richardus Buang Lela, Pr serta Pastor Benny Magai, Pr dan dihadiri umat Katolik sekaligus menandai secara resmi gedung baru Gereja Santa Maria Ratu Rosari di Dekanat Kammapi, Keuskupan Timika.

“Dalam kesempatan berahmat ini saya mengajak umat Katolik mewujudkan Kerajaan Allah melalui kehidupan nyata,” ujar Uskup Bernardus dalam homilinya saat Misa peresmian gedung baru Gereja Santa Maria Ratu Rosari Idakebo yang berletak di Idakebo, Distrik Kamuu Utara, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, Rabu (7/10).

Menurut Mgr Bernardus, Uskup kedua putra asli Papua kelahiran 22 Agustus 1969 di Dusun Bokraby (Bakrabi), Distrik Mare, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, iman tidak cukup diwujudkan dalam doa dan perayaan liturgi, tetapi harus hadir dalam keluarga dan kehidupan masyarakat.

Uskup Bernardus dalam kesempatan tersebut mengajak bersama-sama merefleksikan bacaan Kitab Suci Nehemia 8:1-4a, 5-6, 8-10; 2 Korintus 3:9b-11, 16-17; dan Matius 16:13-19. Uskup juga menyoroti peran Imam Ezra, Rasul Paulus, dan Santo Petrus dalam membangun umat Allah sesuai panggilan masing-masing.

“Ezra membangun kembali kehidupan bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah. Paulus dipanggil untuk mewartakan Kristus, sementara Petrus tampil sebagai pemimpin para rasul dan mewartakan Kristus hingga ke Roma,” kata Uskup Bernardus lebih lanjut.

Dari ketiga tokoh tersebut, Uskup Bernardus menegaskan bahwa setiap orang beriman juga dipanggil mengambil bagian dalam membangun Kerajaan Allah. Panggilan itu, kata Uskup Bernardus, perlu diwujudkan melalui empat hal.

Pertama, membangun kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan. Uskup Bernardus mengajak umat mengembangkan ekonomi keluarga dan masyarakat melalui kebiasaan berkebun dan beternak.

“Kita harus bangun Kerajaan Allah itu menjadi nyata, mengembangkan ekonomi keluarga umat dan masyarakat,” kata Uskup Bernardus.

Uskup Bernardus mendorong umat menanam tanaman pangan serta memelihara ternak seperti ayam dan babi. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat menjadi investasi keluarga sekaligus sumber pangan ketika menghadapi krisis.

Kedua, membangun budaya hidup sehat. Uskup Bernardus mengingatkan umat untuk menjaga kesehatan melalui pola makan, istirahat, pekerjaan, serta relasi yang baik dengan sesama.

Uskup Bernardus juga menyoroti persoalan HIV/AIDS dan konsumsi alkohol yang berdampak serius terhadap kehidupan masyarakat Papua.

“Alkohol juga membunuh banyak orang Papua. Orang Papua banyak yang mati di parit-parit. Alkohol membunuh generasi,” kata Uskup Bernardus tegas.

Karena itu, menjaga kehidupan dan meninggalkan kebiasaan yang merusak diri, keluarga, serta masa depan generasi Papua merupakan bagian dari upaya membangun Kerajaan Allah.

Ketiga, memperkuat pendidikan. Uskup meminta umat, terutama para orang tua, memastikan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik.

Ia mengatakan perhatian terhadap pendidikan perlu diperkuat dalam lima tahun ke depan, termasuk melalui pembenahan Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK), mulai dari pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi.

Dalam pengembangan pendidikan calon imam, Uskup Bernardus juga menyampaikan rencana pembukaan seminari di Nabire.

Menurutnya, tanggung jawab orang tua bukan hanya menyekolahkan anak, tetapi juga mendampingi, mengontrol, dan mendorong mereka untuk sungguh-sungguh belajar.

Pendidikan, katanya, tidak boleh hanya mengejar ijazah atau gelar, tetapi harus melahirkan manusia yang mampu menciptakan peluang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Keempat, membangun pertobatan melalui sakramen rekonsiliasi. Pesan terakhir secara khusus ditujukan kepada para imam sebagai rekan kerja dalam menjalankan tugas pelayanan Gereja.

Uskup meminta para imam menyediakan jadwal khusus pelayanan Sakramen Pengakuan Dosa dan mengumumkannya kepada umat. Dengan demikian, umat memiliki kesempatan yang jelas untuk datang secara pribadi dan menerima sakramen rekonsiliasi.

Pertobatan, menurut Uskup Bernardus, merupakan bagian penting dalam membangun Kerajaan Allah. Setiap orang perlu berani melihat kembali kehidupannya, meninggalkan hal-hal yang menjauhkan diri dari Tuhan, serta membangun kembali relasi dengan Allah dan sesama.

Uskup Bernardus menegaskan bahwa iman harus menghasilkan kehidupan yang nyata. Kerajaan Allah tidak hanya dibangun di dalam gereja, tetapi juga di kebun keluarga, meja makan, sekolah, tempat kerja, kehidupan sosial, dan dalam hati setiap orang yang mau bertobat.

Ezra membangun kembali umat, Paulus mewartakan Kristus, dan Petrus menggembalakan Gereja. Kini, umat beriman dipanggil melanjutkan tugas tersebut melalui kehidupan yang mandiri, sehat, terdidik, dan terus diperbarui dalam pertobatan.

Rangkaian peresmian gedung baru Gereja Paroki Santa Maria Ratu Rosari Idakebo ditandai dengan pemotongan pita. Tokoh Katolik sekaligus Bupati Dogiyai Yudas Tebai, S.Pd, M.Si bersama Uskup Bernardus secara bersama-sama memegang gunting emas untuk memotong pita merah di pintu utama gedung gereja baru.

Pemotongan pita merupakan bentuk sinergis antara pemimpin daerah dan pemimpin rohani. Rasa haru dan bahagia terpancar umat saat daun pintu gereja dibuka lebar menandai kehadiran paroki yang segera digunakan umat berdoa kepada Tuhan, pusat dan sumber kehidupan manusia.

Bupati Yudas Tebai mengatakan, momen ini menjadi wujud nyata komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dogiyai dalam mendukung pembangunan infrastruktur keagamaan dan menjaga kerukunan umat beragama.

“Ini bukan sekadar memotong pita, tetapi membuka jalan bagi umat Idakebo untuk lebih leluasa beribadah dan meningkatkan kualitas iman. Kami bangga bisa berdiri berdampingan dengan Bapak Uskup dalam momen bersejarah ini,” kata Bupati Tebai usai prosesi.

Sementara itu, Uskup Bernardus menyampaikan terima kasih atas dukungan penuh dari Pemkab Dogiyai. Ia berharap gedung gereja baru yang diresmikan ini dapat menjadi pusat kegiatan pastoral yang aktif dan menjadi sumber berkat bagi seluruh masyarakat di Keuskupan Timika dan tanah Papua. (*)