Puisi: Pesona Bibir Basege dan Mada Syukur di Kaki Horison Samudra Pasifik Karya Yance Dou

Pantai Base G, salah satu destinasi wisata eksotik di Kota Jayapura, Papua. Pantai mempesona ini menyuguhkan pemandangan indah yang sangat memanjakan mata pengunjung Berwisata ke tanah Papua terasa kurang lengkap tanpa mengakrabi pesona Base G. Sumber foto ilustrasi: visitpapua.id

Senandung Rindu pada Sang Sabda

 

Aku berdiri bersama para kolegaku

Pelan tetapi pasti

lambat tetapi penuh keyakinan

kami mulai membongkar gumpalan perasaan—

rahasia-rahasia batin yang selama ini terbungkus rapat

dalam selimut kegelapan yang menodai kesucian ruang jiwa

Senandung rindu menyapa Tuhan, sang Sabda

 

Kini, segalanya terungkap!

Merekah lewat bait-bait lagu yang mengalun

juga lewat langkah-langkah hening yang termenung

di atas lumpur pantai yang basah

seraya menanti kedatangan sapaan lembut dari Saudari Laut

 

Di bibir pantai Baseg’g ini,

setiap insan menyapa seluruh makhluk ciptaan

Ada yang menyapa lewat gerak lengan setenang rimbun pepohonan—

seperti Bunda Erna yang merangkul alam.

 

Ada pula yang merangkai untaian lagu cinta yang teduh

lewat bibir emas Bas, Vicky, dan Eko

Tak mau ketinggalan langkah

menyapa lautan Pasifik dengan senandung merdu

hadir pula para biduan suster: Modesta dan Laura

 

Dalam pertemuan jiwa yang murni ini

jemari perasaan saling bertautan

membangkitkan kembali energi Ilahi —

bahkan saat Insan Diakon Andre terlelap penuh damai

di bawah naungan pondok hibur Baseg’g

 

Pelepasan Beban dan Perayaan Hidup

 

Aneka perasaan yang berkecamuk tak hanya dialirkan lewat gerak raga

tetapi juga tertawan oleh keteduhan samudra—

membawa batin terhanyut dalam impian di siang bolong

 

Di sana, kita meresap energi dari tiap butir pasir Baseg’g

yang perlahan melepaskan lilitan impian-impian suram masa lalu

 

Lihatlah ketenangan itu pada Sepupu Hilario dan Cucu Maria!

Sungguh tak disangka!

Kakak tua Willem hadir membawa irama nada remaja sopran

yang telah lama terkubur di kedalaman sukmanya

 

Dengarlah gema suara merdu dari duet kakak tua: Bas dan Willem!

Alunan suara mereka begitu indah

hingga mengundang angin sejuk Pasifik untuk berembus lebih lembut

menambah keteduhan panorama lautan yang abadi

 

Dan aku…

Tak pernah kusangka, aliran elemen dari seluruh makhluk ciptaan

mampu menyalakan oase batin yang hampir kering ini!

Ia memanggilku untuk melukis kisah hidup

lewat irama puisi dan budi bahasa prosa sebagai induknya

 

Sebab kini aku makin menyadari:

Hidup tak sekadar untuk dijalani dengan keterpaksaan!

Hidup tak pula sekadar diungkapkan dengan rentetan kata tanpa makna!

Hidup ini harus dirayakan!

Hidup ini harus dinyanyikan!

Bahkan dinyanyikan bersama suara alam yang bernada sendu namun agung!

 

Panggilan Kristus dan Puncak Syukur

 

Wahai Hidup!

Bukan hal kecil dan kerdil keberadaan dirimu!

Hidup, kau adalah kekuatanku!

Karena engkau, aku menyadari bahwa aku ada

Karena engkau, aku disadarkan bahwa aku diutus untuk ada

 

Dan karena engkau, aku dipanggil untuk terus melangkah pantang menyerah!

Itulah kata hati kakak tua Roby —

kalimat teguh yang menarik jiwaku masuk ke dalam ruang Sabda Abadi

menelusuri jalan kesucian Salib Kristus

dan setia mengikuti jejak kesederhanaan Sang Fransiskus dari Asisi

 

Wahai Hidup, engkaulah yang melahirkan irama Sang Waktu!

Wahai Waktu, engkaulah yang mematangkan setiap kekuatan!

Wahai Kegiatan dan Karya, engkaulah yang melahirkan nilai-nilai kesucian —

sumber mata air kekuatan bagi ziarah kami di dunia!

Sebab pada akhirnya

hidupmu dan hidupku berasal dari Sang Pemberi Kehidupan

 

Dialah Pemilik Hidup yang sejati!

Dialah Sang Maha Kehidupan yang tak pernah padam!

 

Maka dari itu, wahai saudara-saudariku…

Marilah kita bersatu padu!

Melangkah bersama dalam satu pijakan yang mantap

menyanyikan irama pujian dalam satu suara yang bulat!

 

Arahkan pandangan kita ke ufuk timur —ke tempat fajar merekah indah!

Bersama ketemuan agung Samudra Pasifik

bersama kepakan angin sejuk yang menyegarkan jiwa

serta bersama pohon-pohon dan rumput-rumput yang bergoyang ria:

Mari kita memuji Sang Maha Karya!

Mari kita mengagungkan Sang Abadi Selamanya! 

 

Mada Syukur di Kaki Horison Samudra Pasifik

 

Dini hari…

Mulaiyalah hari pertama dalam perputaran minggu

Ini bukanlah sekadar hari biasa

melainkan awal penyusunan helai-helai takdir

di antara anyaman jemari rutinitas

yang mengikat Rumah Keuskupan dalam doa dan kerja

 

Seusai menelusuri lorong-lorong spiritualitas

Sang Dina Fransiskus dari Asisi

jiwa ini terdorong untuk melangkah melampaui tembok sunyi

 

Pergilah!

Menyapa saudari samudra yang membentang luas

sebagai penutup manis atas hidangan batin

mencicipi rahmat di sepanjang jalan kesucian abadi

 

Dengarlah!

Angin spiritualitas San Fransiskus dari Asisi

telah lama berembus melintasi bumi Papua:

menerpa gunung-gunung menjulang

mengelus bukit-bukit hijau

 

merayapi lembah-lembah hening

merendam rawa, menyusuri kali, danau

hingga akhirnya menyatu bersama Samudra Pasifik!

Embusan itu menyapa lembut jiwa setiap insan—

segenap famili Keuskupan Jayapura yang dikasihi Tuhan

 

Pesona Bibir Basege

 

Tiba kita di bibir pantai Baseg’g…

Di dalam alunan selangkah yang harmonis

bersama rekan sekolega

dalam kehangatan semangat sekeluarga

kita bernaung penuh syukur di bawah pendar sinar kasih Ilahi!

 

Ada angin semangat yang menembus hingga ke sumsum jiwa;

mengikat kita —satu kolega, satu keluarga—

di dalam tiupan tunggal Angin Roh

yang melumpuhkan egoisme pribadi dan keangkuhan diri

 

Aku termenung…

Di dalam kehangatan kehadiran kakak tua Warsito

kami berdiri berdampingan

memandang megahnya horison Samudra Pasifik

 

Lautan luas itu menyapa jiwa-jiwa kita

meluluhkan seluruh letih yang menumpuk

menghanyutkan keluh kesah

serta membebaskan beban sukma

yang selama ini mewarnai lorong-lorong perasaan setiap diri

 

Wahai angkasa yang membentang!

Kau seolah bukan lagi takhta yang jauh di sana

Kau terasa amat dekat…

 

Begitu dekat, hingga kau menyatu padu—

sejiwa dan seraga dengan Saudari Samudra Pasifik!

Wahai Samudra Pasifik, sungguh aku terpesona!

Kukagumi kedamaian pelukanmu

di dalam kepakan lengan gelombangmu yang tak henti merangkul

Pantai Baseg’g, Jayapura, 5 Oktober 2026

Karya Yance Dou

Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.

Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.

Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.

Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.

Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.