Senandung Rindu pada Sang Sabda
Aku berdiri bersama para kolegaku
Pelan tetapi pasti
lambat tetapi penuh keyakinan
kami mulai membongkar gumpalan perasaan—
rahasia-rahasia batin yang selama ini terbungkus rapat
dalam selimut kegelapan yang menodai kesucian ruang jiwa
Senandung rindu menyapa Tuhan, sang Sabda
Kini, segalanya terungkap!
Merekah lewat bait-bait lagu yang mengalun
juga lewat langkah-langkah hening yang termenung
di atas lumpur pantai yang basah
seraya menanti kedatangan sapaan lembut dari Saudari Laut
Di bibir pantai Baseg’g ini,
setiap insan menyapa seluruh makhluk ciptaan
Ada yang menyapa lewat gerak lengan setenang rimbun pepohonan—
seperti Bunda Erna yang merangkul alam.
Ada pula yang merangkai untaian lagu cinta yang teduh
lewat bibir emas Bas, Vicky, dan Eko
Tak mau ketinggalan langkah
menyapa lautan Pasifik dengan senandung merdu
hadir pula para biduan suster: Modesta dan Laura
Dalam pertemuan jiwa yang murni ini
jemari perasaan saling bertautan
membangkitkan kembali energi Ilahi —
bahkan saat Insan Diakon Andre terlelap penuh damai
di bawah naungan pondok hibur Baseg’g
Pelepasan Beban dan Perayaan Hidup
Aneka perasaan yang berkecamuk tak hanya dialirkan lewat gerak raga
tetapi juga tertawan oleh keteduhan samudra—
membawa batin terhanyut dalam impian di siang bolong
Di sana, kita meresap energi dari tiap butir pasir Baseg’g
yang perlahan melepaskan lilitan impian-impian suram masa lalu
Lihatlah ketenangan itu pada Sepupu Hilario dan Cucu Maria!
Sungguh tak disangka!
Kakak tua Willem hadir membawa irama nada remaja sopran
yang telah lama terkubur di kedalaman sukmanya
Dengarlah gema suara merdu dari duet kakak tua: Bas dan Willem!
Alunan suara mereka begitu indah
hingga mengundang angin sejuk Pasifik untuk berembus lebih lembut
menambah keteduhan panorama lautan yang abadi
Dan aku…
Tak pernah kusangka, aliran elemen dari seluruh makhluk ciptaan
mampu menyalakan oase batin yang hampir kering ini!
Ia memanggilku untuk melukis kisah hidup
lewat irama puisi dan budi bahasa prosa sebagai induknya
Sebab kini aku makin menyadari:
Hidup tak sekadar untuk dijalani dengan keterpaksaan!
Hidup tak pula sekadar diungkapkan dengan rentetan kata tanpa makna!
Hidup ini harus dirayakan!
Hidup ini harus dinyanyikan!
Bahkan dinyanyikan bersama suara alam yang bernada sendu namun agung!
Panggilan Kristus dan Puncak Syukur
Wahai Hidup!
Bukan hal kecil dan kerdil keberadaan dirimu!
Hidup, kau adalah kekuatanku!
Karena engkau, aku menyadari bahwa aku ada
Karena engkau, aku disadarkan bahwa aku diutus untuk ada
Dan karena engkau, aku dipanggil untuk terus melangkah pantang menyerah!
Itulah kata hati kakak tua Roby —
kalimat teguh yang menarik jiwaku masuk ke dalam ruang Sabda Abadi
menelusuri jalan kesucian Salib Kristus
dan setia mengikuti jejak kesederhanaan Sang Fransiskus dari Asisi
Wahai Hidup, engkaulah yang melahirkan irama Sang Waktu!
Wahai Waktu, engkaulah yang mematangkan setiap kekuatan!
Wahai Kegiatan dan Karya, engkaulah yang melahirkan nilai-nilai kesucian —
sumber mata air kekuatan bagi ziarah kami di dunia!
Sebab pada akhirnya
hidupmu dan hidupku berasal dari Sang Pemberi Kehidupan
Dialah Pemilik Hidup yang sejati!
Dialah Sang Maha Kehidupan yang tak pernah padam!
Maka dari itu, wahai saudara-saudariku…
Marilah kita bersatu padu!
Melangkah bersama dalam satu pijakan yang mantap
menyanyikan irama pujian dalam satu suara yang bulat!
Arahkan pandangan kita ke ufuk timur —ke tempat fajar merekah indah!
Bersama ketemuan agung Samudra Pasifik
bersama kepakan angin sejuk yang menyegarkan jiwa
serta bersama pohon-pohon dan rumput-rumput yang bergoyang ria:
Mari kita memuji Sang Maha Karya!
Mari kita mengagungkan Sang Abadi Selamanya!
Mada Syukur di Kaki Horison Samudra Pasifik
Dini hari…
Mulaiyalah hari pertama dalam perputaran minggu
Ini bukanlah sekadar hari biasa
melainkan awal penyusunan helai-helai takdir
di antara anyaman jemari rutinitas
yang mengikat Rumah Keuskupan dalam doa dan kerja
Seusai menelusuri lorong-lorong spiritualitas
Sang Dina Fransiskus dari Asisi
jiwa ini terdorong untuk melangkah melampaui tembok sunyi
Pergilah!
Menyapa saudari samudra yang membentang luas
sebagai penutup manis atas hidangan batin
mencicipi rahmat di sepanjang jalan kesucian abadi
Dengarlah!
Angin spiritualitas San Fransiskus dari Asisi
telah lama berembus melintasi bumi Papua:
menerpa gunung-gunung menjulang
mengelus bukit-bukit hijau
merayapi lembah-lembah hening
merendam rawa, menyusuri kali, danau
hingga akhirnya menyatu bersama Samudra Pasifik!
Embusan itu menyapa lembut jiwa setiap insan—
segenap famili Keuskupan Jayapura yang dikasihi Tuhan
Pesona Bibir Basege
Tiba kita di bibir pantai Baseg’g…
Di dalam alunan selangkah yang harmonis
bersama rekan sekolega
dalam kehangatan semangat sekeluarga
kita bernaung penuh syukur di bawah pendar sinar kasih Ilahi!
Ada angin semangat yang menembus hingga ke sumsum jiwa;
mengikat kita —satu kolega, satu keluarga—
di dalam tiupan tunggal Angin Roh
yang melumpuhkan egoisme pribadi dan keangkuhan diri
Aku termenung…
Di dalam kehangatan kehadiran kakak tua Warsito
kami berdiri berdampingan
memandang megahnya horison Samudra Pasifik
Lautan luas itu menyapa jiwa-jiwa kita
meluluhkan seluruh letih yang menumpuk
menghanyutkan keluh kesah
serta membebaskan beban sukma
yang selama ini mewarnai lorong-lorong perasaan setiap diri
Wahai angkasa yang membentang!
Kau seolah bukan lagi takhta yang jauh di sana
Kau terasa amat dekat…
Begitu dekat, hingga kau menyatu padu—
sejiwa dan seraga dengan Saudari Samudra Pasifik!
Wahai Samudra Pasifik, sungguh aku terpesona!
Kukagumi kedamaian pelukanmu
di dalam kepakan lengan gelombangmu yang tak henti merangkul
Pantai Baseg’g, Jayapura, 5 Oktober 2026
Karya Yance Dou
Yance Dou lahir 5 September 1980 di Kampung Pudu, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Nama lengkapnya, Pastor Yanuarius Puduwiyai Apkulol Dou, Pr. Akrab disapa Romo Yance Dou atau Pastor Yanuarius Dou.
Romo Yance Dou menempuh studi S1 di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura Jayapura, Papua tahun 2001-2005. Ia kemudian melanjutkan kuliah hingga lulus S2 di STFT Fajar Timur tahun 2007-2009.
Romo Yance Dou ditahbiskan menjadi imam pada 13 Februari 2011 di Paroki Gembala Baik Abepura, Jayapura. Ia meraih gelar Lich Theol Spirit di Fakultat Theologi Moral dan Spiritual Universitas Navarra Pamplona, Spanyol, Juni 2015-Juni 2017.
Romo Yance Dou pernah menjabat Pastor Paroki Santo Petrus Oklip, Dekanat Pegunungan Bintang, Keuskupan Jayapura tahun 2010-2013. Kemudian, socius di Formasio Tahun Orientasi Rohani (TOR) Regio Papua tahun 2013-2014.
Lalu studi formasi spiritual di Jawa tahun 2014-2015 dan Direktur Spiritual TOR Regio Papua tahun 2017-2025. Sejak 2025 hingga saat ini menjabat Pimpinan Umum Dewan Eksekutif Pastoral Keuskupan Jayapura.










