Obituari: Jejak Pengabdian dan Pelayanan Misionaris asal Amerika Utara Pendeta Leon Dillinger

Misionaris asal Amerika Utara Almarhum Pendeta Leon Dillinger. Foto: Istimewa

MISIONARIS asal Amerika Utara Pendeta Leon Dillinger, Kamis (27/8) dikabarkan tutup usia. Evangelis Leon mengakhiri ziarah hidupnya dalam usia 95 tahun setelah melewati masa sakit. Namun, dalam terang iman Kristiani ia tetap hidup dalam iman, pengharapan, dan kasih kepada Tuhan.

Sejak tahun 1960-an, Pendeta Leon Dillinger meninggalkan tanah kelahirannya di Amerika Utara. Ia datang ke tanah Papua, khususnya ke Mulia, (kini) kota Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah.

Kehadirannya bukan sekadar sebagai seorang misionaris. Ia juga sebagai seorang hamba Tuhan yang menanamkan kasih Kristus, firman Tuhan, dan nilai-nilai iman yang mendalam di tengah masyarakat.

Salah satu warisan pelayanan yang sangat berharga adalah perannya sebagai pendiri Sekolah Alkitab Bahasa Lani di Mulia. Melalui pelayanan ini, firman Tuhan diajarkan dan dikembangkan dalam bahasa ibu masyarakat Lani, sehingga kebenaran Injil dapat semakin dipahami, dihayati, dan diwujudkan dalam kehidupan umat Tuhan.

Sepanjang hidupnya, Pendeta Leon Dillinger dikenal sebagai salah satu perintis pelayanan Gereja Injili di Indonesia (GIDI) yang dengan penuh ketekunan. Ia membangun jemaat, mendidik dan mempersiapkan hamba-hamba Tuhan serta menanam benih iman di berbagai tempat.

Benih pelayanan yang ditanamnya telah bertumbuh dan memberikan buah bagi perkembangan pelayanan GIDI, khususnya di Wilayah Yamo dan seluruh wilayah Puncak Jaya.

Namanya akan selalu dikenang dalam sejarah perjalanan pelayanan GIDI sebagai seorang misionaris yang menyerahkan hidupnya bagi pekerjaan Tuhan dan masyarakat Papua. Pengabdiannya memberi kesaksian bahwa kasih Kristus melampaui batas suku, bangsa, bahasa, dan budaya.

Hari ini, seluruh jemaat GIDI melepas kepergian seorang bapak rohani, guru, sahabat, dan pelayan Tuhan yang sangat dikasihi. Bapak Pendeta Leon, “Engkau telah menyelesaikan perjalananmu di dunia dan kembali kepada Bapa Surgawi yang selama hidupmu engkau kasihi dan layani.”

Walaupun secara fisik kami kehilangan kehadiranmu, jejak pelayanan, kasih, kesetiaan, pengorbanan, dan teladan hidupmu tidak akan pernah pudar. Semuanya akan tetap dikenang dan menjadi warisan iman bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang.

Kami, keluarga besar STT GIDI Papua, bersama seluruh umat GIDI, khususnya Wilayah Yamo dan masyarakat Puncak Jaya, turut merasakan dukacita yang sangat mendalam. Namun, sebagai orang percaya, kita tidak berdukacita seperti orang-orang yang tidak mempunyai pengharapan.

Kami percaya bahwa di dalam Kristus, kematian bukanlah akhir dari segala sesuatu. Perjalanan pelayananmu telah selesai, perjuangan imanmu telah engkau jalani dengan setia, dan kini engkau beristirahat dalam damai di hadapan Tuhan.

Sebagaimana firman Tuhan, “Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini. Sungguh, kata Roh, supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.” (Wahyu 14:13).

Selamat jalan, Nombo Kugur Waken. Selamat beristirahat, bapak rohani, guru, perintis, dan sahabat yang kami kasihi. Terima kasih atas kasihmu kepada Papua. Terima kasih atas pengorbananmu bagi pekerjaan Tuhan.

Terima kasih atas benih Injil yang telah engkau tanam. Terima kasih atas teladan iman dan kesetiaan yang telah engkau wariskan.

Imanmu menjadi terang, kasihmu menjadi warisan, dan pengabdianmu menjadi kesaksian bagi generasi kami. Kiranya Tuhan menghibur dan menguatkan keluarga yang ditinggalkan, seluruh keluarga besar, rekan-rekan pelayanan, serta seluruh umat Tuhan yang merasakan kehilangan ini.

Kami percaya, pada waktu Tuhan yang telah ditentukan, setiap orang yang tetap setia di dalam Kristus akan dipersatukan kembali dalam Kerajaan Allah yang kekal. Selamat jalan, Pendeta Leon Dillinger. Istirahatlah dalam damai di dalam pelukan kasih Tuhan.

Dari kami, keluarga besar STT GIDI Papua, yang masih melanjutkan perjalanan iman dan pelayanan di bumi, dengan pengharapan akan perjumpaan kembali di dalam kemuliaan Tuhan.

Pendeta Dr Saul Arlos Gurich, S.Th, M.Th

Ketua Program Studi S1 Teologi Kependetaan Sekolah Tinggi Teologi (STT) GIDI Papua