Oleh Agustinus Gereda Tukan
Dosen dan peneliti; tinggal di Merauke, Papua Selatan
DUA dekade bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah gerakan ekonomi rakyat. Pohon sagu di tanah Papua Selatan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bertumbuh.
Ia memperkuat akar di dalam tanah terlebih dahulu. Setelah akarnya kokoh, pohon sagu siap memberi kehidupan bagi banyak orang. Seperti itulah perjalanan Credit Union (CU) Sinar Papua Selatan.
Perayaan ulang tahun ke-20 pada Kamis, 20 Agustus 2026 menjadi momen penting. Ini bukan sekadar seremoni angka. Momen ini adalah refleksi atas sebuah perjuangan panjang menuju kemandirian.
Dalam Ekaristi memperingati dua dekade perjalanan ini, dengan mengusung tema Bersatu Maju Bersama Credit Union Ketua CU Sinar Papua Selatan RD Agustinus Kia Wolomasi Pr menitip sebuah pesan kunci.
Ia menyebut, ada dua fondasi utama yang menjadi penopang gerakan ini di masa akan datang. Kedua fondasi tersebut adalah ‘kesetiaan’ dan ‘hati yang baru’. Pesan ini sangat menyentuh dan kontekstual.
CU Sinar Papua Selatan bukan sekadar lembaga simpan-pinjam (microfinance). CU adalah gerakan moral. CU menjadi saksi nyata dari kasih dan keadilan ekonomi berbasis persekutuan.
Namun, di balik perayaan ini, kita perlu bertanya secara jujur: bagaimana menyatukan komitmen rohani dengan kenyataan lapangan yang tidak selalu mudah?
Dua Dekade Menembus Trauma dan Keraguan
Harus diakui perjalanan selama 20 tahun ini bertabur onak dan duri atau tantangan. Salah satu hambatan terbesar di lapangan adalah rasa ragu dari calon anggota maupun anggota masyarakat. Banyak orang merasa trauma untuk bergabung dalam wadah CU itu.
Trauma ini bukan tanpa alasan. Masyarakat Papua Selatan kerap menyaksikan kemunculan berbagai lembaga keuangan non-pemerintah yang berakhir tragis. Lembaga-lembaga tersebut ternyata tidak sehat, tidak transparan bahkan merugikan dan melarikan uang nasabah.
Kondisi tersebut membekaskan luka dan rasa tidak percaya. Menyakinkan masyarakat agar mau menjadi anggota CU bukanlah pekerjaan atau perkara mudah. Dinding keraguan itu tebal dan tinggi. Namun, di tengah situasi yang sulit itu, benih harapan tidak pernah padam.
CU Sinar Papua Selatan bertahan karena ada deretan orang yang mau berkorban. Mereka adalah para pengurus, manajemen, dan khususnya para pangkur, istilah khas bagi para aktivis CU di lapangan. Seperti penangkur sagu yang bekerja keras memeras sari kehidupan dari batang pohon, para pangkur CU bekerja tanpa lelah.
Mereka bergerak dengan kesetiaan, kerelaan, dan ketulusan hati. Mereka tidak sekadar mencari keuntungan pribadi, tetapi terpanggil untuk melayani dan merawat kepercayaan masyarakat.
Kesetiaan: Ketahanan dari Pesisir
Kitab Suci mengajarkan bahwa kesetiaan selalu melewati ujian. Tokoh-tokoh seperti Rut, Elia, dan Maria menunjukkan nilai kesetiaan tersebut. Bagi mereka, kesetiaan bukanlah sikap pasif. Kesetiaan adalah keberanian untuk terus berjalan di tengah ketidakpastian.
Masyarakat Papua Selatan bisa melihat gambaran kesetiaan ini pada para nelayan pesisir. Setiap pagi, mereka pergi melaut. Cuaca di laut sering kali tidak menentu. Gelombang bisa datang menghadang sewaktu-waktu.
Meski demikian mereka tetap berangkat. Mereka melaut bukan karena laut selalu tenang dan bersahabat. Mereka melaut karena ada tanggung jawab keluarga yang harus dipenuhi.
Semangat ketahanan inilah yang dihidupi oleh gerakan CU. Kesetiaan ber-CU hadir melalui tindakan sederhana yang konsisten. Pertama, setia mengangsur simpanan rutin setiap bulan.
Kedua, setia mengembalikan pinjaman tepat waktu sebagai bukti kejujuran. Ketiga, setia melayani bagi para pengurus, manajemen, dan pangkur dengan penuh kerelaan.
Tanpa kesetiaan, nilai gotong royong akan hilang. CU bisa bergeser menjadi sekadar lembaga keuangan yang dingin dan berjarak dari rakyat.
Hati Baru: Keberanian Bertransformasi
Namun, kesetiaan saja tidak cukup. Nabi Yehezkiel pernah menegaskan janji Tuhan: “Aku akan memberi kamu hati yang baru…” (Yeh 36:26). Perkembangan zaman menuntut pembaharuan cara pandang.
Kesetiaan tanpa hati yang baru akan terjebak dalam rutinitas yang kaku. Sebaliknya, hati yang baru tanpa kesetiaan hanya menjadi angan-angan tanpa hasil. Hati yang baru dalam CU Sinar Papua Selatan berarti keberanian untuk berubah. Perubahan tersebut mencakup mentalitas dan cara kerja.
Pertama, dari nasabah menjadi pemilik: anggota tidak lagi menganggap CU sebagai tempat meminjam uang semata. Anggota adalah pemilik sah yang ikut menjaga keberlanjutan lembaga.
Kedua, keterbukaan pada teknologi: anggota dan pengurus mau belajar literasi keuangan modern. Semua pihak belajar memanfaatkan layanan digital, seperti mobile banking, kearsipan elektronik, hingga aplikasi Escete, tanpa mengabaikan pendekatan kekeluargaan.
Ketiga, saling memaafkan dan membangun: semua elemen mau belajar dari kekurangan masa lalu. Anggota dan pengurus saling memaafkan, lalu bersatu mendukung kepengurusan yang baru.
Masyarakat lokal paham betul tradisi merawat kebun. Mereka membersihkan semak tua agar tunas sagu baru dapat tumbuh subur. Memiliki hati yang baru berarti membersihkan prasangka dan cara kerja lama. Dari sana, tunas-tunas kemajuan baru bisa tumbuh pesat.
Bersatu Maju: Aksi Nyata dan Dampak Sosial
Kesetiaan dan hati baru menyatu dalam semangat “Bersatu Maju”. Bersatu artinya meruntuhkan sekat-sekat pemisah. Di dalam CU, tidak ada perbedaan suku, agama maupun golongan.
Pengurus, pendamping, ‘pangkur, dan anggota duduk bersama dalam satu meja. Jika ada perbedaan pendapat, masalah diselesaikan melalui musyawarah secara santun. Persatuan yang kokoh akan melahirkan kemajuan yang nyata.
Memasuki usia ke-20, ukuran keberhasilan CU tidak hanya terlihat dari pertumbuhan aset. Indikator utamanya adalah manfaat nyata bagi kehidupan anggota.
Pertama, jangkauan pelayanan yang makin meluas hingga ke distrik-distrik terpencil di Papua Selatan. Kedua, dukungan beasiswa pendidikan bagi anak-anak anggota CU. Ketiga, pendampingan usaha kecil untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Akhirnya, memasuki usia 20 tahun, CU Sinar Papua Selatan telah membuktikan diri sebagai wadah perjuangan ekonomi rakyat yang tangguh. Kesetiaan menjaga gerakan ini agar tidak mundur. Hati yang baru membuat gerakan ini terus berjalan maju.
Melalui perayaan syukur ini, seluruh keluarga besar CU diajak memperbaharui komitmen bersama. Menanam sagu keadilan ekonomi memang membutuhkan waktu, pengorbanan, dan kesabaran.
Namun, jika kita bekerja bersama dengan hati yang baru dan kesetiaan yang utuh, panen Keadilan Ekonomi akan dirasakan oleh seluruh masyarakat Papua Selatan.










