Imam Katolik Kedua Orang Asli Papua Rayakan Ulang Tahun, Ditahbiskan Uskup Maria Münninghoff, OFM

Imam Katolik Keuskupan Timika RD Theodorus VE Makai, Pr. Foto: Dok. Natan Tebai/WAG PK Komda Papua Tengah

NABIRE, ODIYAIWUU.com — Imam Katolik Keuskupan Timika RD Theodorus VE Makai, Pr, Jumat (14/8) merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77. Doa dan ucapan syukur kepada Tuhan atas ulang tahun datang dari umat Katolik yang mengenal Pastor Theo sebagai imam yang berjasa dalam perkembangan iman umat dan kemajuan tanah Papua.

Bendahara Pemuda Katolik Komda Papua Tengah Kristin Waine mengaku, ia sungguh bersyukur dan bangga memiliki Pastor Theo Makai. Pastor Makai diakui Kristin setia mendengar dan menjawab panggilan Tuhan melayani umat dan masyarakat tanah Papua, khususnya di Keuskupan Jayapura dan Timika.

“Tuhan sungguh baik menyertainya dalam tugas perutusan menggembalakan umat dan melayani masyarakat tanah Papua di mana ia ditugaskan. Selamat Ulang Tahun, Patoga Theo. Tuhan berkati selalu,” ujar Kristin Waine di Nabire, Papua Tengah, Jumat (14/8).

Doa dan ucapan ulang tahun Pastor Makai disampaikan Sekretaris Komda Pemuda Katolik Papua Tengah Natan Tebai. Natan, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Dogiyai, menyebut Pastor Makai merupakan imam Katolik pertama suku Mee.

“Selamat Ulang Tahun, Pastor Theo. Doa kami Pemuda Katolik Papua menyertaimu, pastor pertama orang Mee,” kata Natan di Mowanemani, kota Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah, Kamis (14/8).

Pemilik akun Instagram, theo_iyai_junior_19 menulis, Pastor Theodorus VE Makai, Pr adalah seorang imam Katolik yang memiliki peran penting, terutama bagi Suku Mee di Papua. Pastor Makai dikenal sebagai imam pertama dari suku Mee dan imam kedua orang asli Papua.

Pastor Makai di Apogomakida 14 Agustus 1949 (meskipun ada catatan lain yang menyebut 1953). Setelah pendidikan dasar di kampung halaman, ia melanjutkan studi di seminari menengah, seminari tinggi lalu filsafat dan teologi sebelum ditahbiskan menjadi imam.

Pastor Makai ditahbiskan Uskup Jayapura Mgr Herman Ferdinand Maria Münninghoff, OFM di Lapangan Sepak Bola Moanemani, Dogiyai pada 24 April 1980. Peristiwa tahbisan menjadi tonggak sejarah bagi Gereja Katolik di wilayah Meeuwodide dan tanah Papua.

Pastor Makai memulai tugas sebagai imam muda di Paroki Santo Yusuf Enarotali tahun 1980-1982. Kemudian menjadi pembina kaum muda di Sekolah Guru Bawah (SGB) Kokonau tahun 1982-1985 dan melayani umat di Paroki Santo Yohanes Pemandi Waghete, Deiyai tahun 1985-1988. Saat bertugas di Waghete ia memperkenalkan katekismus dalam bahasa Mee.

Selama menjadi imam, ia rutin mengunjungi kampung-kampung terpencil di Dogiyai tahun 1988-1992 dan mendampingi umat urban di Jayapura tahun 1992–1997. Saat melayani umat di Timika tahun 1997-2004 ia menghadapi tantangan sosial dinamika tambang PT Freeport Indonesia.

Sejak 2010, Pastor Theo menjadi imam senior dan pengajar budaya Mee. Ia menulis diktat Seri Gali Nilai Positif Budaya Papua pada 2016 di mana dalam diktat itu ia menegaskan Meeuwoo sebagai identitas resmi suku Mee.

Pastor Makai dikenal sebagai guru dan penulis yang mengumpulkan cerita rakyat, pepatah, dan filosofi hidup Suku Mee. Baginya, iman dan budaya tak terpisahkan. Tak berlebihan, setiap merayakan ulang tahun Pastor Makai umat bahagia dan larut dalam ucapan syukur kepada Tuhan kepada gembala kesayangan ini.

Kehadiran umat dari berbagai wilayah Papua saat Pastor Makai merayakan ulang tahun merupakan wujud syukur kepada Tuhan sekaligus bentuk penghormatan atas dedikasi panjang sang imam sebagai pelayan Sabda.

Pastor Makai adalah simbol kebanggaan dan teladan bagi masyarakat Mee khususnya umat Katolik. Semangat pelayanan Pastor Makai tak pernah padam dimakan usia. Bahkan di usianya memasuki masa senja, ia tetap menjadi pewarta iman sekaligus teladan teladan hidup bagi umat.

Perayaan ulang tahun ke-77 Pastor Makai sekaligus mengingatkan pada Pastor Soter Nautje, Pr, imam Katolik pertama orang asli Papua dari Suku Marind, Papua Selatan. Pastor Nautje adalah imam Katolik pertama orang asli Papua. Ia lahir 7 Oktober 1945 di Pulau Kimaam, Merauke, Papua Selatan.

“Bapa Pastor (Alm) Soter Nautje ditabiskan menjadi imam Katolik untuk Keuskupan Agung Merauke di Kimaam tahun 1973,” ujar Padre Berto Namsa, imam Saudara Dina atau Ordo Fratrum Minorum (OFM).

Setelah ditabisankan menjadi imam, kata Berto, Pastor Soter betugas di beberapa tempat di wilayah kerja Keuskupan Agung Merauke. Namun, ia memutuskan untuk meninggalkan panggilan hidupnya sebagai seorang imam dan kembali hidup sebagai sebagai seorang awam.

Semasa hidup, Pastor Soter dikenal sebagai buah pertama orang asli Papua yang menjadi imam Katolik pertama. Ia juga dikenal sebagai tokoh cendikiawan dan tokoh pendidikan di Merauke.

Pastor Soter sempat dipercaya menjabat Ketua Yayasan Santo Antonius Merauke (Yasanto) dan salah satu tokoh pencetus STTM ke Universitas Muamus Merauke, yang dikenal hingga saat ini.

Pastor Soter meninggal di Merauke 4 November 2002. Ia meninggal dalam usia 57 tahun. Suatu catatan sejarah singkat dari Almarhum Soter Nautje yang perlu dikenang kembali. Ia mencatat sejarah sebagai imam Katolik pertama orang asli Papua yang berasal dari Kimaam, Merauke.

Kristin Waine mengatakan, Pastor Makai merupakan Angkatan pertama Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura tahun 1969. Pastor Makai seangkatan rekan-rekannya, Damian Surinde, Tom Beananl, Anna Samkakay, Cyril Frabun, Andy Munapa, Ignas Ainen, dan Wim Iyai.

Sedangkan ayahnya, Piet Waine, merupakan angkatan ketiga STFT Fajar Timur tahun 1971. Piet Waine seangkatan dengan teman-temannya, Wim Ohowutun, Nella Renwarin, Damien Surimbe, Cantius Kuktem, Victor Motombri, Titus Tenyap, Kees van Dijk, Theniyanti Margaretha, Tony Rahawarin, dan Mikhael Pue.

“Bapak saya diakon tertahbis pertama Keuskupan Jayapura dari dua diakon. Setelah Timika jadi keuskupan mandiri. Bapak ditahbiskan jadi diakon permanen bersama Pastor Natalis (Nato) Gobay, Pr di Lapangan Theo Makai Enarotali tahun 1988. Lapangan ini diabadikan dari nama Pater Theo Makai Pr,” kata Kristin. (*)