OPINI  

Mama Sinta

Vansianus Masir, Mahasiswa Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) ‘APMD’ Yogyakarta. Foto: Istimewa

Oleh Vansianus Masir

Mahasiswa Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) ‘APMD’ Yogyakarta

YASINTA Moiwend (Mama Sinta) adalah tokoh perempuan adat dari Suku Marind Anim, Merauke, Papua Selatan. Selama ini ia dikenal sebagai pejuang lingkungan yang lantang menyuarakan ancaman Proyek Strategis Nasional (PSN) food estate terhadap tanah adat dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Atas kegigihan dan keberaniannya itu, ia meraih penghargaan SK Trimurti Award 2025 dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia. Penghargaan ini diberikan secara khusus juga kepada perempuan seperti Mama Sinta.

Ia dinilai memiliki kegigihan, keberanian, dan integritas tinggi dalam memperjuangkan hak asasi manusia (HAM), kesetaraan gender, kebebasan berekspresi serta pembelaan terhadap kelompok masyarakat yang tertindas.

Dedikasi dan keberaniannya juga terdokumentasi melalui Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita dengan Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Jehan Paju Dale selaku sutradara. Tetapi beberapa hari ini video pernyataan Mama Sinta beredar luas di media sosial dan langsung mengguncang publik.

Mama Sinta mendesak agar penayangan dokumenter itu dihentikan. Ia menyatakan kecewa terhadap Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua-Merauke yang selama ini mendampinginya dan mengaku merasa dimanfaatkan sebagai komoditas kampanye.

Puncaknya, pada 29 Mei 2026, Mama Sinta melaporkan Direktur LBH Papua-Merauke Johnny Teddy Wakum, ke Polda Metro Jaya atas dugaan pelanggaran data pribadi dan pemanfaatan identitasnya tanpa izin.

Sebagian kalangan pun menghakimi Mama Yasinta dan menudingnya sebagai pengkhianat perjuangan, dilabeli “otak miring” hingga menjurus menjadi serangan rasisme yang mendegradasi martabatnya sebagai manusia dan orang asli Papua.

Di sisi lain, sutradara film ini menyatakan menghormati pilihan Mama Sinta. “Bahkan jika semua yang disampaikan murni atas kehendak sendiri, bukankah setiap orang berhak membuat pilihan?” tulis mereka lewat unggahan di Instagram pada Senin (25/5).

Perbaikan Sistem

Menghakimi Mama Sinta atau siapa pun yang berada dalam posisi serupa merupakan bentuk penyederhanaan yang berbahaya dan menyesatkan. Seolah-olah situasi pelik di Papua dan kompleksitas persoalan selama puluhan tahun di sana bergantung pada keteguhan hati dan konsistensi satu orang saja.

Selain tidak adil kepada individu yang bersangkutan, penilaian seperti ini juga justru mengalihkan fokus, menyedot energi dan perhatian kita dari pokok persoalan yang sesungguhnya jauh lebih besar.

Mama Sinta hanyalah manusia biasa dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ia bukan simbol atau perwujudan absolut dari semua yang benar dan salah dalam gerakan pembebasan Papua.

Gerakan sosial yang sehat dan punya daya tahan panjang tidak akan pernah menggantungkan hidup dan matinya perjuangan pada kesempurnaan moralitas individu-individu di dalamnya.

Keberlanjutan sebuah perlawanan untuk memperbaiki keadaan bertumpu pada kokohnya solidaritas antarsesama masyarakat sipil, analisis struktural yang tajam, dan kemampuan untuk membongkar sistem yang timpang, lalu menyusunnya kembali dengan berlandaskan spirit kemanusiaan, perdamaian dan kemakmuran bersama.

Menghakimi Mama Sinta secara berlebihan tidak akan akan menyelesaikan akar persoalan yang ada, tetapi malah memperburuk suasana dan melemahkan sendi-sendi perjuangan itu sendiri.

Papua bukan sekadar soal Mama Sinta, melainkan sistem negara yang sekian lama membangun hubungan yang asimetris dengan wilayah itu serta pendekatan pembangunan yang meminggirkan masyarakat adat dan mengeruk kekayaan alamnya.

Selain itu, penting untuk disadari bahwa setiap individu, termasuk mereka yang paling teguh dan berani sekalipun, tidak bergerak dalam ruang hampa. Pilihan seseorang senantiasa dibentuk, dibatasi, dan dipengaruhi oleh banyak faktor eksternal.

Sebut saja tekanan ekonomi-politik, keterbatasan akses terhadap informasi dan perlindungan hukum, intimidasi dari pihak-pihak yang merasa terganggu maupun tawaran pragmatis yang sengaja disodorkan sistem kekuasaan tempat mereka hidup dan berjuang setiap hari.

Perlawanan Mama Sinta terhadap kekuatan gabungan korporasi, negara, dan aparatus hukum yang kerap berpihak kepada modal tentu hal yang sangat manusiawi. Apabila kemungkinan ia mengalami kelelahan, tekanan mental-psikologis, kebingungan, disorientasi atau alasan-alasan lain yang sepenuhnya tidak kita ketahui.

Apapun situasi yang terjadi sekarang ini, jika kita melihat rekam jejaknya, semangat Mama Sinta untuk memperjuangkan keadilan, kebenaran dan hak atas tanah leluhur tetaplah menjadi teladan hidup yang sangat berharga dan perlu diteladani dengan sungguh-sungguh.

Dalam perjuangan —entah di Papua atau di mana saja— kita tidak boleh terlalu mudah memuliakan sosok atau figur tertentu menjadi dewa atau cepat mendiskreditkannya ketika pindah haluan, melainkan tetap fokus melawan sistem yang membuat posisi rakyat menjadi lemah dan terjajah secara bersama-sama.