Sosok  

Obituari: Marius Togo Petege: Guru, Petani Kopi, dan Agen Penerbangan Misi Katolik di Papua

Almarhum Marius Togo Petege. Foto: Istimewa

Semasa hidup Marius bukan sekadar guru yang mendedikasikan diri bagi anak didiknya melalui pendidikan. Ia juga petani kopi sekaligus agen penerbangan Misi Katolik. Maut menjempurnya di usia yang menyentuh angka 77 tahun.

MASYARAKAT tanah Papua terutama di wilayah Meepago dan umat Kristiani, Jumat (22/5) pagi berduka. Marius Togo Petege, seorang guru yang sangat berjasa dalam dunia pendidikan meninggal dalam usia 77 tahun.

Marius tak sekadar guru yang mengorangkan banyak generasi muda orang asli Papua yang saat ini mengabdi di berbagai bidang tugas. Semasa hidup Marius juga dikenal sebagai petani kopi dan agen penerbangan Misi Katolik di bumi Cenderawasih.

Saat Marius tutup mata selamanya di Nabire, kabar duka itu segera merambat hingga kampung-kampung. Seorang guru, petani, dan agen penerbangan Misi semasa muda menghadap Tuhan, sang Pemilik Kehidupan.

Duka sangat terasa di tengah umat Katolik, kerabat, dan masyarakat Mapia, terutama orang-orang yang pernah mengenal ketulusan mendiang Marius semasa hidupnya. Ia meninggal setelah berjuang melawan sakit yang diderita.

Banyak orang mengenal Almarhum sebagai pribadi baik hati, pekerja keras, mencintai masa depan anak-anak melalui tugas serta pengabdian di jalur pendidikan. Semasa hidup ia meninggalkan legasi, warisan indah yang tentu sulit tanggal dalam memori kolektif masyarakat yang ia layani.

Marius lahir tahun 1949 di Kampung Timeepa, Distrik Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah. Ia putra Tetaugi Petege. Marius dibesarkan di wilayah pegunungan Mapia di kala akses pendidikan dan transportasi masih sangat terbatas.

Masa kecilnya dihabiskan di tengah kehidupan masyarakat pedalaman Papua yang sederhana, hidup dalam ikatan persaudaraan yang kuat, dan semangat tolong-menolong yang kuat.

Tujuh Hari Jalan Kaki ke Vervolgschool

Semangat Marius untuk mengenyam pendidikan lebih tingga tumbuh sejak usia muda. Pada akhir 1950-an, ketika kesempatan sekolah masih sangat langka bagi anak-anak pegunungan Papua.

Karena itu, orang tua dan para imam Katolik mendorong generasi muda untuk keluar kampung demi menempuh pendidikan. Dalam semangat itulah, Marius kecil bersama beberapa rekannya berjalan kaki dari Timeepa menuju Kokonao, wilayah pesisir (kini) Mimika Barat.

Perjalanan itu bukan perjalanan biasa. Dari Timeepa menuju Kokonao, pesisir Mimika Barat membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga delapan hari berjalan kaki melewati hutan belantara, sungai, rawa, dan medan berat Papua.

Perjalanan panjang itu menjadi saksi keteguhan hati seorang anak kampung Marius yang ingin belajar demi masa depan. Kala itu, Kokonao dikenal sebagai salah satu kota tua penting di pesisir selatan Papua dan menjadi pusat pelayanan pendidikan dan Misi Katolik bagi berbagai suku di wilayah pedalaman.

Di negeri suku Mimikawee itulah Marius memulai perjalanan intelektualnya. Pada tahun 1958 Marius dan teman-teman seusinya masuk Vervolgschool atau VVS Kokonao. Vervolgschool merupakan sekolah sambungan atau sekolah lanjutan setingkat Sekolah Dasar (SD) yang didirikan Pemerintah Belanda bagi anak-anak pribumi di wilayah Hindia Belanda.

Marius dan teman-temannya menyelesaikan Vervolgschool di Kokonao tahun 1964. Setelah itu Marius melanjutkan pendidikan ke Sekolah Guru Bawah (SGB) Biak hingga tamat tahun 1967. Keinginannya menjadi seorang pendidik tidak berhenti di sana. Pada tahun 1969 ia kembali melanjutkan pendidikan guru di Sekolah Guru Atas (SGA) Biak.

Perjalanan pendidikan itu kembali mengalami perubahan ketika SGA dan SGB Biak dipindahkan ke Waena, Jayapura tahun 1971. Bersama beberapa putra terbaik Meepago (wilayah adat Papua Tengah) seperti Sofia Petege, Leo Wakei, Willem Degei, Natalis Kotouki, Feliks Tebai, dan Yustinus Wakei, ia ikut pindah dari Biak ke Jayapura demi melanjutkan pendidikan.

Yustinus Wakei, Willem Degei, dan Natalis Kotouki melanjutkan ke kelas III Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Abepura. Sedangkan Marius bersama Sofia Petege, Leo Wakei, dan Feliks Tebai melanjutkan pendidikan di SPG Taruna Bhakti Waena hingga tamat tahun 1972. Mereka tercatat sebagai angkatan pertama setelah perubahan nama sekolah menjadi SPG Taruna Bhakti.

Mengabdi di Tanah Leluhur

Selepas menyelesaikan pendidikan guru, Marius langsung mengabdikan diri di SD Yayasan Pendidikan Persekolahan Katolik (YPPK) Bomomani, Dogiyai, bersama rekan guru Kasmerius Wakei yang telah lebih dahulu mengajar di sekolah itu sejak 1967. Kehadiran mereka menjadi bagian penting dari sejarah pendidikan dasar di wilayah pedalaman Mapia.

Pada tahun 1978 SD YPPK Bomomani ditingkatkan menjadi sekolah hingga kelas enam. Perubahan itu membawa dampak besar bagi pendidikan anak-anak di Abaimaida dan Bomomani yang sebelumnya harus melanjutkan kelas lima dan enam ke Timeepa atau Modio.

Akhir 1978, Marius dipindahkan ke SD YPPK Santa Maria Timeepa. Di sekolah inilah namanya kemudian dikenal luas sebagai salah satu guru terbaik di wilayah Mapia. Ia mengabdi hingga memasuki masa purna tugas tahun 2009.

Walaupun telah pensiun sebagai pegawai, semangat pengabdiannya tidak pernah padam. Setelah pensiun ia masih melanjutkan tugas sebagai guru kontrak di SMP Negeri 1 Mapia di Timeepa hingga tahun 2014. Baginya, mendidik anak-anak Papua adalah panggilan hidup yang tidak selesai hanya karena usia.

Sebagai guru kelas enam, ia dikenal menguasai hampir seluruh mata pelajaran. Namun bidang yang paling menonjol dari dirinya adalah Matematika. Ia sangat mahir dalam pelajaran tersebut dan mampu menjelaskan soal-soal sulit dengan cara sederhana sehingga mudah dipahami murid.

Banyak murid mengenang bagaimana beliau menulis hitungan panjang di papan tulis sambil menjelaskan langkah demi langkah dengan sabar. Tidak sedikit anak yang akhirnya menyukai Matematika karena cara mengajarnya yang tenang dan sistematis.

Memahami Peta Dunia

Selain Matematika, ia juga memiliki wawasan luas dalam bidang geografi. Ia memahami wilayah Papua secara rinci, mengenal gunung, sungai, distrik, batas wilayah, hingga kondisi sosial berbagai daerah. Pengetahuannya bahkan meluas hingga mengenal negara-negara dunia, batas benua, ibu kota negara, dan perkembangan internasional.

Peta dunia menyatu dalam benak seorang Marius. Di ruang kelas sederhana di Timeepa, ia seolah membawa murid-muridnya melihat dunia yang luas. Banyak anak kampung yang pertama kali mengenal peta dunia melalui penjelasannya.

Marius dikenal sebagai guru yang rajin membaca buku. Ia terus memperbarui pengetahuan dengan membaca buku-buku terbaru agar materi yang diajarkan tidak tertinggal perkembangan zaman. Semangat belajarnya menjadi teladan bagi banyak guru muda.

Metode mengajarnya sangat kontekstual. Ia selalu menghubungkan pelajaran dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Matematika dijelaskan melalui hasil kebun dan perdagangan. Sedangkan Geografi dijelaskan melalui gunung, lembah, dan sungai yang dikenal murid-murid.

Selain sebagai guru, Marius juga pernah menjalankan tugas sebagai petugas atau agen penerbangan sipil Misi Katolik AMA di Timeepa. Associated Mission Aviation (AMA) merupakan pelayanan penerbangan milik Gereja Katolik di Papua yang melayani kebutuhan lima keuskupan di tanah Papua.

Dalam tugas itu Marius membantu pelayanan transportasi udara Misi gereja yang sangat penting bagi daerah-daerah terpencil. Kehadirannya menjadi bagian dari pelayanan kemanusiaan dan pastoral gereja di pedalaman Papua yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Dari Ruang Kelas ke Kebun

Di luar dunia pendidikan dan pelayanan gereja, Marius juga dikenal sebagai petani kopi yang sangat rajin. Ia menyatukan ruang kelas dan kebun di waktu berbeda dalam kesehariannya. Setiap pulang sekolah, ia tidak langsung beristirahat.

Marius pergi ke kebun kopi miliknya untuk membersihkan kebun, merawat tanaman, dan memetik buah kopi. Kebun kopi miliknya mencapai sekitar 1.500 pohon. Dari hasil kebun itulah ia membiayai pendidikan anak-anaknya. Bahkan lebih dari itu, hasil kopi juga digunakan untuk membantu membiayai anak-anak yatim piatu agar dapat bersekolah.

Marius memperlihatkan etos kerja bahwa seorang guru tidak hanya hidup dari gaji, tetapi juga dari kerja keras dan kemandirian. Kebun kopi menjadi simbol perjuangan hidupnya sebagai ayah, guru, dan pelayan masyarakat.

Masyarakat Timeepa mengenal Marius sebagai sosok guru yang bertanggung jawab atas tugas pokoknya,pribadi sederhana, disiplin, dan pekerja keras. Ia tidak banyak bicara tentang dirinya, tetapi seluruh hidupnya berbicara melalui tindakan nyata.

Di mata gereja, Marius adalah pribadi beriman yang setia. Ia hidup dekat dengan pelayanan gereja dan menjadi bagian dari perjalanan umat Paroki Kristus Penebus Timeepa, Dekanat Kamuu-Mapia-Piyaiye (Kamapi), Keuskupan Timika.

Pada Sabtu setelah Tuhan memanggilnya, umat Paroki Kristus Penebus Timeepa bersama Pastor Paroki Y Jesse Belau Pr merayakan Misa Requiem sekaligus memperingati Hari Ulang Tahun Gereja Katolik Masuk Papua ke-132. Dalam Misa itu doa-doa dipanjatkan bagi bagi seorang Marius, guru, petani kopi, dan agen penerbangan Misi Katolik yang sangat berjasa semasa hidup dan mengabdi masyarakat dan umat di atas tanah leluhurnya.

Ungkapan belasungkawa dari Dekan Dekanat Kamapi, Pastor Rufinus DPW Madai, Pr memimpin doa dan penghormatan kepada Marius, guru inspiratif, petani kopi, dan agen penerbangan Misi Katolik yang mempersembahkan diri secara total demi masyarakat dan Papua, tanah leluhurnya hingga ajal menjemputnya.

“Selamat jalan, Bapa Marius Tatogo Petege. Engkau pahlawan tanpa jasa. Selama hidupmu engkau telah menampilkan diri sebagai sosok ayah, guru, dan tokoh bagi kami. Semua yang engkau kerjakan selama masih adalah sebuah pertandingan yang engkau menangkan dari satu pertandingan ke pertandingan yang lain,” ujar Pastor Rufinus Madai Pr.

Kalimat itu mencerminkan seluruh perjalanan dan ziarah hidup Marius yang penuh perjuangan dan pengabdian. Ia menjalani kehidupan dengan kerja keras, ketekunan, dan kesetiaan sampai akhir hayatnya.

Usai Misa Requiem di rumah duka Timeepa, jenazah Marius dimakamkan di dekat rumahnya. Doa umat, tangis keluarga, dan penghormatan masyarakat mengiringi perjalanan Marius, seorang guru yang telah mempersembahkan hidupnya bagi pendidikan anak-anak Papua.

Kepergian beliau bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi kehilangan besar bagi dunia pendidikan Mapia. Namun seorang guru sejati sebenarnya tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup dalam ilmu yang diwariskan, dalam nilai yang ditanamkan, dan dalam generasi yang pernah dididiknya.

Marius Togo Petege telah memperlihatkan bahwa pengabdian terbesar tidak selalu lahir dari tempat besar. Dari pedalaman Timeepa, ia membuktikan bahwa pendidikan, iman, kerja keras, dan cinta kepada sesama mampu mengubah kehidupan banyak orang.

Selamat jalan, Bapa Guru Marius Togo Petege. Engkau telah menyelesaikan pertandingan hidupmu dengan setia. Kiranya Tuhan menerima seluruh pengabdianmu dan menghadiahkan damai kekal di rumah Bapa di Surga.

Semangat pengabdianmu adalah warisan terindah bagi kami semua, generasi muda di atas tanah Papua. “Berbahagialah orang yang mati dalam Tuhan.” (Wahyu 14:13).

ElramoS Petege

Anak murid guru Almarhum Marius Togo Petege