Peringatan Hari Malaria Sedunia, Yayasan Kiwa Papua Timika Ajak Masyarakat Perangi dan Cegah Malaria

Ketua Yayasan Kiwa Papua Timika Gerson Wakerwa. Foto: Istimewa

TIMIKA, ODIYAIWUU.com — Masyarakat Indonesia dan dunia, Sabtu, 25 April memperingati Hari Malaria Sedunia (World Malaria Day) tahun 2026. Peringatan tersebut dicanangkan secara resmi negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) pada Majelis Kesehatan Dunia tahun 2007.

Yayasan Kiwa Papua Timika mengajak masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) bergandengan tangan memerangi sekaligus mencegah malaria di wilayah Mimika. Ajakan tersebut beralasan mengingat Mimika identik dengan malaria.

“Pada peringatan Hari Malaria Sedunia tahun 2026 kami mengajak masyarakat dan seluruh elemen di Mimika bergandengan tangan memerangi dan  mencegah malaria dimulai dari keluarga dan lingkungan sekitar. Rumah kita harus bersih sehingga tidak menjadi sarang nyamuk,” ujar Yayasan Kiwa Papua Timika Gerson Wakerwa di Timika, kota Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Sabtu (25/4).

Menurut Gerson Wakerwa, ajakan tersebut penting sebagaimana disampaikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika, PT Freeport Indonesia, dan para tim medis rumah sakit agar masyarakat dan semua stakeholder bergandengan tangan mencegah malaria sejak dini dimulai dari gerakan hidup bersih keluarga.

“Kita juga diajak menjaga kebersihan lingkungan kita masing-masing, membersihkan genangan air dan kolam agar terhindar dari anapheles, penyebar malaria. Kami juga menghimbau agar warga menggunakan kelambu agar terhindar dari serangan nyamuk,” kata Gerson lebih lanjut.

Gerson mengatakan, malaria tidak hanya terkait langsung terhadap kesehatan masyarakat namun dalam jangka waktu panjang berpengaruh pada kualitas sumber daya manusia (SDM). Anak-anak yang terdampak malaria berisiko mengalami gangguan pertumbuhan, penurunan daya tahan tubuh hingga berdampak pada proses pendidikannya.

“Dalam konteks yang lebih luas, isu malaria juga berkaitan erat dengan masalah gizi. Anak yang sering sakit, termasuk akibat malaria, cenderung mengalami gangguan penyerapan nutrisi, yang berujung dapat memicu stunting dan menurunkan kualitas tumbuh kembangnya,” ujar Gerson.

Sebagai lembaga sosial kemasyarakatan, kata Gerson, pihak yayasan tetap berkomitmen mendukung Program Pemkab Mimika dalam upaya mengurangi atau mengelimikasi kasus malaria di kabupaten ini.

“Kami juga membuka ruang kerja sama atau kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk sektor swasta guna memperkuat langkah bersama dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas malaria,” kata Gerson.

Oleh karena itu, Hari Malaria Sedunia tahun 2026 di Mimika diharapkan tidak sekadar menjadi momentum seremonial tahunan. Lebih dari itu, harus menjadi titik balik kesadaran kolektif dan gerakan masyarakat dan seluruh stakeholder mencegah dan melawan malaria demi masa depan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan berkualitas. (*)