JAYAPURA, ODIYAIWUU.com — Antropolog dan akademisi senior Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura Johszua Robert Mansoben, MA, Ph.D, Rabu (11/2) meninggal di Rumah Sakit Dian Harapan, Jalan Teruna Bakti, Yabansai, Waena, Papua.
“Ijin Bapak dan Ibu. Info duka, Bapa Dr J Mansoben telah meninggal dunia. Jenazah sementara berada di Rumah Sakit Dian Harapan,” ujar Roby Mansoben melalui cuitannya di grup WhatsAps Kabar Papua Selatan, Rabu (11/2) pukul 11.00 WIB.
Dosen Fakultas Ilmu Sosial Politik Uncen Dr Marinus Mesak Yaung menyebut Mansoben adalah tokoh dan akademisi Papua yang merampungkan studi doktoral (S3) di Rijksuniversiteit Leiden, Belanda.
“Pak Jozshua Mansoben memperkenalkan sistem pemerintahan tradisional di Papua dengan tujuh wilayah adat,” ujar Marinus melalui cuitannya di WA Group The Spirit of Papua (SoP) di Jayapura, Papua, Rabu (11/2).
Sedangkan tokoh Papua Dr Manuel Kaisiepo, SIP, MH juga menambahkan, Dr Johszua Robert Mansoben meraih gelar doktor tahun 1994 di Rijksuniversiteit dengan disertasi tentang kepemimpinan dalam sistem politik tradisional Papua.
“Dalam disertasi itu antara lain membahas konsep pemimpin tipe ‘big man’. Disertasinya sudah diterjemahkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (sekarang BRIN) dengan judul Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya tahun 1995,” kata Manuel, Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia Kabinet Persatuan Nasional dan Kabinet Gotong Royong periode 2000-2004.
Dalam Kata Pengantar bukunya, Sistem Politik Tradisional di Irian Jaya, Mansoben menulis buku karyanya tersebut merupakan disertasi yang dipertahankan untuk meraih gelar Ph.D. Rijksuniversiteit Leiden, Negeri Belanda, pada Juni 1994.
Data pendukung seperti data demografi dan jumlah desa di Irian Jaya yang disajikan dalam buku itu dikumpulkan sejak 1988 hingga tahun 1990. Data baru terutama data demografi dari sensus penduduk tahun 1990 dan data tentang pemekaran desa di Irian Jaya sesudah tahun 1990, tidak disajikan dalam buku tersebut. Meskipun demikian ia berharap kekurangan tersebut tidak mengurangi makna dan isi bukunya.
“Mulai dari awal hingga terbitnya buku ini merupakan hasil proses kerjasama yang melibatkan banyak orang. Itulah sebabnya patut untuk disampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis secara langsung atau pun tidak langsung, hingga buku ini dapat mencapai bentuknya seperti sekarang,” ujar Mansoben dalam kata pengantar buku tersebut.
Selamat jalan, Bapak Mansoben. Terima kasih atas dedikasimu semasa hidup untuk masyarakat dan tanah Papua terutama dunia akademik di bumi Cenderawasih. Karya akademikmu menjadi persembahan sekaligus legasi bagi dunia pendidikan. Terima kasih. Damailah di sisi-Nya. (*)










