OPINI  

Refleksi Peringatan HUT ke-63 GIDI Tahun 2026

Pendeta Dorman Wandikbo, S.Th, Dewan Pertimbangan Gereja Injili di Indonesia (GIDI). Foto: Istimewa

Oleh Pendeta Dorman Wandikbo, S.Th

Dewan Pertimbangan Gereja Injili di Indonesia (GIDI)

LAHIRNYA Gereja Injili di Indonesia (GIDI) atas kehendak dan rencana Tuhan maka telah lahir pula gereja pribumi di balik gunung, “honai’ kampung nan sunyi, jauh dari kemajuan dunia, tak terhitung dan tak terpandang namun berharga di mata Tuhan. Pada saat itulah Pulau Papua menjadi incaran sejak lama di abad 13-an.

Namun, Papua, pulau yang didiami 274 suku ini baru dijamah oleh Injil pada pertengahan abad 19. Abad itu merupakan titik awal lahirnya Gereja GIDI sejak para duta Kristus, misionaris APCM UFM RBMU menjejakkan kaki di Papua Pengunungan tahun 1952/1955.

Kiranya yang lemah dikuatkan, yang miskin dan hina dapat diangkat oleh Kasih Karunia dan Kebenaran Tuhan menyertai mereka yang ditandai oleh pertobatan dan pembaptisan orang percaya yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan dan merekapun bersekutu, bertumbuh, berakar, dan berbuah di dalam Dia. Dan dalam waktu Tuhan, mereka disatukan di dalam satu Tubuh Kristus yang secara de facto dinyatakan pada Konferensi Umum Gereja-Gereja Lani pada 12 Februari 1963.

Pernyataan dimaksud sebagaimana dikutip dalam kalimat: “….Karena Tuhan tinggal bersama-sama kami maka kami ingin berdiri sendiri, sebuah tonggak peradaban yang mengubah hidup manusia hitam kriting di tanah ini. Sebuh keputusan iman revolusioner, ekstrim, radikal, dan tanpa suatu era restoriasi, era revival, dan era reformasi bagi umat manusia di negeri ini sepanjang masa. Dengan berjalannya waktu maka Gereja pribumi dapat bertumbuh dan berkembang yang ikuti pula perubahan nama Gereja dari Gereja Injil Irian Barat tahun 1963 menjadi Gereja Injil Irian Jaya 1973 dan kini Gereja Injili di Indonesia tahun 1988.”

Atas dasar keputusan itulah maka terbentuklah sebut Gereja pribumi yang disebut Gereja independen, otonom, mandiri, dan demokratis dengan sistim pemerintahan kongresional dan presbiterian. Sebuah keputusan spektakuler yang diproklamasikan oleh pendiri pada detik detik lahirnya Gereja Injili di Indonesia pada 12 Februari 1963 adalah “kami ingin berdiri sendiri”.

Gereja tanpa Pengijilan Mati

HUT ke-63 GIDI tahun 2026 membuktikan bahwa Gereja GIDI sudah dewasa dalam Misi dan secara fundamental bertanggungjawab untuk menjangkau jiwa-jiwa dalam dunia global. Tujuan penginjilan adalah Gereja yang berorientasi pada Amanat Agung.

Dahulu orangtua sangat sederhana dengan mengenakan busana koteka dan sali tetapi mereka membuat jalan dan memberikan pedoman dan pengawasan kepada program Misi gereja. Mereka adalah orang-orang kunci yang bertanggung jawab untuk menggerakkan gereja dalam misi.

Pekerjaan mereka bukan melakukan semua pekerjaan. Pekerjaan mereka adalah saling menghormati satu sama lain, mendorong, melatih, dan menggerakkan anggota jemaat sehingga lebih efektif dalam penginjilan lokal, komunikasi antara para penginjil dan badan Misi UFM, APCM, dan RBMU sangat intens untuk memajukan penginjilan di seluruh Papua dan di luar Papua.

Penginjilan belum selesai karena penginjilan adalah perintah dan amanat Agung Yesus Kristus kepada Gereja: “pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” dan Ia akan menyertainya sampai akhir zaman (Matius: 28:19-20).

Penginjilan belum selesai karena seluruh penduduk bumi sekarang berjumlah 8,3 miliar orang.  Dari jumlah itu umat Kristen Katolik dan Kristen Protestan berjumlah 2,4 miliar orang. Masih ada 6 miliar penduduk bumi yang menolak Yesus Kristus menjadi Tuhan dan juru selamat.

Penginjilan belum selesai karena jika Gereja berhenti misi penginjilan maka berita-berita dan propoganda setan dan antek-anteknya (berlabel globalisasi, theology kemakmuran, aliran troto blesing, westernisasi, dan pengaruh eksternal) yang akan mempengaruhi manusia mengakibatkan Gereja kehilangan fokus.

Mengerjakan

Misi Penginjilan perlu memberikan kesempatan untuk keterlibatan dalam penginjilan dunia. Dalam beberapa hal, ini berarti bahwa misi Penginjilan mengembangkan suatu pelayanan lintas budaya dan menarik anggota untuk mau terlibat.

Juga mengarahkan jemaat pada Penginjilan misi, akan tetapi pokok persoalannya adalah bahwa Misi Penginjilan tidak bisa berjalan maksimal kalau hanya pada memberikan informasi atau sekadar momen mengumpulkan uang.

Lebih dari itu ialah menggerakkan jemaat melakukan seminar-seminar, mendidik, mengajarkan Alkitab, memahami doktrin dan mengetahui sejarah perjalanan misi Gereja dari GIB GIIJ sampai kini disebut GIDI.

Gereja membawa perubahan paling beradap dalam sejarah peradaban umat manusia Papua. Gereja mengangkat harkat dan martabat manusia papua sebagai ciptaan Tuhan. Gereja menemukan orang asli Papua dan hadir di tengah-tengah mereka sebagai sahabat, ayah, mama, kaka, saudara dan sebagai keluarga.

Gereja mengajarkan bahwa semua manusia sama dan setara di hadapan Tuhan. Gereja mengajarkan pendidikan, Kesehatan, dan ekonomi yang rama berbasis kontekstual sosial dan budaya orang asli Papua. Ketika umat Tuhan di tanah Papua dianiaya dan jadi korban hukum, mereka bukan melanggar hukum.

Sesungguhnya yang dihadapi orang asli Papua adalah rasisme, fasisme. kolonialisme, militerisme, imperialisme, kapitalisme, ketidakadilan, pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat, genosida, ekosida, marginalisasi, diskriminasi, dan status politik Papua.

Maka hal itu memberikan rambu rambu kepada orang asli Oapua bahwa Gereja adalah benteng terakhir untuk melawan tangan firaun moderen. Bagi orang Papua Gereja adalah benteng keadilan dan kedamaian.

Alkitab yang diajarkan oleh Gereja adalah satu-satunya benteng kebenaran dan keselamatan, benteng pengampunan dan pengharapan. Gereja mengajarkan umat-Nya berlutut berdoa dan berpuasa.

Gereja tak akan tinggal diam ketika umat kepunyaan Allah diancam.  Gereja berdiri di garis paling depan melawan musuh dengan tongkat kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan.

Kita belajar dari orang asli Afrika Selatan tentang pengalaman spiritualitas mereka keluar dari dampak buruk penerapan sistem apartheid Gereja bersuara dan Tuhan memulihkan negeri mereka.

Peran Pemimpin Gereja

Desmond Tutu, Uskup Agung Emeritus Anglikan Cape Town Primat Afrika Selatan adalah seorang theolog yang menentang keras terhadap kebijakan pemerintah yang diskriminatif dan rasis terhadap orang kulit hitam di benua itu.

Desmond Tutu mengkritik kebijakan pemerintah dengan menyatakan bahwa orang kulit hitam tidak diberi kesempatan untuk memilih dalam hidup mereka sendiri. Malahan mereka menderita di tanah sendiri.

Nelson Mandela memberikan pandangan yang baik tentang Uskup Tutu, Ia mengatakan, Desmond Tutu adalah seorang yang tidak pernah takut untuk menyuarakan suara yang mereka tidak dapat suarakan.

Gereja menjadi benteng terakhir bagi orang Papua. Gereja adalah satu-satunya tempat bagi suku-suku hitam di planet bumi ini untuk dapat mengekspresikan harga diri sebagai ciptaan Tuhan dan kepada dunia bahwa semua manusia setara.

Gereja tak Pernah Terkalahkan

Demikian pula, setiap orang yang berniat jahat dan membunuh umatnya di tanah papua tdk pernah selamat dari hukuman Tuhan.  Anda boleh mencari makan di sini, Anda boleh mencari jabatan di sini, Anda boleh cari pangkat di sini tetapi jangan bunuh orang asli Papua.

Ketika kita berlindung kepada Gereja Tuhan maka Tuhan sendiri akan berperang melawan musuh-musuh kita. Ketika Gereja diganggu maka itu tanda kematian orang asli Papua. Gereja adalah orang Papua, orang Papua adalah Gereja. Sebab ada tertulis, barang siapa membinasakan bait Allah maka Allah akan membinasakan Dia.

Sejak tahun 1961, Papua diintegrasikan secara ilegal ke dalam negara Republik Indonesia.  Saat itu pula negara menganggap Papua sebagai tanah jajahan dan dirampas harta kekayaan laut, darat, dan udara serta tak segan untuk menculik, membunuh dan menghilangkan nyawa manusia pemilik neregi ini.

Akibat dari penjajah ini kerusakan moral dan mental yang ditimbulkan akibat doktrinisasi semangat nasional abu abu, nyaris kehilangan jati diri, kehilangan arah dan mulai mencari atau percaya pada praktek mendadak menjadi kaya, menjadi penguasa, menjadi sukses, dan lain sebagainya.

Setelah itu mereka dijadikan ATM penguasa Jakarta dengan ancaman KPK, dan lain sebagainya. Ini nampak sangat sistematis dan bertujuan mengkerdilkan karakter orang Papua.

Akhirnya dari tulisan ini, penulis mengucapkan: Selamat Merayakan Hari Ulang Tahun ke-63 GIDI Tahun 2026 untuk semua umat yang di pesisir, pulau, lembah, rawa hingga lereng gunung. Kita semua ada karena Injil. Tuhan berkati kita semua.