SENTANI, ODIYAIWUU.com — Sinode Keuskupan Jayapura, Minggu (8/2) resmi ditutup. Perayaan penutupan sinode menjadi momen bersejarah bagi dunia pendidikan di tanah Papua di mana Universitas Katolik (Unika) Fajar Timur Papua resmi diluncurkan di Istora Papua Bangkit, Kabupaten Jayapura, Papua.
Peresmian tersebut menandai transformasi lembaga pendidikan tinggi Katolik yang sebelumnya dikenal sebagai Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura, Jayapura.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah IV Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Dr Suriel Semuel Mofu mengatakan, perubahan status ini merupakan buah dari visi besar Uskup Jayapura Mgr Dr Yanuarius Teofilus Matopai You, Pr.
Suriel mengenang percakapan tiga tahun lalu ketika Uskup putra asli Papua itu menyampaikan keinginan mendirikan Universitas Katolik di tanah Papua.
“Saat itu saya menyampaikan bahwa peluang emasnya adalah dengan mengubah bentuk STFT Fajar Timur. Kini institusi ini telah membuktikan diri siap untuk naik kelas,” ujar Suriel Mofu dalam sambutan sebelum menyerahkan Surat Keputusan (SK) pendirian universitas.
Berdasarkan SK Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia Nomor 30/B/O/2026, Unika Fajar Timur Papua tidak lagi terbatas pada kajian keagamaan, tetapi juga membuka program studi di bidang sains dan teknologi.
Pada tahap awal, universitas ini membuka lima program studi, yakni Program Studi Ilmu Teologi, Farmasi, Teknik Sipil, Teknik Arsitektur, dan Akuntansi, yang dirancang untuk menjawab kebutuhan pembangunan di Papua.
Mulai tahun akademik 2026, Unika Fajar Timur Papua telah membuka pendaftaran mahasiswa baru. Sebagai perguruan tinggi di bawah naungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, universitas ini akan memperoleh dukungan penuh dari pemerintah.
Mofu menegaskan, transformasi ini juga membawa dampak positif bagi kesejahteraan dosen dan akses pendidikan mahasiswa. Pemerintah, ujarnya, mengalokasikan dana sekitar Rp 25 miliar untuk 867 dosen yayasan bersertifikasi. Selain itu, program beasiswa KIP kuliah tetap dilanjutkan, yang sejak 2020 telah menjangkau lebih dari 20.088 penerima di wilayah Papua.
Ia juga menjamin bahwa mahasiswa Unika Fajar Timur Papua akan tetap menjadi prioritas dalam penerimaan beasiswa pemerintah melalui LLDIKTI.
Peresmian universitas ditandai dengan penyerahan SK Mendiktisaintek Prof Brian Yuliarto yang diwakili Dr Mofu kepada Ketua Yayasan STTK Papua Pastor Gabriel Ngga, OFM.
Penyerahan tersebut disaksikan sejumlah pejabat daerah, di antaranya Wakil Gubernur Papua Aryoko Rumaropen, Bupati Jayapura Yunus Wonda serta tokoh pendidikan dan kesehatan seperti Dr drg Aloysius Giyai, M.Kes, dan dosen Universitas Cenderawasih Petrus Bahtiar.
Pihak universitas berharap kehadiran Unika Fajar Timur Papua mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara intelektual dan emosional, tetapi memiliki kecerdasan spiritual yang kuat dan berakar pada nilai-nilai Kristiani.
Ribuan umat Katolik dari empat wilayah dekanat, yakni Dekanat Jayapura, Dekanat Keerom, Dekanat Pegunungan Tengah dan Dekanat Pegunungan Bintang sebelumnya memadati Istora Papua Bangkit, Kabupaten Jayapura dalam Perayaan Akbar Penutupan Sinode Keuskupan Jayapura Tahun 2026 pada Minggu (8/2).
Perayaan Ekaristi penutupan sinode dipimpin langsung Uskup Keuskupan Jayapura Mgr Yanuarius You didampingi para imam konselebran, diakon serta biarawan-biarawati. Kegiatan tersebut dihadiri juga umat dari berbagai paroki di seluruh wilayah dekanat di Keuskupan Jayapura.
Sejak Minggu (8/2) pagi, suasana khidmat dan penuh sukacita sangat terasa. Umat datang berbondong-bondong mengenakan busana bernuansa khas Papua sebagai simbol persatuan, iman serta kecintaan terhadap Gereja lokal.
Dalam homilinya Mgr Yanuarius You menegaskan, sinode merupakan perjalanan iman bersama seluruh umat Allah untuk mendengarkan, berdialog, dan meneguhkan arah dasar pastoral Gereja Keuskupan Jayapura ke depan.
Uskup Matopai dalam homilinya mengajak umat untuk terus menghidupi semangat sinodalitas dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat dengan menjunjung tinggi nilai persaudaraan, pelayanan, dan kepedulian terhadap sesama.
“Sinode bukanlah akhir tetapi awal dari perutusan Gereja untuk berjalan bersama, melayani dengan kasih, dan menghadirkan harapan bagi semua orang,” ujar Uskup Matopai.
Perayaan akbar ini menjadi puncak dari rangkaian panjang proses Sinode Keuskupan Jayapura yang telah berlangsung melalui berbagai tahapan, mulai dari tingkat basis umat hingga pleno sinode. (*)










