Resensi Buku: Otensitas Kebudayaan Suku Lani

Buku Kebudayaan Suku Lani karya Angginak Sepi Wanimbo. Foto: Istimewa

STIGMA atau arus kuat modernisasi dan perubahan yang melanda kebudayan suku Lani kita dihadapkan dengan beberapa pertanyaan substansial. Sanggupakah kita menemukan dan merevitalisasi jati diri kebudayaan suku Lani? Masihkah kita ikut berperan dalam mengendalikan arah dan arus perubahan yang melanda situasi kebudayaan suku Lani? Ataukah tenggelam dan terpaksa ikut arus, menjadi tamu di negeri sendiri?

Masihkah moral kita mempunyai fungsi dan peranan sebagai “watchdog” terhadap arah perubahan yang keliru tadi? Pertanyaan-pertanyaan ini dikemukakan bukan ada apa-apanya dengan suku Lani, tetapi pertanyaan ini bersifat semacam “koreksi” dari dalam, sebab ada semacam gejala pada masyarakat atau kebudayaan suku Lani yakni sikap permisif terhadap kemungkinan-kemungkinan hal-hal yang baik dan tidak eksklusif.

Pertanyaan yang paling mendasar menuju masyarakat suku Lani baru dari serangkaian fenomena di atas adalah bentuk budaya yang bagaimana masyarakat suku Lani baru itu akan kita akarkan. Mengapa? Pengakaran budaya itu akan menandai jatidiri atau otensitas kebudayaan suku Lani masa depan. Karena itulah masalah ini sangat kritis dan perlu sikap kehati-hatian.

Pada hematnya jati diri atau otensitas kebudayaan suku Lani harus ditumbuhkembangkan dari nilai-nilai moralitas kebudayaan Lani yang diaktualisasikan dengan perkembangan zaman. Ini tidak lain mengisyaratkan agar pembinaan kebudayaan suku Lani sebagai proses yang berlanjut memang harus secara sadar dan penuh kesadaran dikerjakan.

Masyarakat Lani baru itu haruslah hasil kekuatan budaya secara menyeluruh atau “comprehensive culture power” (CCP) budaya Lani sedangkan untuk dikerjakan harus penuh kesadaran. Artinyam tidak bisa dipaksakan melainkan disesuaikan dengan derap perkembangan masyarakat itu sendiri.

Dalam kaitannya dengan hal ini tidaklah dapat diingkari bahwa globalisasi telah sangat memengaruhi dan menumbuhkan momentum perubahan dan pergeseran masyarakat kearah masyarakat Lani baru itu, dengan paradigma yang cukup kontras dengan paradigma sebelumnya.

Adanya globalisasi telah membuka cakrawala yang lebih lebar lagi atas pilihan-pilihan yang bisa diambil terhadap hampir semua hal, karena bila dihadapkan pada wacana yang lain akan kehilangan identitas kelaniannya.

Kebebasan memilih inilah yang telah ikut mengambil bahagian dalam meningkatkan rasionalitas masyarakat Lani, sebab masyarakat Lani telah dihadapkan pada alternatif pilihan yang semakin kompleks yang tidak hanya ini atau itu saja yang perlu banyak pertimbangan.

Dalam menyongsong terbentuknya masyarakat Lani yang sangat rasional itu, maka orang dipaksa untuk berpikir, dan berbuat oleh keadaan yang menghimpit dirinya, sudahlah sewajarnya apabila kita pertanyakan sebagai berikut: apakah kemampuan rasional yang semakin tinggi akan berakibat menipisnya kemampuan emosional kebudayaan yang menjadi penopang hidup orang Lani?

Pada hematnya pembinaan kemampuan emosional kebudayaan suku Lani untuk menumbuhkan kebudayaan harus ditempuh melalui CCP dan jangan dibiarkan menentukan arahnya sendiri. CCP yang dilaksanakan secara sadar itu diperlukan untuk menahan dampak negatif dari arus globalisasi.

Bahkan kebudayaan suku Lani diungkap pula dalam bentuk proteksionisme yang pada dasarnya mengandung unsur survival bangsa Lani, namun kalau tidak terkendali akan menumbuhkan Chauvinisme yang sangat berlebihan.

Tumbuhnya masyarakat kebudayaan suku Lani baru itu akan berhimpit dengan tumbuhnya masyarakat global yang bercirikan keunggulan kebudayaan individu, yang diwarnai oleh free competition (persaingan bebas) dalam banyak hal.

Kalau pada era otomasi industri harkat manusia terbenam oleh proses otomasi, dimana setiap individu telah direduksi menjadi sekadar angka, maka dalam era globalisasi justeru keunggulan dan kemampuan individulah yang sangat menentukan.

Dengan demikian teori nilai lebih buruk, tidak berlaku lagi dan harus diganti teori nilai lebih baik bangsa Lani. Karena itu tidak heran kalau era globalisasi disambut sebagai renaissance suku Lani (pembaharuan) harkat manusia atau meminjam bahasa latin sebagai humanitatem glorificamus Lani (memuliakan martabat kemanusiaan manusia Lani).

Bagi orang Lani, yang sebenarnya belum mengalami degradasi sejauh itu, tidaklah akan terlalu merasakan renaissance harkat manusia. Sehingga apabila di Barat terjadi gerakan kembali ke arah kebudayaan yang awalnya dipacu oleh kepahaman harkat manusia, maka di Lani hal itu tidak akan dirasakan karena suasana kebudayaan nampak jelas tetap menjadi landasan otensitas pada semua stratum kehidupan masyarakat suku Lani.

Sejalan dengan hal itu, kita merasa yakin bahwa otensitas kebudayaan suku Lani mendatang akan tetap nampak jelas walaupun dengan kadar rasionalitas yang tinggi, melalui upaya-upaya pembinaan kebudayaan yang terencana dan komprehensif.

Kebudayaan suku Lani sebagai bagian dari kebudayaan Papua masa depan harus dibangun menurut CCP di atas komitmen nilai-nilai local genius dan kearifan lokal dan rasional kebudayaan suku Lani, penciptaan masyarakat mandiri (civil society), demokrasi, penanaman kesadaran tentang perlunya ilmu pengetahuan dan teknologi yang humanis dan ramah terhadap lingkungan budaya, pengembangan etos kerja, pengembangan nilai karakter.

Pokoknya membangun CCP budaya suku Lani di atas nilai-nilai yang telah disebutkan tadi secara arif dan kreatif serta menempatkan martabat manusia Lani sebagai rohnya, maka mustahil kebudayaan suku Lani akan kehilangan muka di era pergaulan masyarakat dunia.

Selanjutnya bertolak dari CCP, budaya Lani akan membangun konvergensi (pemusatan) sehingga mampu menggapai Lani baru sebagai bagian komunitas budaya dunia yang kita cita-citakan, tanpa segera meninggalkan budaya asli Lani sebagai perekat tata nilai yang cukup kuat dan telah lama menghidupkan orang Papua.

Renaisans kebudayaan suku Lani, mendorong proses humanitatem glorificamus Lani (memuliakan kemanusiaan manusia Lani). Proses glorificamus muncul sebagai akumulasi terhadap merebaknya sikap dan prilaku permisif terhadap perubahan yang mendadak yang telah berlangsung lama dalam tubuh orang Lani.

Saya menyadari paradigma berpikir masyarakat suku Lani saat ini, sedang mengalami penetrasi (perembesan) dari kebudayaan Barat yang cenderung hegemonik. Terjadi perubahan tingkah laku “dadakan” pada masyarakat termasuk elit politik lokal.

Sebagi contoh, munculnya tingkah laku yang meninggalkan budaya aseli Lani sebagai budaya yang harmonis dan religius sebagai perekat tata laku dan kesopanan. Kehidupan masyarakat banyak mengambiloper budaya Barat yang sudah mengalami “culture loss nation” (bangsa yang sudah kehilangan identitas budayanya).

Buku Kebudayaan Suku Lani karya Angginak Sepi Wanimbo, spirit awalnya membangun, mempertahankan, dan melestarikan kebudayaan suku Lani, sebagaimana digambarkan dalam buku ini. Buku ini dapat dibaca sebagai tesis otensitas kebudayaan suku lani.

Penulis buku ini —sehabat saya— Angginak Sepi Wanimbo, penggiat literasi Papua, penulis produktif, termasuk salah satu tokoh Papua yang tekun menulis tentang kebudayaan Papua dari berbagai perspektif.

Pada bagian kata pengantar yang ditulis oleh presensi, menegaskan sikap hidup manusia Lani sebagaimana dijelaskan di atas menyangkut dua hal, yaitu konsep eksistensi manusia Lani di dunia dan konsep tempat manusia Lani di dunia.

Masyarakat Lani dengan segala pandangan hidupnya memiliki karakteristik budaya yang khas, sesuai dengan kondisi masyarakatnya. Pada garis besarnya pandangan hidup manusia Lani dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu pandangan lahir dan pandangan batin.

Pandangan lahir terkait dengan kedudukan sesama manusia sebagai makhluk individu dan sosial, sedangkan pandangan batin berkaitan dengan kedudukan sesama manusia sebagai makhluk individu.

Dalam hal ini pandangan manusia Lani memiliki kaidah-kaidah yang diidentifikasikan berdasarkan ungkapan-ungkapan budaya sebagai pengejawantahan nilai-nilai budaya yang didukung oleh masyarakatnya. Sebaliknya, pandangan batin terkait dengan persoalan-persoalan yang bersifat supranatural akan tetapi menduduki tempat yang penting dalam sistem budaya Lani.

Terdapat sistem yang menuntut untuk meminimalisasi kepentingan-kepentingan yang bersifat individu, hal tersebut didasarkan pada semangat komunal akan tetapi secara individu, sesama manusia dituntut untuk memiliki kepercayaan yang kuat serta tekad dalam memperjuangkan hidup jujur.

Ungkapan di atas merupakan kristalisasi atau bahan untuk membaca semangat hidup agar mampu menempatkan diri sebagai individu guna menjaga keberadaan kehidupan.

Secara sosial, manusia Lani memiliki orientasi utama yaitu dengan menciptakan sikap yang mulia terhadap manusia lain. Dengan bahasa lain manusia Lani lembut dalam cara keras dalam berprinsip. Ini yang disebut manusia otentik, Bukan manusia penuh dengan pura-pura atau munafik.

Untuk menciptakan hal tersebut banyak manusia Lani yang menghindari sikap sombong, menunjukkan kepintaran dan lebih banyak pada membangun hubungan sosial yang harmoni.

Secara leksikon (makna kamus) arti kata Lani menurut penulis buku ini ialah “orang mandiri, orang merdeka, orang otonom dan orang berdaulat penuh. Orang yang mempunyai kemampuan, kesanggupan, mempuyai tanah, hutan, gunung, sungai yang telah diwariskan oleh leluhur dan nenek moyang kami sebagai harta kehidupan, kekayaan dan pengetahuan secara turun temurun.”

Pada alinea berikutnya penulis buku ini menegaskan “Pengaburan makna kata Lani, Orang Barat dan orang Indonesia menyebut orang Lani adalah orang Dani. Penyebutan kata Dani itu, orang Lani sendiri tidak mengerti apa maksud dan arti dari kata Dani.

Pelafalan dengan kata Dani oleh orang luar merupakan suatu ungkapan pelecehan dan penghinaan terhadap harga diri, kehormatan dan martabat orang Lani. Maka dengan tulisan ini menjadi jelas apa arti sesungguhnya kata Lani itu, dengan demikian dengan kata Dani tidak dapat digunakan lagi.

Penterjemaan kata Lani yang kini menjadi Dani oleh orang Barat ketika melakukan ekspedisi di daerah orang Dem dan Moni, dalam buku Agus A Alua menuturkan: “Pada tahun 1926, dilakukan suatu ekspedisi gabungan para ahli Amerika dan Belanda yang dipimpin oleh MW Stirling di hulu sungai Rouffaer atau sungai Nogolo bertemu dengan kelompok penduduk sebelah barat orang Dani (Lani), di antaranya suku Dem dan Moni, menurut heider, dari ekspedisi inilah muncul pertama kali nama suku Dani (Lani), dari bahasa Moni, yaitu “Ndani” artinnya orang sebelah timur (Alua, 2006: 3).”

Di sini penulis mau menunjukkan kepada dunia luar bahwa otensitas orang Lani yang mempunyai kecerdasan luar biasa. Dan orang lani itu sendiri digambarkan oleh penulis sebagai orang mempunyai identitas yang jelas dan mereka tidak mengangut kolonial mimikri.

Dalam pengertian sebuah fenomena pascakolonial di mana masyarakat terjajah meniru budaya, bahasa, perilaku, dan gaya hidup penjajah sebagai bentuk adaptasi sekaligus perlawanan, menciptakan identitas hibrida yang “hampir sama, tapi tidak persis sama” (nearly the same, but not quite).

Ini adalah strategi subversif yang memanfaatkan sistem kolonial itu sendiri untuk melawannya, seringkali melalui ejekan terselubung (mimicry and mockery) dan pengembangan identitas baru yang mendorong nasionalisme, seperti yang terlihat dalam buku ini.

Inilah yang mau dikatakan oleh penulis dalam buku ini sebagau otentisitas kebudayaan suku Lani, yakni otensitas keaslian, kejujuran, dan kesetiaan pada nilai-nilai inti sebuah budaya. Nilai-nilai yang diwujudkan dalam praktik, kepercayaan, dan ekspresi yang mencerminkan identitas sebenarnya, bukan tiruan atau sekadar gaya untuk diterima, seringkali menolak pengaruh luar yang dianggap merusak esensi asli tersebut, seperti yang terlihat dalam kritik “poseur” di subkultur musik atau perjuangan seniman menciptakan identitas bangsa yang asli.

Pada prinsipnya otensitas kebudayan suku Lani digambarkan sangat jelas dalam buku ini yakni berpegang teguh pada tradisi, nilai, dan filosofi dasar suatu kelompok atau masyarakat. Selaian hal tersebut penulis buku ini juga menggambarkan secara jelas dan terbuka tidak menilai budaya lain dari standar budaya sendiri, tetapi menghargai keunikan masing-masing.

Dalam otensitas kebudayaan suku Lani terkandung makna mendalam yang ditulis oleh Angginak, yakni orang suku Lani sangat memelihara elemen-elemen kebudayaan kuno atau warisan masa lalu sebagai fondasi identitas dirinya.

Pada intinya otentisitas kebudayaan suku lani adalah upaya terus-menerus untuk tetap jujur pada akar budaya sendiri sambil tetap terbuka pada perkembangan, memastikan bahwa identitas budaya tetap utuh dan bermakna. Inilah yang dinamakan manusia berbudaya.

Selain menulis otensitas kebudayaan suku Lani, penulis buku ini juga menyinggung soal kepemimpinan suku Lani. Yang menarik bagi perensesi adalah sub judul Pemimpin Kesuburan. Menurut penulis pemimpin kesuburan berfungsi untuk mengatur mengenai kesuburan kampung dan ternak wam atau babi di wilayah adatnya.

Status ini dapat ditentukan oleh kecakapan dan kesuksesan yang mengatur mengenai kesuburan di dalam suatu tempat yaitu wam dan kebun. Lebih penting adalah asal muasal historis dan genealogis sebagai aspek penentu seseorang menduduki posisi ini.

Artinya bahwa dimana secara historis dan genealogis dapat diketahui klen-klen tertentu yang memiliki simbol kesuburan di dalam inti itu sendiri, yang lebih penting ialah pencapaian individu tertentu dari anggota-anggota klen yang bersangkutan. Di luar dari itu tidak dibenarkan oleh kebudayaan dan dapat menganggu keteraturan normatif yang berlaku dalam masyarakat itu.

Seorang pemimpin kesuburan wam ini dia tidak sembaran memerintah tetapi para pemimpin ini sewaktu-waktu tertentu saja memerintahkan kepada masyarakat dimana ia pimpin bahwa wam mulai bulan ini sampai dengan bulan ini tidak boleh kasih keluar sembaran, tidak boleh bunuh sembarangan.

Semua wam dijaga dengan baik pas tiba waktunya sesuai komitmen perintah keluar baru diijinkan atau memberikan kesempatan untuk kasih keluar, jual dan lain-lain. Kebijakan atau keputusan pemimpin ini masyarakat di wilayahnya tidak pernah melawan tetapi selau menghargai, menghormati dan tunduk perintah pemimpinnya mereka sendiri.

Selain pemimpin kesuburan dalam diri pribadi orang Lani juga menempel spirit kepemimpin perang. Oleh penulis buku ini pemimpin perang digambarkan sebagai, Pemimpin perang/panglima perang. Ia sangat disegani oleh masyarakat karena memiliki sifat keberanian dan keterampilan memimpin dalam perang.

Ia mampu memimpin dan mengatur strategi perang yang itu. Dia juga mampu merencanakan dan memutuskan untuk melaksanakan suatu perang atau menghentikan perang itu. Dengan keahliannya berhasil mengalahkan musuh dan mampu melindungi komunitasnya dari serangan musuh.

Untuk urusan-urusan teknik di tingkat klen diatur oleh pemipin perang patriklen yang diangap lebih mengetahui mengenai urusan adat dari masing-masing klennya. Jenis yang di atas adalah sekaligus sebagai di tingkat klennya.

Sistem kepemimpinan pemimpin perang bagi orang Lani terbatas beberapa kampung. Di luar dari batas itu bukanlah tanggung jawabnya. Meskipun model kepemimpinan merupakan hiarki tidak mempunyai suatu garis komando yang tegas. Kegiatan pesta babi ada koordinasi lebih dahulu dengan pemimpin kesuburan wam sebelum diumumkan kepada masyarakat.

Dengan demikian visi baru kebudayaan Lani masa depan harus dibangun di atas  kebudayaan baru yang relevan dengan kondisi kekinian Lani, yakni masyarakat demokratis, masyarakat damai, dan masyarakat egaliter.

Kondisi itu juga mencakup penanaman tentang nilai kebudayaan Lani, pengembangan etos kerja, pengembangan nilai agama, etika dan moral, penegakan HAM, pendidikan yang bermutu, penciptaan masyarakat mandiri serta penanaman kesadaran tentang perlunya ilmu pengetahuan dan teknologi yang humanis dan ramah terhadap lingkungan budaya.

Pendek kata, visi baru kebudayaan suku Lani masa depan adalah membangun ketahanan budaya suku Lani di atas pluralistik karakteristik masyarakat berdasarkan local genius sebagai dasar filosofi kebudayaan suku Lani secara arif dan kreatif dan menempatkan martabat manusia sebagai rohnya, seraya menancapkan kukunya pada etos local genius dan etika budaya masyarakat yang bernilai tinggi.

Ben Senang Galus

Dosen dan penulis buku, tinggal di Yogyakarta

Judul: Kebudayaan Suku Lani

Penulis           : Angginak Sepi Wanimbo

Desain Cover : Helmaria Ulfa

Tata Letak     : Handarini Rohana

Editor             :  Aas Masruroh

Cetakan I       : September 2025

ISBN               :  978-634-246-249-2

Tebal Buku    : xclvii + 575 halaman

Penerbit         : Widina Media Utama, Bandung