TIMIKA, ODIYAIWUU.com — Konflik dua kelompok warga yang terjadi sejak Oktober hingga memakan korban 11 orang meninggal berujung. Kedua kelompok warga yang terlibat perang panah tak lagi memperpanjang konflik.
Konflik yang melibatkan dua kelompok massa dari Kubu Dang dan Newegan sepakat mengakhiri konflik dan berdamai melalui prosesi adat patah panah yang digelar di Jalan Maleo, Kampung Amole, Distrik (Kecamatan) Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Senin (12/1).
Bupati Kabupaten Mimika Johannes Rettob didampingi Wakil Bupati Emanuel Kemong, Wakil Bupati Puncak Naftali Awakal serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) mengikuti ritual patah panah sebagai simbol perdamaian konflik yang melibatkan dua kelompok yang masih bertalian keluarga.
Prosesi patah panah diawali dengan perdamaian secara adat oleh kedua belah pihak. Ritual tersebut ditandai dengan panah babi yang dilakukan masing-masing pihak ditengah wilayah yang sebelumnya menjadi area konflik kedua kubu.
Sebelum melakukan patah panah Bupati Rettob mengatakan, prosesi ini menjadi tanda berakhirnya konflik di Kwamki Narama dan membawa pesan damai bagi Tanah Papua.
“Saya melakukan patah panah ini menandai tidak ada lagi perang atau konflik di Kwamki Narama dan Tanah Papua,” ujar Bupati John Rettob di Kwamki Narama, Papua Tengah, Senin (12/1).
Usai perdamaian adat, belah kayu dan patah panah, kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara serta surat pernyataan oleh Pemda Mimika, Pemda Puncak, DPRK, aparat keamanan, intelektual, tokoh masyarakat serta kedua belah pihak dari kubu Newegalen dan Dang.
Aparat kepolisian yang dipimpin Kapolres dan Brimob yang dipimpin Danyon Brimob Detasemen B Papua turun mengamankan lokasi prosesi perdamaian. Tampak belasan warga yang ditahan di Rutan Polres Mimika ikut menyaksikan prosesi tersebut. (*)










