Mgr Maksimus Regus Ditahbiskan Jadi Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Pulau Flores, NTT - Odiyaiwuu.com | Membahagiakan Kehidupan

Mgr Maksimus Regus Ditahbiskan Jadi Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Pulau Flores, NTT

Mgr Dr Maksimus Regus saat ditahbiskan menjadi Uskup Keuskupan Labuan Bajo di Gereja Santo Petrus Sernaru, Labuan Bajo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Jumat (1/11). Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Kardinal Suharyo sebagai pentahbis menggantikan Duta Besar Takhta Suci Vatikan Mgr Piero Pioppo yang berhalangan hadir. Foto: Dok. Bernard Tube Beding

Loading

LABUAN BAJO, ODIYAIWUU.com — Mgr Dr Maksimus Regus, Jumat (1/11) ditahbiskan menjadi Uskup Keuskupan Labuan Bajo di Gereja Santo Petrus Sernaru, Labuan Bajo, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Uskup Keuskupan Agung Jakarta Mgr Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo bertindak sebagai pentahbis utama Uskup Dioses Labuan Bajo Mgr Max Regus. Kardinal Suharyo menggantikan Duta Besar Takhta Suci Vatikan Mgr Piero Pioppo yang berhalangan hadir. 

Dalam Misa tahbisan tersebut, Kardinal Suharyo didampingi Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sekaligus Uskup Keuskupan Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin, Uskup Keuskupan Agung Ende Mgr Dr Paulus Budi Kleden dan Uskup Keuskupan Ruteng Mgr Siprianus Hormat. 

Hadir juga 42 orang uskup dalam acara pentahbisan Mgr Max, uskup pertama Keuskupan Labuan Bajo, termasuk uskup terpilih Keuskupan Surabaya Mgr Agustinus Tri Budi Utomo.

Dalam khotbahnya, Mgr Antonius Subianto Bunjamin mengatakan, pada 1 Mei ada dua peristiwa iman yaitu Hari Raya Semua Orang Kudus dan Pemimpin Umat Katolik Sedunia Paus Fransiskus menganugerahkan kepada Gereja Katolik Indonesia keuskupan yang ke-38 yaitu Keuskupan Labuan Bajo. 

“Pada hari ini juga, uskup pertamanya Mgr Maksimus Regus akan ditahbiskan, mendapat pencurahan Roh Kudus yang rangkaiannya dimulai (Kamis, 31/10) kemarin dengan Ibadah Vesper Agung di Gereja Katedral Roh Kudus. Kalau kita masuk Gereja Katedral Roh Kudus di sana tertulis Pastoran Roh Kudus,” ujar Uskup Bunjamin.

Mgr Bunjamin mengatakan, judul anjuran Apostolik Paus Fransiskus yang terbit 19 Maret 2019, Gaudete et exultate (Bersukacitalah dan bergembiralah) yang diambil dari Injil Matius 5-12 yang menjadi ayat terakhir bacaan Injil hari ini. Bersukacitalah dan bergembiralah karena upahnya besar di Surga, yang dihubungkan dengan ayat 8: berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah.

Menurut Mgr Bunjamin, Sri Paus Suci memperjelas anjuran tersebut dengan memberi sub judul Panggilan Kekudusan Jaman Sekarang, yang dikaitkan dengan kehendak Allah menciptakan manusia menurut citra-Nya yang Kudus. ‘Hendaklah kamu Kudus sebab Aku adalah Kudus’ (Imamat 11:14). 

“Saudara dan saudari terkasih, apakah dengan dibaptis kita menjadi kudus? Tunggu. Kita menjadi kudus bahkan dianugerahi materai sebagai anak Allah tetapi tidak semua orang yang dibaptis dapat mempertahankan kekudusannya sebagai anak Allah,” kata Mgr Bunjamin.

Identitas kudus, ujar Uskup Bunjamin, harus dipertahankan dan diwujudkan dalam aktivitas kekudusan. Kudus bukan sekadar identitas ideal tetapi harus menjadi aktivitas praktis semua anak Allah. Dalam buku Orang Kudus, tercatat lebih dari  10 ribu santo dan santa yang dikukuhkan sebagai orang kudus. 

Di samping orang kudus yang terdaftar, ada banyak orang kudus di Surga yang memandang kemuliaan Allah seperti yang tertulis di dalam Kitab Wahyu sebagaimana didengar dalam bacaan pertama Misa tahbisan ini. 

“Kalau tadi kita dengar apa yang dibacakan Mgr Michael surat dari Bapa Paus, Bapa Uskup Maksimus Regus dipilih bukan karena kecerdasan intelektualnya, bukan karena kecerdasan sosialnya yang juga sangat penting dan diperlukan tetapi karena kebijaksanaan dalam hal-hal rohani yang jauh lebih penting dari kecerdasan intelektual dan kecerdasan sosial,” kata Uskup Bunjamin.

Media ini sebelumnya memberitakan, Takhta Suci Vatikan menunjuk Rektor Universitas Katolik Santo Paulus Ruteng Dr Maximus Regus, Pr menjadi Uskup Dioses Labuan Bajo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. 

Pengumuman terpilihnya Mgr Max Regus disampaikan Uskup Keuskupan Ruteng Mgr Siprianus Hormat dalam Misa di Gereja Paroki Roh Kudus, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Jumat (21/6 2024) pukul 17.30 WITA. Umat Katolik antusias penuh syukur menyambut sang gembala baru Keuskupan Labuan Bajo.

“Pertama, sebagai umat Katolik kita semua patut bersyukur kepada Tuhan Paus Fransiskus telah menunjuk Mgr Max Regus, Uskup baru dan pertama untuk Keuskupan Labuan Bajo,” ujar Gabriel Mahal, umat Katolik asal Manggarai kepada Odiyaiwuu.com dari Tanjung Boenga, Flores kepada Odiyaiwuu.com di Jakarta, Jumat (21/6).

Selain itu, ujar Gabriel, praktisi hukum nasional asal Manggarai, oleh karena Labuan Bajo merupakan keuskupan baru tentu tantangannya lebih unik. Banyak hal mesti dipersiapkan Uskup terpilih bersama umat dan berbagai elemen untuk membangun Labuan Bajo sebagai keuskupan baru. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Uskup baru.

“Saya mengenal baik Uskup Labuan Bajo Mgr Max Regus dengan segala kapasitas dan kapabilitasnya, saya berpikir beliau akan mampu membangun keuskupan baru bersama umat serta seluruh elemen dan tentu sesuai harapan umat di wilayah Labuan Bajo dan Manggarai Barat umumnya,” kata Gabriel, pengacara nasional yang juga mantan Sekretaris Jenderal Indonesia Lawyer Club (ILC) TV One yang dipandu wartawan senior Karni Ilyas.   

Menurut Gabriel, Labuan Bajo juga merupakan destinasi wisata dunia super premium, dinamika keuskupan itu tentu agak berbeda dibandingkan dengan Keuskupan Ruteng. Masyarakat Labuan Bajo dan Flores umumnya adalah tipikal masyarakat yang sangat terbuka dan multi etnis.

”Kenyataan ini boleh dibilang memerlukan semacam kecerdasan tersendiri untuk membangun sinergitas dengan masyarakat dan seluruh elemen di Labuan Bajo. Dengan demikian, dapat bergandengan tangan mendorong dan membangun dunia pariwisata tanpa kehilangan jati diri baik sebagai umat Katolik maupun sebagai umat Manggarai. Ini tantangan menarik bagi Mgr Max membangun Keuskupan Labuan Bajo,” ujar Gabriel.

Gabriel mengharapkan agar Uskup Max Regus dapat membangun Labuan Bajo yang masih usia bayi itu menjadi sebuah keuskupan yang matang dalam iman Katolik dan aspek duniawi selaras iman Katolik.

“Salah satu hal penting yang saya harapkan dan tentu menjadi harapan bersama, umat Katolik harus mendoakan dan mendukung tugas-tugas pelayanan gereja dan keuskupan agar Keuskupan Labuan Bajo semakin maju agar nama Tuhan semakin dimuliakan,” kata Gabriel.

Dosen Undana Kupang Dr Marsel Robot mengaku, pelayanan dan kekaryaan profetis Dr Max Regus terasa lebih lebat buah ajarannya melalui tulisan-tulisan. Ia seorang pemikir yang menerima gereja dalam genre konvensional. Artinya. kekudusan dan kebenaran sabda Allah satu-satunya melalui gereja. Lebih dari itu, baginya lanskap kehidupan sosial itu adalah gereja yang selalu datang menyodorkan keadaan dan kenyataan umatnya.  

“Media dipinjamkan Dr Max Regus untuk berkhotbah dengan cara yang khas Romo Max. Saya percaya, ia melakukan itu atas kesadaran bahwa era digital telah membangun gereja dalam dunia maya dan orang pergi dan pulang gereja setiap saat. Romo Max Regus mampu mengonversi peristiwa sehari-hari menjadi peristiwa ilahiah. Saya ucapkan proficiat atas terpilihnya Romo Max Regus sebagai Uskup Labuan Bajo,” ujar Marsel Robot, dosen asal Manggarai.

Sedangkan umat Katolik asal Manggarai Barat Hieronimus (Rony) Amal juga menyampaikan syukur terpilihnya Mgr Max Regus oleh Paus Fransiskus. Terpilihnya Mgr Max Regus diakui Rony, sebagai karya Agung Tuhan bagi umat Katolik Indonesia umumnya dan khususnya umat Katolik di Nusa Tenggara Timur teristimewa umat Katolik di Manggarai raya.

“Sebagai umat Katolik dan tentu juga umat Katolik di Manggarai raya sangat bersyukur terpilihnya Mgr Max oleh Bapa Paus sebagai uskup pertama di keuskupan baru Labuan Bajo. Ini rahmat Tuhan yang sunggu besar dan menjadi sejarah baru. Apalagi, Labuan Bajo baru terbentuk sebagai sebuah keuskupan baru di Indonesia,” ujar Rony Amal kepada Odiyaiwuu.com dari kampung Golokoe, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Jumat (21/6).

Mgr Dr Max Regus lahir di kampung Todo, Manggarai, Flores 23 September 1973. Ia menjalani studi filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (kini, Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero/IFTK) tahun 1993-1997 dan studi teologi tahun 1999-2001 di STFK Ledalero, Maumere, Flores. Usai menyelesaikan studi di STFK Ledalero, ia ditahbiskan sebagai Imam Diosesan Keuskupan Ruteng. 

Max Regus kemudian melanjutkan S2 bidang Sosiologi di Universitas Indonesia sambil menjabat sebagai Direktur Parrhesia Institute, Jakarta yang didirikan Boni Hargens, Ph.D, analis politik Indonesia asal Manggarai dan doktor lulusan Walden University, Minneapolis, Amerika Serikat. 

Max Regus merampungkan studi S3 di The International Institute of Social Studies, Universitas Erasmus dan Graduate School of Humanitie, Universitas Tilburg, Belanda tahun 2017. 

Ia pernah bertugas di Paroki Kristus Raja, Ruteng, Mei-Agustus 2001. Pernah pula sebagai imam Kapelan di Paroki Kristus Raja, Ruteng, September 2001-Agustus 2007 dan Ketua Komisi Antaragama, Keuskupan Ruteng tahun 2002-2007.

Mgr Max juga seorang kolumnis handal. Sejumlah opininya tersebar di sejumlah koran nasional seperti Kompas dan Media Indonesia serta koran lokal seperti Pos Kupang, Flores Pos, dan SKM DIAN. Mgr Max juga menulis sejumlah buku dan artikel ilmiah dengan tema politik, filsafat, dan hak asasi manusia (HAM). 

Salah satu buku karyanya, Republik Sialan: Memburu Kejernihan di Tengah Kerancuan. Selamat atas tahbisan Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr Max. Mori sembeng; Tuhan berkati. (Ansel Deri/Odiyaiwuu.com)

Tinggalkan Komentar Anda :