MOWANEMANI, ODIYAIWUU.com – Anton Pekei, seorang peternak babi dan unggas di kampung Deiyapa, Distrik Kamu Timur, Kabupaten Dogiyai, Papua merasa gembira sekaligus terharu. Pekei tak pernah menyangka, ia dikunjungi Bupati Yakobus Dumupa kemudian melihat langsung usaha peternakan babi, bebek, itik, dan ayam yang dirintisnya.
Bermodal sepeda motor miliknya, Pekei rela bolak-balik dari Deiyapa, Dogiyai menuju Nabire, kota Kabupaten Nabire berjarak sekitar dua ratus kilo meter untuk membeli bebek, itik, dan ayam lalu menjual kembali kepada warga di Kabupaten Dogiyai, Deiyai bahkan Paniai. Seekor itik yang dibeli seharga Rp. 70.000,00 di Nabire dijual kembali seharga Rp. 170.000,00. Untuk yang diperoleh lumayan besar. Jumlah itu untuk menjaga kelangsungan usaha miliknya dan membeli bahan bakar sepeda motor.
“Saya pernah menyampaikan usaha yang saya rintis ini ke kaka Bupati. Awalnya, saya sampaikan modal buat kandang agak sulit sehingga saya minta kalau bisa beliau bantu. Saya tak menyangka. Setelah saya lapor, beliau melihat langsung kandang usaha peternakan. Jumat 7 Mei lalu tiba-tiba kaka Bupati datang kaki kosong ke rumah lalu melihat kandang dan usaha ternak. Saya kaget dan terharu sekali,” ujar Anton Pekei kepada Odiyaiwuu.com di Deiyapa, Kamu Timur, Dogiyai, Minggu (16/5).
Bupati Dumupa membenarkan pihaknya menyambangi rumah Pekei dan melihat langsung usaha peternakan milik warganya itu. Bupati yang juga penulis belasan buku aneka tema ini mengapresiasi semangat wirausaha yang dimiliki sebagian anak muda Dogiyai, termasuk Anton Pekei. Apalagi, bebek, ayak, dan itik itu didatangkan dari Nabire, kabupaten tetangga berjarak ratusan kilometer bermodal sepeda motor pribadi.
“Saat saya ke rumahnya kemudian diajak melihat langsung dan berbincang-bincang, saya lihat anak muda ini punya jiwa wirausaha yang tinggi. Beberapa waktu sebelumnya, Anton pernah mengeluhkan soal modal untuk merintis usaha kecilnya ini,” kata Bupati Yakobus Dumupa kepada Odiyawiwuu.com, Minggu (16/5).
Bupati mengakui pihaknya akan memberikan bantuan modal usaha agar usaha ini membawa manfaat tak hanya bagi keluarga namun juga untuk memenuhi kebutuhan warga di Dogiyai, Deiyai, dan Paniai. Bupati juga bangga melihat peternak berusia 20-an tahun berwirausaha. Kata Dumupa, di saat banyak anak muda cenderung bermalas-malasan, Pekei memilih jalan berbeda dengan menggeluti usaha ternak kecil-kecilan.
“Komitmen dan kerja keras melalui usaha-usaha kecil semacam inilah yang selama ini saya maksud dan kampanyekan melalui slogan ‘Kerja untuk Hidup Mandiri’. Pekei adalah satu di antara sekian anak muda yang menyadari arti kerja untuk hidup mandiri,” kata Bupati Dumupa, lulusan Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Pembangunan Desa “APMD” Yogyakarta.
Pekei senang karena saat itu Bupati Dumupa membeli enam ekor bebek dengan harga beli di atas harga jual dengan maksud membantu usahanya. Sementara itu, Bupati juga berharap agar ke depan makin banyak masyarakat Dogiyai mau bekerja mandiri memanfaatkan segala potensi dan peluang yang tersedia agar hidup mandiri dengan kemampuannya.
“Selama tiga tahun memimpin Dogiyai, saya sudah memberikan bantuan modal usaha kepada seribuan warga masyarakat untuk sebagai modal usaha di bidang peternakan dan pertanian. Sebagian saya lihat mulai sukses, sebagian gagal. Tapi, bantuan modal akan terus saya berikan kepada warga yang berniat mengembangkan usaha. Niat dan cita-cita saya satu waktu warga mandiri,” katanya.
Bantuan untuk ASN
Bupati Dumupa juga mengaku, pihaknya juga pernah membantu Ibrasia Iyai, Kepala Sekolah SD Negeri Inpres Dawaikunu, Distrik Mapia, Kabupaten Dogiyai. Tahun 2019, Iyai yang juga seorang aparatur sipil negara (ASN) di Dogiyai menyambangi Bupati Dumupa di kantornya. Ibu guru Iyai meminta bantuan dana untuk membuka kebun kacang tanah dan jagung. Saat itu Bupati Dumupa tidak langsung memberikan uang, tapi meminta Iyai bekerja dulu untuk menunjukkan bukti benar-benar bekerja.
“Di luar dugaan, enam bulan kemudian beliau muncul di kantor Bupati dengan satu noken besar yang berisi jagung dan satu noken besar berisi kacang tanah. Dia bilang, “Bapa Bupati suruh saya bikin kebun to? Sekarang saya sudah bikin kebun. Ini saya bawa hasil kebun satu noken jagung dan satu noken kacang. Sekarang Bapa Bupati kasih uang,” cerita Bupati Dumupa sambil tertawa.
Melihat kesungguhan guru Iyai, Bupati memberikan modal usaha senilai Rp. 30.000.000,00. “Ibu ini hebat. Sekalipun beliau seorang ASN dengan jabatan sebagai kepala sekolah, tetapi sampai sekarang masih konsisten berkebun. Dia membiayai sekolah anak-anaknya dengan hasil kebun,” ujar Bupati Dumupa bangga. (Yanuarius Goo/Odiyaiwuu.com)