Warga Gearek Korban Konflik TNI-OPM Minta Segera Dipulangkan ke Kampung Agar Merayakan Natal

Direktur Eksekutif YKKMP Theo Hesegem bersama tim kemanusiaan saat bertemu 45 warga pengungsi Distrik Gearek di bawah tenda, depan SD Inpres Kenyam, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan, Selasa (16/12). Foto: Dokumen YKKMP

KENYAM, ODIYAIWUU.com — Sebanyak 45 warga Distrik Gearek yang terdiri dari anak-anak dan orang dewasa hingga kini masih bertahan di bawah tenda kecil di depan SD Inpres Kenyam, kota Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan.

Direktur Eksekutif Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP) Theo Hesegem mengatakan, saat ini puluhan pengungsi dari Gearek masih bertahan di bawah tenda depan SD Inpres Kenyam menyusul konflik antara aparat keamanan Indonesia dengan anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat, sayap militer Organisasi Papua Merdeka (TPNPB OPM) di Gearek, Rabu (10/12).

“Saat tiba di tenda mereka menyambut dengan isak tangis. Pengungsi minta kalau segera dibantu agar kembali ke kampungnya merayakan Natal, peringatan kelahiran Yesus Kristus bagi umat Kristiani,” ujar Theo Hesegem dari Agats, kota Kabupaten Asmat, Provinsi Papua Selatan, Rabu (17/12).

Menurut Hesegem, pembela HAM senior tanah Papua, Selasa (16/12) ia bersama tim kemanusiaan bertolak dari Bandara Moses Kilangin, Timika, kota Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah menuju Kenyam dan tiba pukul 12:35 WIT.

Hesegem menambahkan, pada pukul 13:00 WIT, tim kemanusiaan bertemu pengungsi di SD Inpres Kenyam. Setelah menjelaskan tujuan kedatangan tim juga menyerahkan bantuan berupa beras, air minum, dan mi instant oleh perwakilan DPRD Nduga.

“Pukul 14:12 WIT kami bertemu dengan pihak Polres Nduga dan diterima langsung Kapolres Nduga Pak Alredo Agustinus Rumbiak, SIK, M.Tr. Mil. Dalam pertemuan itu kami menjelaskan tujuan kedatangan agar diketahui pihak Pak Kapolres beserta jajarannya,” kata Hesegem, pegiat hak asasi manusia (HAM) putra asli Papua.

Menurut Hesegem, Kapolres Nduga merespon positif kehadiran tim kemanusiaan. Kapolres juga menyampaikan pada prinsipnya untuk urusan kemanusiaan Polres sangat terbuka.

“Kami juga sampaikan apresiasi dan terimakasih kepada Pak Kapolres. Beliau juga senang karena kami sudah datang melapor diri dalam urusan kemanusiaan,” kata Hesegem.

Hesegem juga menambahkan, pukul 15:28 tim ditemani Kapolres Nduga juga bertemu Komandan Kodim 1706/Nduga Letkol Inf Saeri, S.E, MM. Dandim juga merespon postif kehadiran tim kemanusiaan. “Pak Dandim menyampaikan bahwa pasukan sudah tidak ada lagi di Gearek. Pihaknya akan monitor,” ujar Hesegem.

Setelah bertemu Kapolres dan Komandan Kodim, pukul 18.48 WIT tim kembali bertemu pengungsi di SD Inpres Kenyam. Dalam pertemuan tersebut tim mendengarkan langsung kronologi kejadian yang dialami warga korban konflik di Gearek. Dalam pertemuan itu, dibicarakan juga rencana melakukan kunjungan ke Gearek.

“Kami berencana akan melanjutkan perjalanan ke Gearek untuk memasang baliho tentang hak-hak masyarakat sipil dalam konflik bersenjata dan pernyataan sikap masyarakat Gearek,” ujar Hesegem.

Menurut Hesegem, pihaknya bersama Pemerintah Distrik Grarek, tokoh agama, kepala suku, intelektual, tokoh pemuda, perempuan, mahasiswa, dan masyarakat menyatakan sikap terkait keamanan dan ketertiban di wilayah Nduga.

Pertama, aparat TNI dan TPNPB OPM tidak melakukan penyerangan di area masyarakat sipil dan menentukan tempat dan perang terbuka di hutan atau di luar Distrik Melagi, Melagineri, Wano Barat, Kwiyawage dan Goa Balim.

Kedua, kepada aparat TNI agar tidak melakukan penangkapan sewenang-wenang terhadap masyarakat sipil di luar prosedur dan mekanisme Undang-undang yang berlaku di Negara Rebuplik Indonesia.

Ketiga, masyarakat Distrik Melagi, Melagineri, Wano Barat, Kwiyawage dan Goa Balim mengharapkan aparat TNI dan TPNPB OPM melakukan tindakan terukur dan profesional, sehingga tidak terjadi pembunuhan terhadap masyarakat sipil di luar prosedur hukum.

Keempat, masyarakat Distrik Melagi, Melagineri, Wano Barat, Kwiyawage dan Goa Balim telah sepakat dan menyampaikan kepada kedua belah pihak (TNI-TPNPB OPM) bahwa daerah-daerah tersebut tidak dijadikan sebagai zona perang, yang mengakibatkan terjadi pertumpahan darah atas warga sipil.

Kelima, tim dan semua elemen sangat berharap kepada TNI dan TPNPB tidak mengganggu segala aktivitas masyarakat sipil seperti pendidikan, kesehatan, gereja, perekonomian dan aktivitas sosial lainnya.

Keenam, tim dan semua elemen juga berharap kepada kedua bela pihak yang berkonflik tidak melakukan teror dan intimidasi terhadap masyarakat sipil Distrik Melagi, Melagineri, Wano Barat, Kwiyawage dan Goa Balim.

Ketujuh, tim dan semua elemen masyarakat Distrik Melagi, Melagineri, Wano Barat, Kwiyawage dan Goa Balim meminta Presiden Prabowo Subianto sebagai Panglimo Tertinggi Republik Indonesia untuk menarik pasukan non-organik dari Nduga. (*)