Tambang Freeport Lumpuh, Pertumbuhan Ekonomi Papua Langsung Anjlok

Kawasan eks tambang Grasberg milik PT Freeport Indonesia di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. Foto: M Nurhadi Pratomo

JAKARTA, ODIYAIWUU.com — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Maluku dan Papua melambat menjadi 2,68 persen pada kuartal III/2025 year-on-year (yoy) dari sebelumnya mencapai 6 persen pada kuartal III/2024.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh Edy Mahmud mengatakan, perlambatan pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua Tengah yang mengalami kontraksi cukup dalam.

Perekonomian Papua Tengah tercatat terkontraksi hingga -16,11 persen yoy. Adapun, kontraksi ini disebabkan oleh turunnya produksi tembaga dan emas PT Freeport Indonesia imbas insiden luncuran material basah di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) pada 8 September 2025.

“Papua Tengah negatif cukup besar karena kondisi kahar di Freeport sana yang disebabkan adanya luncuran material basah sehingga produksi bijih logam turun,” ujar Edy mengutip bisnis.com di Jakarta, Rabu (5/11).

Selain Papua Tengah, perlambatan ekonomi Maluku dan Papua juga dipengaruhi oleh kontraksi pertumbuhan ekonomi Papua Barat. Edy mengungkapkan perekonomian Papua Barat turut terkontraksi akibat adanya penurunan produksi gas alam cair atau LNG di wilayah tersebut.

BPS mencatat ekonomi Provinsi Papua Barat pada kuartal III/2025 mengalami kontraksi 0,13 persen yoy. “Peranan PDRB (produk domestik regional bruto) Papua Tengah dan Papua Barat berkontribusi sekitar 39,26 persen terhadap ekonomi Maluku dan Papua,” katanya.

Sebelumnya, Freeport-McMoRan Inc (FCX), induk PT Freeport Indonesia (PTFI), melaporkan bahwa insiden luncuran material basah dari bekas tambang terbuka Grasberg ke GBC membuat operasi penambangan dihentikan sementara.

Penghentian ini untuk memprioritaskan proses evakuasi tujuh anggota tim yang menjadi korban serta penyelidikan penyebab utama insiden.

Produksi tembaga dan emas PTFI anjlok pada kuartal III/2025. “Penghentian sementara operasi sejak insiden luncuran lumpur September 2025 telah mengurangi produksi sekitar 90 juta pound tembaga dan 80.000 ounce emas pada kuartal ketiga 2025,” tulis Freeport-McMoran Inc. dalam laporannya, dikutip Jumat (24/10/2025).

Bila diperinci, produksi tembaga PTFI mencapai 311 juta pound atau menurun 29,16 persen yoy pada kuartal III/2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 439 juta pound. Jika dilihat secara kumulatif untuk periode 9 bulan pertama tahun 2025, produksi tembaga mencapai 966 juta pound, turun 29 persen yoy dari 1,37 miliar pound pada 2024.

Sementara itu, produksi emas selama kuartal III/2025 mencapai 281.000 ounce, anjlok 37,69 persen yoy dari 451.000 ounce pada 2024. Secara kumulatif selama 9 bulan pertama 2025, produksi emas mencapai 876.000 ounce, turun 38 persen yoy dari tahun sebelumnya sebanyak 1,43 juta ounce.

Adapun, cebakan bijih GBC mewakili 50 persen dari estimasi cadangan terbukti dan terkira PTFI per 31 Desember 2024 serta sekitar 70 persen dari proyeksi produksi tembaga dan emas PTFI hingga 2029.

Freeport memperkirakan bahwa tambang Big Gossan dan Deep Mill Level Zone (DMLZ) yang tidak terdampak dapat memulai kembali operasinya pada kuartal IV/2025. Diikuti oleh pemulihan dan peningkatan produksi bertahap tambang bawah tanah GBC sepanjang 2026.

Berdasarkan skenario pemulihan bertahap ini, yang masih bergantung pada banyak faktor dan dapat berubah, produksi PTFI pada 2026 diproyeksikan sekitar 35 persen lebih rendah dibandingkan estimasi sebelum insiden. Adapun, estimasi sebelumnya sekitar 1,7 miliar pound tembaga dan 1,6 juta ounce emas. (*)