TAMBRAUW, ODIYAIWUU.com — Pihak Kepolisian Daerah (Polda) Papua Barat Daya, Kamis (19/3) mengamankan dua belas saksi terkait penyerangan terhadap empat tenaga kesehatan (nakes) yang berujung dua korban di antaranya meregang nyawa di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya.
Polisi juga menyita tujuh senapan angin hingga tombak dan anak panah. Selain itu, turut diamankan beberapa orang saksi atas dugaan keterlibatan dalam kasus pengadangan, pengeroyokan atau pembunuhan.
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) Polda Papua Barat Daya Kompol Jenny Setya Agustin Hengkelare mengatakan, 12 saksi tersebut diamankan pada Rabu (18/3) sekitar pukul 03.00 WIT.
“Mereka diamankan tim gabungan TNI dan Polri berdasarkan hasil penyisiran di sejumlah lokasi. Saat penyisiran menemukan serta mengamankan orang-orang yang diduga sebagai saksi,” ujar Jenny Setya Agustin Hengkelare di Sorong, kota Provinsi Papua Barat Daya, Kamis (19/3).
Menurut Jenny Setya Agustin Hengkelare, para saksi yang diamankan antara lain berinisial TY (28), LY (57), SY (19), AY (44), MY (29), BY, AY, TY, WY (49), dan PY (49), YJ. Dua di antaranya merupakan kepala kampung yakni AY selaku Kepala Kampung atau Kepala Desa Banfoot dan MY Kepala Kampung Bamusbama.
Polisi juga menyita barang bukti berupa 7 senapa angin, 7 parang, 4 noken, 3 tombak, 1 tikar, 11 anak panah, 1 kembang api, 1 senter, dua benda diduga jimat, 1 gembok kecil, 9 bungkus anggur kupu, 1 topi warna hijau.
Selain itu ada sebuah tas warna hitam, 5 handphone, sepasang sepatu, sebuah panah, dua sisir kayu, tiga cas HP, satu pak peluru senjata angin. Selanjutnya ada 3 buah korek api, 1 kalung berwarna emas, 4 kunci rumah dan satu ruas bambu.
“Motif dan peran masih dalam pendalaman dan penyelidikan lebih lanjut pihak kepolisian,” ujar Jenny Setya Agustin Hengkelare lebih lanjut.
Sebelumnya, diberitakan, empat orang nakes diserang orang tidak dikenal (OTK) di Kampung Jokbu, Distrik Bamusbama, Tambrauw pada Senin (16/3) sekitar pukul 11.37 WIT. Keempat korban yang mengendarai motor dan saling berboncengan tiba-tiba diadang oleh para pelaku.
“Telah terjadi penghadangan atau dugaan pengeroyokan dan penganiayaan terhadap empat orang pengendara sepeda motor oleh beberapa OTK,” kata Jenny Hengkelare di Sorong, Papua Barat Daya, Selasa (17/3).
Penyerangan itu mengakibatkan dua korban tewas berinisial YL dan YEB. Aparat gabungan TNI-Polri telah mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) dan mengevakuasi kedua korban tewas.
“Itu mengakibatkan dua korban (tewas) di antara empat orang tersebut, korban yang dua orang sempat melarikan diri untuk mencari perlindungan atau pertolongan atau bantuan, yaitu ke pos satgas TNI,” kata Jenny Hengkelare.
Jenny mengatakan aparat kepolisian masih melakukan pendalaman terkait peristiwa tersebut. Dia pun enggan menyebut pelaku penyerangan adalah anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB).
“Jadi saat ini masih dilakukan pendalaman-pendalaman terkait dengan kasus tersebut. Bahwa kita tidak bisa langsung men-judge bahwa itu adalah KKB,” katanya.
Suasana duka, (19/3) siang sangat terasa saat jenazah Yohanes Edwintus Bido (YEB) alias Edwin (24) tiba dan disambut tangis haru keluarga di Bandara H. Hasan Aroeboesman, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.
Edwin adalah tenaga kesehatan (nakes) korban penyerangan orang tak dikenal (OTK) di Tambrauw, Papua Barat Daya. Korban merupakan warga Desa Nduaria, Kecamatan Kelimutu, Ende, Flores
Jenazah Edwin diterbangkan dari Bandara El Tari Kupang, Pulau Timor menggunakan pesawat Wings Air dan tiba siang hari di Bandara Hasan Aroeboesman. Sejak pagi, keluarga, kerabat serta masyarakat telah memadati area bandara untuk menunggu kedatangan jenazah.
Suasana haru juga dialami kerabat saat prosesi penjemputan nakes asal Pulau Bunga (Flores) dihadiri pula Wakil Bupati Ende Dr drg Dominikus Minggu Mere, Kepala Kepolisian Resor Ende AKBP Yudhi Franata serta Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Ende Gabriel Dala.
Saat peti jenazah diturunkan dari pesawat, suasana haru tak terbendung. Tangis keluarga pecah, menggambarkan duka mendalam atas kepergian korban. Prosesi dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh seorang biarawati Katolik.
Setelah itu, jenazah dibawa ke RSUD Ende untuk dilakukan pergantian peti jenazah. Usai proses tersebut, jenazah kemudian diberangkatkan menuju rumah duka di Desa Nduaria, Kecamatan Kelimutu. Iring-iringan kendaraan roda dua dan roda empat mengantar perjalanan terakhir korban menuju kampung halaman.
Peristiwa tragis yang menimpa Edwin menambah daftar kasus kekerasan oleh OTK di wilayah Papua Barat Daya, sekaligus meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan masyarakat Ende.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, penyerangan terjadi di sekitar Kampung Jokbu, Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya pada Senin (16/3) pukul 11.37 WIT.
Insiden bermula saat empat nakes sedang menempuh perjalanan pulang dari Rumah Sakit Pratama Fef, Tambrauw menuju Sorong. Setiba di wilayah Kampung Jokbu (Banfot), kendaraan mereka mendadak diadang sekelompok orang.
Dalam situasi mencekam tersebut, dua nakes bernama Hamzah dan Robby berhasil menyelamatkan diri. Keduanya berlari ke Pos TNI Distrik Bamusbama untuk mencari perlindungan dan melaporkan kejadian.
Namun, dua rekan mereka Yeremia Lobo dan Edwin, tertinggal di lokasi dan ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Hingga kini, aparat keamanan masih melakukan penyelidikan mendalam untuk mengungkap identitas pelaku dan motif di balik penyerangan tersebut.
“Ponakan dari istri saya datang ke Papua Barat Daya bulan Januari 2025 untuk mencari kerja. Kemarin dia masih bersama kami di tempat tugas di Kabupaten Tambrauw,” ujar paman korban Reinhard Nussy (30), Selasa (17/3).
Menurut Reinhard, selama berada di Sorong hingga Tambrauw, Edwin dikenal sebagai pribadi yang ceria, terbuka, dan mudah bergaul. Ia diajak keluarga untuk berkunjung sekaligus melihat peluang kerja di wilayah tersebut.
Selama di Tambrauw, Edwin lebih banyak berada di lingkungan tenaga kesehatan dan tidak pernah bepergian sendiri. “Saat mendapat kabar sekitar pukul 12.00 WIT bahwa Edwin meninggal, saya sangat kaget. Saat itu posisi saya sedang jauh dari Fef,” katanya.
Gabriel Dala mengatakan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ende sudah berkoordinasi dengan keluarga korban terkait penjemputan jenazah.
“Pemda Ende sudah berkoordinasi dengan keluarga korban dan akan menjemput jenazah di bandara besok menggunakan mobil ambulans Pemda Ende dan mengantar ke rumah duka di Nduaria,” ujar Gabriel.
Atas nama Pemkab Ende, Gabriel juga menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan Pemkab Tambrauw yang telah memfasilitasi pemulangan jenazah korban penyerangan orang tak dikenal.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Ende, kami menyampaikan terima kasih banyak kepada Pemda Tambrauw yang telah memfasilitasi pemulangan jenazah warga Kabupaten Ende,” ujar Gabriel. Selamat jalan, Aji (Adik) Edwin. Damailah di sisi-Nya. (*)










