DAERAH  

Pemimpin ULMWP Terbitkan Seruan Politik di Tengah Situasi Rakyat Papua yang Terus Ditindas

President Executive ULMWP Menase Tabuni (kiri) dan Secretaris Executive Markus Haluk (kanan). Foto: Istimewa

JAYAPURA, ODIYAIWUU.com — Para pemimpin Persatuan Gerakan Pembebasan Papua Barat atau United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), Senin (16/3) mengeluarkan seruan kepada seluruh rakyat Papua bekerja menyiapkan bahan makanan menghadapi hari esok di tengah situasi Bangsa Papua yang terus terkepung, tertindas, dan dibunuh tanpa ampun.

Pemimpin Eksekutif ULMWP periode 2023-2028 yang terdiri dari President Executive Menase Tabuni, Wakil President Executive Octovianus Mote, dan Secretaris Executive Markus Haluk mengeluarkan seruan menyusul seruan spiritual pada Jumat (6/3) lalu.

“Syukur bagi-Mu, ya Tuhan! Kepala seluruh rakyat bangsa Papua. Kini, dengan penuh kesadaran akan waktu yang semakin mendesak, kami kembali berseru atas nama rakyat Bangsa Papua, mulailah menyiapkan bahan makanan masing-masing sebagai bekal hidup dalam menghadapi pelbagai kemungkinan risiko terburuk di tanah Papua dan dalam kehidupan kita,” ujar Markus Haluk melalui keterangan tertulis dari Jayapura, Papua, Senin (16/3).

Dalam seruan tersebut, ULMWP menyampaikan beberapa ajakan. Pertama, kembali pegang alat-alat kerja, mengolah tanah, bekerjalah di kebun menanam bahan makanan tradisional Melanesia–West Papua. Kedua, pangkurlah sagu sebagai makanan asli kita, dan siapkanlah dalam jumlah yang cukup.

Ketiga, pohon sagu yang telah ditebang habis oleh pemerintah kolonial Indonesia demi kepentingan industri, perkebunan sawit, persawahan, dan perumahan, carilah lokasi-lokasi baru untuk menanam sagu dan bahan makanan tradisional lainnya.

Keempat, peliharalah hewan ternak sebagai sumber protein: babi, sapi, ayam, telur. Kelima, cari dan siapkan hasil laut dan danau, khususnya segala jenis ikan. Sekali lagi, laksanakan seruan ini dengan penuh tanggung jawab, tanpa menunda waktu.

UMLWP juga menyerukan kepada seluruh kaum pria Bangsa Papua, di mana pun dan dalam keadaan apa pun, bangkit dan lakukanlah secara sadar serta bertanggung jawab sebagai seorang bapa dalam kelangsungan hidup keluarga dan bangsa.

Sedangkan kepada ibu-ibu dan seluruh perempuan Papua, mulailah berhemat dan mencicil bahan makanan yang diperlukan keluarga. Kepada anak-anak dan kaum muda, bersiaplah untuk hadapi semua hal, membelah tanah air Papua dan hentikanlah mental boros dan kebiasaan banyak jajan. Mulailah serius menyimpan dana di rumah atau tempat yang aman untuk dapat dipergunakan dalam situasi-situasi mendesak.

“Kepada para Pemimpin, tokoh adat, dan tokoh perempuan dari masing-masing klen, subsuku, hingga suku, arahkanlah anggota suku dan komunitasmu untuk menjaga diri, bekerja di kebun dan menyiapkan makanan apabila masa sulit tiba,” kata para pemimpin ULMWP dalam seruan itu.

Sedangkan, kepada para pemimpin agama diminta menyerukan dari mimbar-mimbar resmi untuk mengarahkan umat sungguh-sungguh berdoa memohon belas kasih dan perlindungan Tuhan bagi keluarga, agama, dan Bangsa Papua. Meminta umat untuk berdoa pada Jam Kerahiman Ilahi setiap pukul 15.00 sore waktu Papua.

Kemudian, kepada para pejuang, organisasi taktik dan strategis perlawanan bangsa Papua di bidang sipil-politik, pertahanan, dan diplomatik, di mana pun berada diminta agar masing-masing melakukan koordinasi dan konsolidasi internal untuk berdoa dan bekerja menyiapkan bahan makanan.

“Hentikan segala perdebatan, tinggalkan ego pribadi. Mari kita laksanakan doa dan kerja dengan sungguh-sungguh, memperkuat eksistensi persatuan melalui rekonsiliasi dan doa, agar Tuhan menyatukan kita dalam satu persekutuan Papua yang sejati, lahir dari sikap tobat kita masing-masing demi mewujudkan kemerdekaan dan kedaulatan politik bangsa Papua,” katanya.

Selain itu, kepada sesama saudara bangsa Indonesia dan warga negara lain yang berada di tanah Air West Papua, disampaikan agar bersiap, berhemat, dan mendukunglah seruan ini. Saudara dilahirkan, dibesarkan, dan tinggal di tanah ini.

Karena itu, sesama saudara memiliki kewajiban moral dan material untuk mendukung seruan ini dan perjuangan pembebasan nasional Bangsa Papua. Ingatlah, perjuangan bangsa Papua tidak mengenal rasisme.

ULMWP berjuang demi masa depan, masa depan kita semua. Inilah saat yang tepat untuk mengikuti seruan ini, berpartisipasi dengan segenap potensi yang ada, bekerjasama, dan membantu menyelamatkan tanah, manusia, dan hutan Papua.

“Seruan ini lahir pertama-tama dari situasi nyata yang sedang kita hadapi di tengah pendudukan Indonesia: bangsa Papua terus terkepung, tertindas, dan dibunuh tanpa ampun. Di saat yang sama, kita diingatkan untuk tidak melupakan sejarah identitas dan spiritualitas kepada Tuhan yang menciptakan dan menempatkan kita di tanah ini dengan kembali kepada makanan tradisional,” ujar para pemimpin itu.

Selain itu, situasi politik dunia tidak sedang baik-baik saja. Konflik Israel dan Amerika Serikat melawan Iran, Rusia melawan Ukraina, sedang berkobar. Dampaknya mulai dirasakan: banyak negara, termasuk Indonesia mengalami defisit anggaran yang tidak sedikit. Harga bahan bakar minyak akibat ketegangan di Timur Tengah mulai terasa.

“Kemungkinan ke depan bisa lebih sulit dari saat ini mungkin melebihi krisis moneter dan ekonomi di Indonesia tahun 1998. Bahkan, eskalasi konflik ini dapat memicu Perang Dunia Ketiga atau perang nuklir antara negara-negara besar. Akibatnya akan melahirkan situasi krisis ekonomi, kemanusiaan, dan bencana ekologis yang mengerikan bagi seluruh umat manusia di planet bumi ini, tanpa terkecuali,” katanya lebih lanjut.

Menurut ULMWP, menghadapi kemungkinan ancaman semacam itu, muncul pertanyaan retoris: di manakah posisi kita, bangsa Papua? Bagaimana nasib tanah dan manusia Papua ke depan? Dalam segala situasi dan pertanyaan ini, ULMWP mengajak rakyat Papua dengan sungguh-sungguh berdoa setiap hari pukul 15.00 sore dan bekerja di kebun menyiapkan bahan makanan.

“Demikian seruan untuk bekerja dan menyiapkan bahan makanan ini kami keluarkan, agar secara bersama dan bertanggung jawab dilaksanakan oleh kita semua, tanpa terkecuali. Tuhan memberkati langkah dan kerja kita,” ujar Menase, Mote, dan Haluk. (*)