FERDINANDA W Ibo Yatipai tutup usia. Maut menjemputnya, Selasa (27/1). Jenazah Mama Yatipai, mantan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia itu disemayamkan di rumah duka keluarga Ibo di Sowi 1, Manokwari, kota Provinsi Papua Barat.
Kabar duka duka menyelimuti anak-anak, cucu, keluarga besar, dan masyarakat tanah Papua. Semasa hidup, mendiang Mama Yatipai dikenal sebagai seorang tokoh perempuan, pejuang kemanusiaan, politisi sekaligus saksi dan pelaku sejarah penting perjalanan bangsa Papua.
Mama Yatipai adalah salah satu sosok penting dan tim paduan suara peristiwa bersejarah pengibaran bendera Bintang Kejora berdampingan dengan de Nederlandse vlag, bendera nasional Belanda berbentuk horizontal dan berwarna merah, putih, dan biru.
Mama Yatipai ambil bagian dalam pengibaran bendera dua negara itu diiringi lagu Hai Tanahku Papua dan Wilhelmus van Nassouwe pada Kamis, 1 Desember 1961 di depan Gedung New Guinea Raad, Taman Imbi, Jayapura.
Pada peristiwa bersejarah tersebut, Mama Yatipai masih berstatus pelajar di Sekolah Kesehatan Dok II Jayapura. Dalam kesaksiannya, ia menuturkan bahwa pada Kamis (1/12 1961) sejak pukul 05.00 WIT, para pelajar telah bersiap di asrama dan bersama para pembina diarahkan menuju Dok V, kediaman pimpinan Pemerintah Belanda.
Dok V itu sekaligus tempat penyimpanan Bendera Belanda dan Bintang Kejora. Dari sana, ribuan pelajar bersama tim drum band bergerak menuju lapangan upacara di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat.
Saat itu, Mama Yatipai berbaris bersama rekan-rekannya di belakang tim paduan suara dan mengikuti upacara tersebut. Upacara itu merupakan bagian penting sejarah keterlibatan generasi muda tanah Papua yang menyaksikan lahirnya harapan dan martabat orang Papua.
Dua tahun kemudian, Mama Yatipai ditugaskan selama enam bulan sebagai tenaga kesehatan di Rumah Sakit (RS) Enarotali, Paniai, (kini) Provinsi Papua Tengah. Namun, tak lama ia dipindahkan ke Rumah Sakit Kota Manokwari, (kini) Papua Barat tahun 1963.
Pada tahun 1965, di tengah konflik bersenjata antara militer Indonesia dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat, sayap militer Organisasi Papua Merdeka (TPNPB OPM) di wilayah Manokwari, Arfak, Manokwari Selatan, Tebar, Maybrat, Sorong, dan Bintuni, ia memimpin tim perawat untuk memungut dan merawat para korban konflik.
Mereka yang masih hidup dirawat dengan penuh cinta. Sedangkan mereka yang gugur dikuburkan dengan hormat sebagai manusia bermartabat. Tindakan ini menjadi bukti nyata keberpihakan Mama Yatipai pada nilai-nilai kemanusiaan di tengah kekerasan dan ketakutan yang mendera kala itu.
Mama Yatipai juga dikenal luas sebagai pejuang hak asasi manusia (HAM), aktif bersama Dewan Adat Papua (DAP) dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat adat Papua. Ia merupakan tokoh perempuan Papua yang gigih membela hak-hak perempuan Papua, baik melalui gerakan adat maupun melalui lembaga negara.
Dalam jagat politik nasional, Mama Yatipai terpilih sebagai DPD RI Daerah Pemilihan (Dapil) Papua periode 2004–2009. Pada Pemilu 2009, Mama Yatipai kembali mencalonkan diri dan meraih 210.413 suara sah, menempatkannya pada peringkat lima suara terbanyak.
Mama Yatipai kemudian dilantik menjadi Anggota DPD RI melalui mekanisme penggantian antar waktu (PAW) pada 24 Oktober 2012, menggantikan Tonny Tesar yang mengundurkan diri pada 10 September 2012 setelah dilantik sebagai Bupati Kepulauan Yapen.
Pelantikan tersebut dilakukan langsung Ketua DPD RI menandai kembalinya Mama Yatipai sebagai anggota DPD RI untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya juga menjabat sebagai senator Papua.
Sebagai Anggota DPD RI asal Papua dengan nomor keanggotaan BA-129, Mama Yatipai secara konsisten memperjuangkan aspirasi rakyat Papua di tingkat pusat. Salah satu kontribusi pentingnya adalah upaya memulangkan anak-anak Kristen Papua yang secara ilegal dibawa ke pesantren-pesantren di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) dan Yogyakarta.
Anak-anak asli Papua ini diiming-iming pendidikan gratis, namun pada praktiknya berujung pada pemaksaan dan pengaburan identitas iman. Keberpihakan Mama Yatipai pada hak anak dan kebebasan beragama menjadi warisan perjuangan yang bermakna dan berani.
Mama Yatipai juga dikenal sebagai Koordinator Jaringan Doa Papua–Israel. Ia konsisten menolak kebijakan pemekaran provinsi di tanah Papua. Mengapa menolak? Jawabannya, langkah (pemekaran) itu berpotensi memecah belah rakyat Papua dan melemahkan persatuan masyarakat adat.
Ziarah Mama Yatipai terhenti. Cinta Tuhan melampaui cinta keluarga besar. Mama Yatipai memenuhi panggilan Tuhan, sang Sabda. Selasa (27/1) ia menutup mata selamanya.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam. Di tengah doa yang menjulang dalam khusuk, jejak sejarah pengabdiannya bagi masyarakat tanah Melanesia tetap terawat dalam memori kolektif warga tanah Papua.
Legasi indah Mama Yatipai: cinta yang paripurna bagi keluarga dan tanah leluhurnya, keberanian, dan komitmen pada perjuangan kemanusiaan tanpa batas yang terus membekas.
Mama Yatipai bukan sekadar saksi sejarah rezim yang berganti sejak tempo doeloe. Lebih dari itu, ia pelaku sejarah dan penjaga nurani bangsa Papua. Namanya terukir indah; kasihnya melampaui batas hingga tepian waktu kala ia menjawab suara dalam cinta paripurna: “Ya Tuhanku dan Allahku.. Aku rindu memenuhi panggilan-Mu.” Selamat jalan, Mama Ferdinanda W Ibo Yatipai.
Terima kasih baktimu untuk tanah Papua, negeri tertabur susu dan madu. Doa kami semua mengiringi langkahmu menuju rumah Tuhan; akhir ziarah setiap pengikut Kristus Yesus. Damailah di sisi-Nya. (*)
Elias Ramos Petege
Keluarga Mama Ibo Yatipai










