OPINI  

FX Mote, Pemimpin Perubahan di Waropen

Frans Maniagasi, Pengamat Sosial Politik Papua. Foto: Istimewa

Oleh Frans Maniagasi

Pengamat Sosial Politik Papua

DALAM diskusi, seminar atau pembicaraan sehari-hari kita dihadapkan pada dua kata yang hampir mirip ialah pemimpin dan pimpinan. Apa perbedaan dua kata itu: pemimpin dan pimpinan. Sekilas dapat diberikan deskripsi tentang siapa yang dimaksud pemimpin dan pimpinan. Dua terminologi ini dapat diuraikan sekilas berikut.

Pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi, memotivasi dan menginspirasi orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Pemimpin dapat memiliki posisi formal atau informal dalam suatu organisasi atau institusi (pemerintahan) dan tidak selalu memiliki wewenang atau kekuasaan.

Sedangkan pimpinan seseorang yang mempunyai posisi atau jabatan formal dalam suatu institusi, organisasi seperti dipemerintahan dan pemimpin memiliki otoritas dalam memberikan arahan serta membuat keputusan. Pimpinan memiliki tanggung jawab untuk mengelola sumber daya (SDA) guna mencapai tujuan.

Jadi perbedaan utama antara pemimpin dan pimpinan adalah pimpinan lebih pada pendekatan kultural yang memiliki kemampuan memotivasi dan menggerakan orang untuk mencapai tujuan bersama. Sementara pimpinan lebih pada struktural birokrasi dan memiliki otoritas dan kemampuan mengekstraksi sumber daya untuk merealisasikan tujuannya.

FX Mote, Pemimpin dan Pimpinan

Dalam konteks ini saya berpendapat bahwa Drs Fransiscus Xaverius Mote, M.Si, Bupati Kabupaten Waropen mampu mengelaborasi dan mengimplementasikan dua corak kepimpinan ini. Artinya, FX Mote mampu memainkankan dan mengkombinasikan dua karateristik sebagai pemimpin (kultural) sekaligus pula sebagai pimpinan (struktural) di Kabupaten Waropen.

Awal pemerintahannya bersama Wakil Bupati, pada apel perdana mau pun apel berikutnya selalu disosialisasikan dan diedukasi nilai-nilai disiplin, ketaatan dan loyalitas pada aparatur sipil negara (ASN). Loyalitas pada negara, tugas dan pimpinan.

Nilai ini menjadi satu kesatuan dalam sistem kerja dan network; ibarat dinamo dalam kendaraan yang menggerakkan mesin untuk mendinamisasi birokrasi pemerintahan pada setiap bagian organisasi perangkat daerah (OPD), sehingga membutuhkan kerjasama, solidaritas dan soliditas serta kekompakan. Nilai-nilai ini yang tidak kita jumpai selama hampir 18 tahun pada masa pemerintahan para kepala daerah sebelumnya.

Fransiscus Xaverius Mote menjadi istimewa lagi tatkala para ASN tepat waktu dalam menerima gaji setiap bulan secara online. Menerima gaji tepat waktu bagi ASN menjadi “oli”; minyak pelumas yang memperlancar kerja dan memberikan rasa aman sebagai garansi untuk mesin birokrasi pemerintahan di Waropen.

Plus menambah spiritualitas bekerja dalam rangka meningkatkan produktivitas pelayanan publik dan kelancaran pelaksanaan program-program pembangunan, meski pun di tengah suasana pemangkasan anggaran dari pemerintah pusat. Mote berhasil me–wongke–, memanusiakan ASN di Waropen.

Meminjam ajaran filosofi Aristoteles yang disebut bios kehidupan politik dan pemerintahan yang etis dan bermakna diletakkan pada diri setiap ASN, sehingga mereka merasa adanya penghormatan dan penghargaan terhadap martabat kemanusiaannya (values).

Pada level masyarakat pembangunan misalnya aspek perhubungan laut dengan sandarnya kapal Pelni (kapal putih) di Pelabuhan Waropen menunjukkan FX Mote selaku Bupati Waropen sukses membongkar semua bentuk apriori bertahun-tahun bahwa kapal putih tak bisa hadir di daerah ini.

Dengan mematahkan mitos dan apriori tersebut Bupati mendeklarasikan bahwa Waropen sebuah wilayah di Pantai Utara (Pantura) yang terisolir selama ini. Namun, dengan otoritas dan kerja kerasnya sebagai pimpinan dan pemimpin yang mumpuni mampu menaklukkan alam dan menyingkirkan mitos Waropen dapat menghadirkan Kapal Pelni untuk masyarakat di kabupaten bertajuk Negeri Seribu Bakau.

Pada konteks semacam itu kehidupan pemerintahan dan masyarakat tidak difahami sebagai obyek regulasi eksternal belaka, tapi sebagai bentuk yang dijalani, forma vitae. Artinya menurut perspektif FX Mote bekerja itu bukan saja pencerabutan kehidupan dari bentuknya tapi bagaimana mengelola kehidupan masyarakat Waropen sebagai subyek dan obyek utama.

Dengan kata lain, hal ini menunjukkan bahwa transformasi melalui pembangunan dapat dilakukan tanpa merubah tatanan nilai dan adat istiadat sebagai soko guru utama melalui cara hidup bersama berdasarkan cinta kasih, kanino baroko.

Atau dalam pemikiran para filosofi disebut dengan inoperasita. Artinya, bukan pasif tapi membuat kehidupan masyarakat menjadi relevan sehingga dapat beradaptasi dengan lingkungan fisik maupun non–fisik.

Merawat Kelestarian Hutan Bakau

Kekayaan SDA Waropen yang sebagian besar wilayahnya didominasi dengan hutan bakau menjadi sumber mata pencaharian, pendapatan dan penghasilan bagi keberlanjutan hidup masyarakat Negeri Seribu Bakau tanpa menihilkan atau mengeksploitasi SDA secara brutal.

Argumentasinya, di hutan bakau itu terkandung makna substantif dan filosofis serta nilai nilai sosia kultural kehidupan orang Papua Waropen. Seperti yang dikaji antropolog GJ Held dalam Papoea,s van Waropen (1947) atau Orang Papua dari Waropen. Ekologi hutan bakau itulah terrefleksi tentang kehidupan sosial-kultural, mitologi, struktur sosial, pernikahan dan perdagangan orang Waropen dengan dunia luar.

Ontologi ekologi bakau Fransiscus Mote mendorong bentuk kehidupan yang dihayati tanpa menjadi subyek hukum kepemilikan. Artinya, kehidupan tak boleh dipahami sebagai obyek regulasi eksternal tapi sebagai bentuk yang mesti dijalankan. Kehidupan tak boleh statis tapi mesti dinamis mengalami sirkulasi bukan pasif tapi dinamis.

Dinamika itu menegasikan bahwa jangan sampai terjadi eksploitasi sumber daya alam dengan ekologi bakau yang menjadi basis fisik ditiadakan, namun tugas masyarakat bersama pemerintah untuk melestarikan bahkan untuk berkelanjutan masa depan Waropen khususnya dan Papua pada umumnya. Bakau menjadi penjaga utama kehidupan masyarakat Waropen.

Betapa mengerikan jika pembangunan yang dilaksanakan hingga membuldozer ekologi bakau. Jika bakau itu dihancurkan maka saat itu masyarakat Waropen bukan saja kehilangan pemukiman fisik tapi juga identitasnya sebagai orang Papua Waropen pun mengalami degradasi dan krisis identitas.

Tanpa Polarisasi

Penulis mengenal FX Mote sejak dekade awal 1990-an tatkala ia berkarier di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Republik Indonesia. Fransiscus Xaverius Mote menunjukkan keyakinan bahwa transformasi suatu masyarakat bisa dilakukan tanpa mesti semata-mata dari ikatan kesukuan dan etnisnya dari wilayahnya sendiri (putra daerah).

Namun lewat perubahaan yang mensinkronkan corak pemimpin dan pimpinan yang berbasis pada cultural values, filosofi dan ekologi masyarakat lokal lain pun tesis tersebut justru dijungkir balikannya.  Keyakinannya masyarakat yang mau berubah tanpa polarisasi antara absolutisme dan sinisme, kesetiaan tanpa fanatisme. Itulah yang hendak dibuktikan dan dilakukan oleh FX Mote selaku Bupati di Waropen.