Esai: Estetika Keluhuran dalam Kukila M Aan Mansyur

Alisia, Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma. Foto: Istimewa

Oleh Alisia

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma

DUNIA sastra, kini sering kali membuat banyak orang terjebak dalam kesalahpahaman maksud dan pemikiran yang dangkal antara karya yang dianggap “berat”. Muatan ideologis atau karyanya kerap dicap sebagai “sastra wangi”. Sebuah label kontroversial yang sempat menyudutkan penulis, terutama penulis perempuan karena dianggap mengeksploitasi tubuh dan seksualitas.

Di dunia modern yang disertai dengan media sosial kini membuat apapun cepat tersebar. Karena hal ini publik menghakimi penulis dan sering kali menelan sebuah karya sebelum sempat dicerna. Cerpen Kukila karya M Aan Mansyur muncul sebagai anomali yang membakar.

Jika “sastra wangi” sering dituduh hanya menawarkan wewangian permukaan yang segera pudar, Kukila justru menyulut api dari dalam batin manusia. Buku ini membuktikan bahwa seksualitas, perselingkuhan, dan luka domestik bukanlah sekadar bumbu sensual.

Ia juga medan pertempuran moral yang membutuhkan keberanian besar untuk dibicarakan. Di sinilah teori keluhuran dari Longinus menemukan relevansinya. Kukila tidak hadir sekadar untuk menyenangkan mata; ia juga membuat pembaca keluar dari zona nyamannya.

Longinus menyatakan bahwa prinsip pertama keluhuran adalah “daya wawasan yang agung”. Dalam cerpen yang penulis pilih kali ini: Kukila (Rahasia Pohon Rahasia) Aan tidak sekadar mengisahkan tentang skandal rumah tangga yang lazim. Di era seperti sekarang kita kerap menemui hal serupa di kolom gosip digital.

Cerpen ini mengangkat pengkhianatan menjadi sebuah perenungan filosofis tentang ingatan dan waktu. Cerpen Aan ini tidak sedang menyajikan drama perselingkuhan murahan yang sering kita temui di media sosial bahkan dunia nyata. Namun, ia mengajak kita melihat bagaimana rahasia itu bekerja di dalam batin seseorang.

Tokoh Kukila di sini tidak melihat kesalahannya sekadar sebagai “aib” atau “kotoran” yang memalukan. Ia juga sebuah “hutan” yang tumbuh rimbun di dalam dadanya. Di sini penulis mencoba menghubungkan perasaan manusia yang rapuh dengan hukum alam.

Bahwa rasa bersalah itu tumbuh dan mengakar seperti pohon. Di saat masyarakat kita saat ini sangat cepat menghakimi orang lain hanya sebagai “orang baik” atau “orang jahat”, Aan menawarkan cara pandang yang lebih dewasa. Di balik setiap kesalahan manusia, ada kerumitan perasaan dan luka masa lalu yang butuh ruang luas untuk dipahami.

Longinus percaya bahwa karya yang hebat harus memiliki emosi atau gairah yang kuat. Para pembaca juga diharapkan dapat merasakan adanya api ketika mereka membaca sebuah karya. Dalam Kukila Aan, emosi yang ditampilkan bukan sekadar marah atau sedih biasa, melainkan perasaan yang sangat dalam.

Pembaca seakan bisa merasakan bagaimana Kukila tersiksa oleh rasa bersalah sekaligus rasa cinta, bagaimana keadaan membuat tokoh Kukila menjadi serba salah dalam hidupnya, dan salam cerita ini tidak ada tokoh yang benar-benar dapat dikatakan salah dan benar.

Longinus mengatakan bahwa tulisan yang bagus adalah yang bisa membuat pembacanya ikut “pindah” ke dalam cerita. Cerpen Kukila bisa demikian, dapat membawa pembaca ikut pindah ke dalam cerita. Saat membaca surat-surat Kukila, kita tidak lagi hanya menjadi orang luar yang menonton, tetapi ikut merasakan beban berat di dalam hatinya.

Selanjutnya adalah retorika yang unggul atau cara Aan bercerita kerap dapat dikatakan istimewa. Di sini penulis sangat pintar menyusun kata-katanya menjadi kalimat yang tidak biasa sehingga apa yang ia sampaikan terasa hidup.

Ia tidak hanya bilang “Kukila merasa sedih,” tetapi ia menggunakan perumpamaan yang kuat, seperti menyebut bulan September membawa “neraka” ke dalam rumahnya.

Di zaman sekarang, banyak orang sering berbicara kasar atau sekadar ikut-ikutan tren di media sosial. Namun, di sini gaya bahasa dalam Kukila mengingatkan kita bahwa kata-kata bisa menjadi sangat indah dan ajaib jika digunakan atau ditempatkan dengan kata-kata yang tidak biasa.

Cara bercerita seperti ini membuat kita seolah-olah tersihir dan masuk ke dalam dunia Kukila, sampai dapat membuat kita merenung lebih jauh tentang hidup kita sendiri.

Retorika ini juga terkadang dapat menyeret pembaca untuk tidak hanya membaca, tetapi meresapi kepedihan yang estetis, menciptakan efek transport yang membuat kita sejenak lupa akan realitas di luar buku.

Meski cerpen Aan membahas hal-hal sensitif yang sering dianggap tabu oleh masyarakat. Namun, penulis tidak menyajikannya dengan kasar atau vulgar. Diksi dalam cerpen ini membuat cerita yang kontroversial tetap terasa terhormat dan bermartabat.

Aan dapat dikatakan berhasil mengubah hal yang “gelap” menjadi sebuah karya seni yang indah untuk dinikmati. Inilah inti dari keluhuran dalam buku ini ialah kemampuan untuk membicarakan hal yang paling pahit sekalipun dengan bahasa yang anggun. Keluhuran juga membutuhkan tatanan yang baik dalam ceritanya.

Dalam Kukila Aan menyusun kepingan memori dan surat-surat dengan ritme yang sangat terjaga. Ia mengatur kapan sebuah rahasia harus muncul dan kapan ia harus meledak. Struktur yang rapi ini penting agar pesan yang besar tidak terasa berantakan.

Dengan pengaturan yang teliti, pembaca bisa merasakan proses “sublimasi” itu secara perlahan—mulai dari merasakan luka tokohnya hingga sampai pada puncak pemahaman tentang hidup.

Melalui Kukila kita belajar, pada akhirnya kita harus berani mengakui sebuah kejujuran yang pahit: bahwa setiap manusia memiliki “September” dan “pohon mangga”-nya masing-masing —sebuah ruang gelap berisi rahasia yang tak sanggup kita bicarakan di meja makan.

Kehebatan tokoh utama, Kukila, bukan terletak pada kemampuannya menyembunyikan dosa, melainkan pada keberaniannya untuk menelanjangi kemunafikan kita yang sering berlagak suci.

Melalui perspektif Sublime Longinus, karya ini secara tegas menggugat kita: jika kita masih menghakimi Kukila, itu bukan karena kita lebih bermoral, melainkan karena kita terlalu takut untuk mengakui bahwa diri kita juga rapuh. Sastra yang luhur adalah sastra yang tidak mematikan api rahasia tersebut, melainkan menjadikannya cahaya untuk melihat ke dalam diri.

Berhentilah menuntut sastra untuk selalu menjadi “wangi” atau bersih; karena terkadang, keluhuran sejati hanya bisa ditemukan di dalam pengakuan yang jujur atas luka dan kegelapan yang selama ini kita kubur dalam batang-batang pohon sejarah kita sendiri.