Oleh Humaerah Nur’izzatinnisa
Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma
BAYANGKAN sebuah cerita lahir dari rahim yang gelap dan tabu, menyusuri pada luka kolektif umat manusia. Sebuah api liar yang membakar batas norma, meninggalkan abu keluhuran yang tak terlupakan.
Dalam cerita pendek (Cepren) Menyusu Ayah karya Djenar Maesa Ayu, kita tak sekadar membaca prosa, alur dan tokoh-tokohnya, tetapi kita diseret ke jurang dalam tentang keluhuran. Bahasa yang berani, kuat, dan tidak konvensional menjadi petir yang merobek langit moralitas.
Seperti api yang menyala di dada penulis ketika membaca, cerita ini membangkitkan getaran tak terkendali, mengguncang jiwa hingga ke relung terdalam. “Sastra selangkangan”. Itulah julukan untuk karya sastra Djenar Maesa Ayu, penulis Indonesia kelahiran 1973.
Karya-karya Djenar dikenal provokatif dan vulgar. Passion djenar terpusat pada eksplorasi dunia perempuan, feminis, seksualitas, dan kiritik sosial yang tabu di masyarakat Indonesia.
Ia dengan keras menentang norma patriarki melalui narasi berani tentang ketraumaan, pengkhianatan, dan kebebasan tubuh perempuan. Menyusu Ayah merupakan cerpen terbaik Jurnal Perempuan tahun 2002.
Keluhuran Djenar muncul dari keberanian moralnya menyuarakan yang terlarang. Ia menolak penyensoran seks sebagai hal yang tabu, melainkan itu adalah kejahatan manusia.
Di era yang semakin maju ini, banyak sekali gerakan anti-kekerasan menggema di media sosial Indonesia. Ada banyak korban kekerasan seksual yang mengalami luka trauma yang mendalam, dan bahkan pelaku yang tidak diberi hukuman yang setimpal.
Cerita-cerita Djenar ini muncul sebagai oposisi biner yang tajam: antara diamnya korna dan teriakan narasi. Djenar tidak sekadar bercerita. Dengan gaya pemilihan kata yang khas, ia mendobrak stigma aturan sastra.
Di awal mula Djenar menulis cerita pendek, ia selalu menghadirkan kontroversial yang kuat dan menantang. Ia berani mengangkat cerita yang menggambarkan hubungan insestual antara anak perempuan dan ayahnya dengan kejujuran, melawan patriarki yang masih menindas perempuan di masyarakat kita.
Djenar tidak menulis sembarangan. Ia menulis untuk menyuarakan rasa trauma yang dibungkam oleh keadaan. Cerpen Menyusu Ayah bukan sekadar fiksi. Ia cerminan sosial yang membara, memaksa kita menghadapi binar suci-dosa, norma-tabu, yang kian relevan di tengah maraknya pengakuan korban kekerasan seksual ataupun kekerasan dalam rumah tangga.
Perlu kita perhatikan bersama, Djenar hanya jujur menulis, hingga lahirlah aneka karya yang apik dan murni. Tanpa kita sadari, ada keluhuran yang murni di dalam karya Djenar. Keluhuran (sublime) adalah bidang estetika yang interdisipliner (filsafat, sastra bahkan matematika).
Keluhuran melibatkan pengalaman agung (greatness) yang membangkitkan kekaguman sekaligus ketakberdayaan. Dalam On the Sublime (Peri Hyposous), Longius melengkapi poetics Aristoteles dengan fokus pada kekuatan ekspresif tulisan yang melampaui aturan estetika-retorika untuk mencapai hypsous (keluhuran atau keagungan).
Seperti kata yang terbang dari kertas ke dada pembaca, Menyusu Ayah menghubungkan keestetikaan naratif ke kenyataan traumatis. Cerpen ini, dengan gaya Djenar yang fragmatis dan intim, bukan sekadar menggambarkan hubungan inses. Ia menyusup pula dalam realitas sosial, di mana tabu keluarga menjadi luka yang mendalam di kenyataan saat ini.
Sumber pertama keluhuran dalam cerpen Meyusu Ayah karya Djenar ini berasal dari kekuatan pikiran dan perasaan. Longius menegaskan bahwa sublime dimulai dari “besarnya jiwa” penulis, yang mampu menangkap esensi universal melalui pengamatan yang tajam.
Djenar, putri Jawa yang dibesarkan di Jakarta, menuangkan pikiran agungnya ke dalam narator anak perempuan yang “menyusu ayah” (bukan dalam makna leksikal) melainkan metaforis yang di mana ada ketergantungan emosional yang menyimpang menjadi ketergantungan fisik.
Frasa “nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lebih lemah dari laki-laki” membangkitkan perasaan kuat, campuran nostalgia seorang anak perempuan dan ketakutan orang dewasa, seperti api yang menyala tiba-tiba. Ini bukan sekadar erotisme murahan, namun ledakan emosi yang melampaui norma.
Pembaca merasa terbang ke level pengertian baru tentang trauma, mirip bagaimana Rumi mengangkat puisi cintanya ke ranah Ilahi. Di realitas Indonesia sekarang, di mana survei Komnas Perempuan (2025) mencatat ribuan kasus inses tak terlaporkan. Inilah salah satu keluhuran Djenar yang membangun jembatan estetika naratifnya menyinari kegelapan sosial, membuat pembaca merasa tertampar.
Sumber sublime yang kedua berasal dari kekuatan retorika. Penggunaan metafora, hiperbola dan repetisi yang menciptakan “ilusi kebesaran”. Djenar menggunakan perbandingan puitis, ayah digambarkan sebagai “susu hangat yang mengalir deras”, hiperbola yang mengubah inses dari keburukan menjadi keluhuran tragis.
Dalam cerpen ini, adegan menyusu bukan berarti hal-hal terkait dengan pornografi, tetapi bisa juga diibaratkan sebagai hiperbola emosi. Pembaca sengaja dibuat terguncang, merasakan rasa sakit yang nikmat, oposisi biner yang membakar.
Djenar secara tidak langsung memaksa kita, pembaca, berefleksi untuk membaca realitas terutama di media sosial sekarang yang dipenuhi konten seksual, tabu, dan pelecehan yang mengubah kontroversi menjadi sublime kolektif.
Susunan kata-kata yang menakjubkan dan ledakan naratif dalam cerita pendek ini adalah sublime yang ketiga. Ritme, asonansi, dan kejutan sintaksis menjadi puncak jembatan antara estetika menuju keluhuran.
Cerpen ini seperti terputus-putus: “saya tidak mengisap puting payudara Ibu. Saya mengisap penis Ayah. Dan saya tidak menyedot air susu Ibu. Saya menyedot air mani Ayah.”
Kalimat ini menciptakan ritme seperti detak jantung yang panik, membangun ketegangan hingga ledakan klimaks inses. Susunan kata menghasilkan sublime yang membuat pembaca tak lagi pembaca, tetapi saksi yang dibawa oleh Djenar menuju tokoh Nayla dengan guncangan etis dan norma.
Dalam argumentasi ini, Menyusu Ayah bukan hanya skandal, melainkan mahakarya dari Djenar yang memiliki keluhuran di dalamnya. Hal-hal yang sublime dalam pandangan Longinus, menuntut kita bertanya: bukankah keluhuran sejati lahir dari menatap jurang yang paling tabu?
Di tengah masyarakat yang masih menyangkal trauma inses, Djenar membuktikan bahwa sastra Indonesia harus berani menyala seperti api, bukan redup dan akan mati seperti lilin.
Hanya dengan sublime semacam ini, kita bisa membangun bangsa yang jujur pada lukanya. Djenar mengajak kita untuk tidak takut guncangan, karena itu adalah panggilan yang hakiki untuk jiwa kita.










