Benda yang Disebut Bom di Gereja Kingmi Jaindapa di Intan Jaya Ternyata Biji Besi untuk Toki Lonceng

Ketua Tim Peduli Kemanusiaan Kabupaten Intan Jaya Yoakim Mujizau, S.STP saat berada di gedung Gereja Kingmi Jemaat Sion Jaindapa, Klasis Nabia, Koordinator Intan Jaya, Papua Tengah, Selasa (4/6). Foto: Istimewa

SUGAPA, ODIYAIWUU.com — Ketua Tim Peduli Kemanusiaan Kabupaten Intan Jaya Yoakim Mujizau, S.STP, Kamis (4/6) angkat bicara terkait penemuan benda yang diduga bom di Kampung Jaindapa, Distrik Agisiga, Provinsi Papua Tengah.

Menurut Yoakim, sebuah benda ditemukan masyarakat di bawah kolong pintu masuk gedung Gereja Kemah Injil (Kingmi) Jemaat Sion Jaindapa, Klasis Nabia, Koordinator Intan Jaya, Selasa (2/6),

Informasi benda yang diduga bom itu, lanjut Yoakim yang juga Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Intan Jaya, lalu menyebar di tengah masyarakat dan sempat diberitakan sejumlah media online di Papua.

Namun, setelah ia bersama sejumlah anggota tim menyambangi gereja tersebut guna memastikan informasi masyarakat dan pemberitaan sejumlah media online di Papua terkait dugaan adanya pemasangan bom, ternyata informasi tersebut palsu atau hoaks.

“Setelah tiba di lokasi gereja ini kami pastikan bahwa informasi bahan peledak yang dimaksud bom tidak benar.  Barang itu berupa biji besi berukuran kecil yang biasa digunakan untuk toki (ketuk) lonceng gereja sehingga menghasilkan suara,” ujar Yoakim Mujizau dari Sugapa, kota Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, Kamis (4/6).

Yoakim menambahkan, biji besi itu juga sejenis alat pemberat saat nelayan memangcing ikan di laut. Karena itu, kata Yoakim, sekali lagi ia menegaskan bahwa benda yang ditemukan itu bukan sejenis bahan peledak atau bom tetapi biji besi untuk mengetuk loceng.

Sekretaris Umum Gereja Kingmi Sinode Papua Pendeta Dominggus Pigay, M.Th sebelumnya meminta dilakukan investigasi menyeluruh terkait penemuan benda yang diduga bom di Gereja Kingmi Jemaat Sion Jaindapa, Distrik Agisiga, Intan Jaya.

Menurut informasi yang disampaikan pihak gereja, benda tersebut ditemukan warga pada Selasa (2/6) di bawah kolong pintu masuk gedung gereja saat sejumlah jemaat kembali ke kampung untuk melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan gereja, rumah warga, dan kebun yang telah lama ditinggalkan.

Warga Kampung Jaindapa diketahui telah mengungsi selama lebih dari satu tahun akibat situasi keamanan yang terjadi di wilayah tersebut. Sebagian mengungsi ke daerah yang dianggap aman, termasuk tinggal sementara bersama keluarga di Kabupaten Nabire, Mimika, dan sejumlah daerah lain.

Karena kerinduan terhadap kampung halaman, beberapa jemaat di bawah pimpinan Pendeta Yan Weya, S.Pdk memilih pulang kampung dan mulai membersihkan fasilitas umum serta lingkungan gereja. Namun dalam kegiatan tersebut mereka menemukan benda mencurigakan yang diduga bom di area pintu masuk gereja.

Menanggapi kejadian itu Pendeta Dominggus menegaskan, gereja merupakan tempat ibadah dan pelayanan umat yang harus dijaga serta dihormati oleh semua pihak.

“Gereja Kingmi di Tanah Papua bukan sarang teroris. Karena itu kami meminta negara dan aparat berwenang mengungkap secara jelas siapa yang bertanggung jawab atas adanya benda yang diduga bom di lingkungan gereja,” ujar Dominggus, Rabu (3/6).

Ia mengatakan, penemuan tersebut telah menimbulkan ketakutan dan trauma bagi masyarakat yang baru berupaya kembali ke kampung mereka setelah sekian lama mengungsi.

Pihak gereja juga mengimbau pemerintah, lembaga kemanusiaan, organisasi masyarakat sipil serta lembaga hak asasi manusia (HAM) untuk terus memantau dan memberikan perhatian terhadap situasi yang dialami warga di Jaindapa dan Intan Jaya pada umumnya.

Menurut Dominggus, masyarakat membutuhkan jaminan keamanan agar dapat kembali menjalani kehidupan, beribadah, dan beraktivitas secara normal di kampung halaman mereka. (*)