KARUBAGA, ODIYAIWUU.com — Intelektual muda Papua Dr Imanuel Gurik, SE, M.Ec.Dev menerbitkan buku karyanya berjudul Papua dan Tanggung Jawab Negara pekan pertama tahun 2026. Buku tersebut diakui sebagai persembahan bagi masyarakat tanah Papua dalam diskursus penting dalam mencermati dinamika sosial kemasyarakatan dan pembangunan di bumi Cenderawasih.
“Saya mengucap syukur kepada Tuhan, buku ini bisa terbit di awal tahun 2026. Sejak lama rencana menerbitkan buku karya perdana ini di Tengah kesibukan sebagai abdi negara dan pelayan masyarakat di Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan,” ujar Imanuel Gurik di Karubag, kota Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, Senin (5/1).
Menurut Imanuel, buku ini lahir bukan sekadar refleksi atas dinamika yang menyertai kehidupan sosial kemasyarakatan dan pembangunan tanah Papua selama ini. Pemerintah pusat dan daerah didukung masyarakat juga sudah menaruh perhatian ekstra terhadap kemajuan tanah Papua melalui kebijakan yang pro-growth (pertumbuhan), pro-poor (pengurangan kemiskinan), pro-job (penciptaan lapangaan pekerjaan), dan pro-environment (pemeliharaan lingkungan).
Namun, buku ini lahir sekadar membasuh sekaligus menyegarkan memori dimulai saat melewati masa kecil di sebuah lembah kecil di pegunungan Papua kemudian menempuh pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Papua bukan sekadar menyimpan diskursus dalam ziarah pembangunan dengan kemajuan yang sudah dicapai negara namun persoalan utama yang belum terselesaikan mesti tetap dibicarakan dan dicari jalan keluar.
“Sejak masih kecil dan bermukim di kampung halaman di pegunungan Papua, alam tanah Papua bukan sekadar menyuguhkan pemandangan mempesona di mata saya, tetapi di saat bersamaan menjadi sekolah kehidupan,” kata Imanuel, Magister (S2) Ekonomi lulusan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Imanuel menambahkan, di tengah topografi alam yang bertabur sungai yang deras, tanah yang subur, hutan yang rimbun, dan udara yang sejuk menjadi saksi perjalanan penulis meraih cita-cita sebagai seorang anak kampung tanpa tanpa alas kaki menyimpan mimpi besar agar kelak menjadi berkat bagi sesama dan daerah. Karena itu, pendidikan adalah jalan suci bagi generasi muda tanah Papua meraih masa depan gemilang.
“Dari orang tua, keluarga, dan masyarakat saya belajar bahwa doa adalah kekuatan, kebersamaan adalah nafas hidup, dan kerja keras adalah jalan untuk bertahan. Semua itu sungguh membentuk saya memandang Papua, tanah leluhur agar memahaminya secara utuh, mengabdi tanpa kenal lelah melalui tugas dan pengabdian,” kata Imanuel.
Imanuel mengatakan, tanah Papua memang sebuah paradoks. Alamnya mempesona dan kaya raya, aneka budaya dan tradisi terawat baik oleh berbagai suku yang menyebar di kampung-kampung. Namun, di balik semua itu tanah Papua juga menyimpan kisah panjang tentang perjuangan, luka, sekaligus harapan.
“Sejarah tanah Papua bukan hanya catatan politik, tetapi juga kisah manusia, yaitu bagaimana Injil masuk membawa perubahan, masyarakat bergulat dengan identitasnya, perjuangan mempertahankan martabat manusia berlangsung, dan bagaimana negara hadir atau justru abai dalam mengelola tanggung jawabnya. Inilah salah satu alasan penting terbitnya buku ini,” ujar Imanuel, doktor lulusan Universitas Cenderawasih, Jayapura.
Imanuel menambahkan, julukan Papua sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi bukanlah ungkapan kosong. Dari lautan biru di Teluk Cenderawasih hingga puncak Jayawijaya yang diselimuti salju abadi, ia menyimpan keindahan dan kekayaan luar biasa. Emas, tembaga, minyak, gas, hutan, laut, dan tanah yang subur adalah potensi besar.
“Namun, paradoks itu nyata. Kekayaan tanah Papua melimpah, tetapi banyak warga masih berada dalam kubangan kemiskinan. Potensi pertanian, perkebunan, dan perikanan belum sepenuhnya dikelola untuk kepentingan masyarakat asli. Inilah pertanyaan mendasar yang terus muncul yaitu apakah negara sungguh sudah menunaikan tanggung jawabnya kepada Papua. Dalam buku ini juga terungkap jelas,” katanya.
Imanuel menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Guru Besar Uncen Prof Dr Hasan Basri Umar, SE, MS yang berkenan memberikan pengantar buku ini. Ucapan yang sama juga disampaikan kepada sahabat Amiruddin al Rahab, Wakil Ketua Komnas HAM-RI periode 2020-2022 sekaligus kandidat Doktor Ilmu Politik, Universitas Nasional, Jakarta, yang berkenan menulis Prolog buku ini.
Apresiasi juga disampaikan kepada Dr Don Bosco Doho, MM, dosen Etika dan Filsafat Komunikasi Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR, Jakarta yang menulis Epilog serta sahabat Ansel Deri, jurnalis Odiyaiwuu.com, portal berita berbasis di Kampung Kimupugi, Distrik Kamuu, Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua Tengah, yang berkenan menjadi editor buku karya perdana ini.
“Saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Bapak Prof Hasan Basri Umar yang menulis Pengantar buku ini. Saya juga menyampaikan terima kasih kepada para sahabat, Amiruddin al Rahab, Don Bosco, dan Ansel Deri atas kesediannya menyertakan catatannya dalam buku ini. Catatan Bapak Profesor Hasan dan rekan-rekan sekaligus menegaskan bahwa urusan Papua bukan tanggung jawab satu pihak namun tanggung jawab kita semua,” ujar Imanuel.
Imanuel Gurik lahir 19 Oktober 1974 di Kanggime, Tolikara, Papua Pegunungan. Ia lahir sebagai anak kedua dari enam bersaudara dari pasangan suami-istri: Arius Weyagurik, S.Sos (Almarhum) dan Tania Gurik (Almarhumah). Imanuel masuk SD Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Gereja-Gereja Injili (YPPGI) Kanggime hingga lulus tahun 1988 dan SMP Negeri Karubaga (1991), SME Yapis Wamena tahun 1994.
Imanuel merampungkan studi S1 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Ottow & Geissler Jayapura tahun 2000. Ia kemudian melanjutkan S2 jurusan Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM Yogyakarta hingga lulus 2009. Tahun 2025 meraih S3 bidang Ekonomi di Program Doktor Ilmu Ekonomi Uncen, Jayapura.
Sejak mahasiswa Imanuel terjun dalam berbagai organisasi dan menduduki sejumlah posisi penting. Ia menjabat Ketua Asrama Wilayah Toli di Jayapura tahun 1995, Ketua Badan Pengurus Pusat (BPP) Wahana Pembinaan Pemuda Obor Sukacita (WAPPOS) Papua tahun 1997, dan Sekjen BPP Ikatan Pelajar Mahasiswa Pegunungan Tengah (IPMPT) Irian Jaya tahun 1998.
Selain itu, Imanuel juga pernah menjabat Sekretaris Umum KONI Tolikara tahun 2015, Ketua Harian KONI Tolikara tahun 2019, Ketua DPW Partai PDS Papua tahun 2002, Ketua Partai PKPB Tolikara tahun 2003, dan Ketua Dewan Pembina Wahana Pembinaan Generasi Muda Tolikara (Wagemuli) Papua tahun 2023.
Imanuel lulus seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Pemkab Tolikara tahun 2003. Kepercayaan terus mengalir. Tahun 2004–2006, dipercaya sebagai Bendahara Badan Perencanaan Daerah (Bappeda) Tolikara, kemudian Kepala Sub Bidang Investasi dan Promosi Bappeda Tolikara tahun 2010.
Kemudian, tahun 2012 menjabat Kabid Statistik dan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Bappeda Kabupaten Lanny Jaya tahun 2012, Sekretaris Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Perindagkop) Tolikara tahun 2013, Kepala Dinas Perindagkop Tolikara tahun 2014, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Tolikara tahun 2016, Kepala Dinas DPMPTSP Tolikara tahun 2018, dan Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Tolikara tahun 2019. Lalu Kepala Bappeda Tolikara tahun 2022 dan sejak 2025 hingga saat ini menjabat Asisten II Sekretariat Daerah Tolikara. (*)










