OPINI  

Memahami Basis Filosofis Mambesak

Ernest Pugiye, Guru SMAN 1 Dogiyai, Provinsi Papua Tengah. Foto: Istimewa

Oleh Ernest Pugiye

Guru SMAN 1 Dogiyai, Provinsi Papua Tengah

PENDIDIKAN dalam perspektif tanah Papua (selanjutnya, Papua) pada hakikatnya merupakan misi pembangunan manusia dan kemanusiaan yang berakar pada kebudayaan, sejarah, dan peradaban masyarakatnya.

Keberlangsungan suatu bangsa bergantung pada kemampuannya mewariskan pengetahuan, nilai, dan pandangan hidup kepada generasi berikutnya. Karena itu, pendidikan di Papua perlu bertumbuh dari pengalaman masyarakat adat, menggunakan kekayaan bahasa daerah, serta membimbing generasi muda melalui nilai-nilai yang diwariskan para leluhur selama berabad-abad.

Sejak masa leluhur hingga generasi yang lahir pada 1970–1989, kehidupan masyarakat adat Papua memperlihatkan hubungan antara manusia, tanah adat, komunitas, leluhur, dan Sang Pencipta.

Hubungan harmonis secara vertikal dan horizontal tersebut menjadi salah satu landasan filosofis dan spiritual kehidupan masyarakat Papua. Dalam kerangka inilah Group Mambesak perlu dipahami sebagai gerakan kebudayaan yang berakar pada kehidupan masyarakat adat.

Perubahan sosial yang berlangsung cepat menghadirkan tantangan terhadap keberlanjutan pengetahuan lokal. Generasi muda semakin mengenal dunia modern, tetapi sebagian mulai kehilangan kedekatan dengan akar kebudayaannya sendiri.

Dominasi pengetahuan Eropa dalam pendidikan dan kehidupan sosial turut memengaruhi cara masyarakat Papua memahami diri, sesama, dan tanah leluhur. Dalam situasi tersebut, Mambesak hadir untuk mengangkat kembali kebudayaan Papua melalui musik, bahasa, tradisi lisan, dan dokumentasi etnografis.

Karya-karyanya membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenali identitas serta sistem pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman sejarah mereka sendiri. Karena itu Mambesak perlu ditempatkan sebagai sumber pembelajaran filosofis, bukan semata-mata sebagai kelompok musik tradisional.

Lagu-lagu, bahasa daerah, cerita rakyat, dan dokumentasi kebudayaan yang dihimpun dalam Volume 1 hingga Volume 5 menyimpan pengetahuan mengenai kemanusiaan, sejarah, lingkungan, kehidupan sosial, dan spiritualitas.

Seluruh warisan tersebut memperlihatkan cara masyarakat Papua memahami dunia dan membangun hubungan dengan berbagai unsur kehidupan. Artikel ini menguraikan basis filosofis Mambesak serta relevansinya bagi pengembangan pendidikan yang berakar pada kebudayaan Papua.

Konteks Historis Mambesak

Setiap sistem pendidikan dibangun berdasarkan pandangan tertentu tentang manusia, pengetahuan, sejarah, alam, dan masa depan. Di Papua, pandangan tersebut tumbuh dari pengalaman masyarakat adat, hubungan dengan tanah leluhur, bahasa ibu.

Pun ingatan kolektif, dan spiritualitas yang diwariskan antargenerasi. Ketika pendidikan formal terpisah dari kenyataan tersebut, sekolah berisiko kehilangan hubungan dengan kehidupan peserta didik dan lingkungan sosialnya.

Penyelenggaraan pendidikan formal di Papua selama ini masih menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan pengetahuan lokal ke dalam pembelajaran. Bahasa daerah, cerita rakyat, musik tradisional, sejarah komunitas, dan pemikiran filosofis masyarakat adat belum memperoleh ruang yang memadai di seluruh jenjang pendidikan.

Akibatnya, peserta didik dapat menguasai berbagai pengetahuan modern, tetapi belum tentu memahami akar sejarah dan kebudayaan mereka sendiri. Keadaan tersebut menuntut rekonstruksi pendidikan yang berangkat dari pengalaman historis masyarakat Papua tanpa menolak perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Pendidikan perlu mempertemukan pengetahuan ilmiah dengan kebijaksanaan lokal agar keduanya dapat berkembang secara saling memperkaya. Dengan demikian, peserta didik mampu memahami dunia yang semakin luas tanpa kehilangan identitas dan kemampuan membaca kenyataan di lingkungannya sendiri.

Mambesak memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah kebudayaan Papua karena mengangkat kemuliaan martabat manusia dan bangsa Papua melalui warisan budaya leluhur.

Pada 5 Agustus 1978, Arnold Clemens Ap sebagai ketua tim mendirikan Group Mambesak di Universitas Cenderawasih, Jayapura, dengan Loka Budaya Papua di Abepura sebagai ruang penting pengembangan kebudayaan Papua.

Dalam kepemimpinannya, Arnold Ap bersama anggota tim, yaitu Eddy Mofu, Sam Kapisa, Yoel Kafiar, dan Martiny Sawaki, mengembangkan Mambesak sebagai gerakan kebudayaan yang berlandaskan kecerdasan intelektual, spiritualitas, dan kepekaan sosial.

Melalui Grup Mambesak yang memuat lagu tradisional, tarian, bahasa daerah itu, mereka mewariskan cerita-ceritera kebijaksanaan rakyat bagi pengangkatan kita atas kemuliaan martabat Papua.

Semua cakupan filosofis Papua sudah sebenarnya telah didokumentasi mereka melalui adanya grup mambebasak dari hari ke hari. Bersama Grup Mambesak, setiap mereka telah menghimpun, mempelajari, melestarikan serta memperkenalkan kekayaan pengetahuan masyarakat adat Papua kepada khalayak luas.

Secara filosofis, Mambesak menjadi perwujudan kesadaran bangsa Papua untuk menegaskan jati diri, memuliakan martabat manusia, dan mewariskan peradaban leluhur kepada generasi berikutnya serta dunia internasional.

Melalui siaran Pelangi Budaya dan Pancaran Sastra di RRI Jayapura, karya-karya Mambesak menjangkau masyarakat dari berbagai wilayah. Lagu-lagu yang sebelumnya hidup dalam komunitas tertentu semakin dikenal oleh kelompok masyarakat lain.

Setiap lagu membawa bahasa, ingatan sejarah, pengalaman sosial, dan pandangan hidup masyarakat yang melahirkannya. Mambesak pun menjadi ruang perjumpaan kebudayaan yang memperlihatkan keberagaman Papua sebagai kekayaan bersama.

Diskografi Volume 1 hingga Volume 5 menunjukkan bahwa musik tradisional menyimpan pengetahuan yang melampaui fungsi artistiknya. Nyanyian dapat mewariskan sejarah dan nilai moral.

Bahkan hubungan ekologis, penghormatan terhadap leluhur, dan pengalaman spiritual. Melalui syair, irama, simbol, dan pengalaman bersama, tradisi lisan menjadi media pendidikan yang menghubungkan generasi terdahulu dengan generasi berikutnya.

Pemahaman tersebut menjadi dasar gagasan Kurikulum Sekolah Berbasis Mambesak. Dalam kurikulum ini, pengetahuan lokal ditempatkan sebagai salah satu fondasi pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan berpikir.

Selain itu, membentuk karakter, memperkuat identitas, dan menumbuhkan tanggung jawab sosial. Sekolah, keluarga, masyarakat adat, dan lingkungan perlu bekerja bersama agar pendidikan menjadi proses pewarisan sekaligus pengembangan peradaban Papua.

Telaah Basis Filosofis Mambesak

Basis filosofis Mambesak dapat ditelaah melalui dimensi ontologis, epistemologis, etis, ekologis, historis, dan spiritual. Secara ontologis, manusia dipahami sebagai bagian dari kehidupan yang terhubung dengan sesama, tanah adat, alam, leluhur, dan Sang Pencipta.

Secara epistemologis, pengetahuan tumbuh melalui pengalaman, pengamatan, bahasa, tradisi lisan, dan pembelajaran antargenerasi. Secara etis, pengetahuan harus membimbing manusia untuk menghormati martabat sesama serta menjaga keseimbangan kehidupan bersama.

Lagu Akai Bipa Mare dari Mimika dapat dibaca sebagai ungkapan mengenai kemanusiaan dan martabat diri. Manusia memiliki kehormatan yang berkaitan dengan tanggung jawabnya terhadap komunitas dan tanah warisan leluhur.

Martabat tidak semata-mata ditentukan oleh kekuasaan atau kepemilikan material, tetapi juga oleh kesetiaan menjaga kehidupan bersama. Pandangan ini menempatkan penghormatan terhadap sesama sebagai dasar hubungan sosial yang adil dan bermartabat.

Lagu tersebut juga dapat menjadi pintu masuk untuk memahami hubungan ekologis masyarakat Papua. Tanah, sungai, hutan, gunung, dan laut merupakan unsur penting dalam keberlangsungan hidup masyarakat adat.

Alam tidak semata-mata dipandang sebagai sumber material, tetapi sebagai ruang kehidupan yang menuntut tanggung jawab manusia. Hubungan timbal balik ini mengajarkan bahwa pemanfaatan alam harus mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan dan hak generasi mendatang.

Dimensi berikutnya ialah kebebasan berekspresi dan pemeliharaan identitas budaya. Lagu, tarian, bahasa daerah, dan simbol adat menjadi sarana masyarakat untuk menyampaikan pengalaman, ingatan sejarah serta pandangan hidupnya.

Melalui karya-karya Mambesak, kebudayaan Papua memperoleh ruang perdamaian, kehidupan harmoni dan emansipasi untuk dikenal dan diwariskan secara lebih luas. Seni dengan demikian berfungsi sebagai media pendidikan, pembentukan kesadaran kolektif, dan pemeliharaan martabat manusia.

Mambesak juga memperlihatkan pentingnya persaudaraan dalam keberagaman. Lagu-lagu dari berbagai wilayah adat menghadirkan perbedaan bahasa, irama, dan tradisi dalam satu ruang perjumpaan.

Kesatuan tidak dibangun dengan menghapus identitas masing-masing suku, tetapi melalui penghormatan terhadap perbedaan. Prinsip tersebut berkaitan dengan keadilan, kejujuran, keterbukaan, dan penghormatan terhadap hak orang lain sebagai dasar kehidupan bersama.

Lagu Maitwu Som dari Arso dan Syowi Yena dari Biak dapat ditelaah dari perspektif sejarah dan ketahanan budaya. Keduanya menjadi bahan untuk memahami bagaimana nyanyian rakyat menyimpan pengalaman kolektif, ingatan leluhur, dan identitas komunitas.

Sejarah tidak berhenti sebagai catatan masa lampau, tetapi terus memengaruhi cara generasi sekarang memahami asal-usul dan tanggung jawabnya. Dalam pendidikan, lagu-lagu tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan kesadaran sejarah, kebanggaan budaya, dan kepedulian terhadap keberlanjutan tradisi.

Kebijaksanaan lokal merupakan dimensi lain yang penting. Pengetahuan masyarakat adat terbentuk melalui pengalaman hidup, petuah para tetua, norma adat, dan pengamatan terhadap lingkungan.

Pengambilan keputusan idealnya mempertimbangkan kepentingan bersama, mendengarkan berbagai pihak, serta menjaga hubungan persaudaraan. Mambesak menyediakan bahan untuk mempelajari kebijaksanaan tersebut melalui bahasa dan ekspresi budaya yang hidup dalam masyarakat.

Dimensi spiritual turut membentuk pandangan hidup yang tercermin dalam kebudayaan Papua. Hubungan dengan Sang Pencipta dan penghormatan terhadap leluhur menjadi bagian dari pengalaman sosial serta budaya sejumlah komunitas adat.

Spiritualitas berkaitan dengan tanggung jawab moral, penghormatan terhadap kehidupan, dan pemeliharaan tanah leluhur. Namun, setiap tradisi memiliki pemaknaan tersendiri sehingga penafsirannya perlu memperhatikan bahasa, konteks, dan pandangan masyarakat asalnya.

Dalam kerangka pemikiran yang dikembangkan penulis, konsep dou, gai, ekowai, dan diho dou dapat digunakan untuk menjelaskan tahapan pembentukan pengetahuan dan tindakan.

Dou mengarah pada kemampuan mengamati kenyataan secara jernih. Gai menekankan pengolahan hasil pengamatan melalui pertimbangan akal budi. Ekowai menghubungkan pemikiran dengan tindakan nyata yang bertanggung jawab.

Sementara itu, diho dou menempatkan tindakan dalam kerangka adat, norma, dan kepentingan komunitas. Keempat konsep tersebut membentuk hubungan antara pengamatan, pemikiran, tindakan, dan tanggung jawab moral.

Konsep maa dan puha selanjutnya dapat ditempatkan dalam pembahasan mengenai integritas dan kebenaran. Maa menekankan keberanian menyatakan kebenaran berdasarkan fakta, bukti, pengalaman, dan kesaksian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Adapun puha menegaskan keberanian menolak pernyataan yang tidak memiliki dasar kebenaran. Dalam pemikiran penulis, kebenaran adat merupakan landasan penting untuk menilai pengetahuan yang berasal dari berbagai bidang.

Pemikiran filosofis, teologis, dan ilmiah perlu berdialog dengan pengalaman masyarakat adat serta mempertimbangkan kenyataan hidup di Papua. Dengan cara demikian, pengetahuan tidak terlepas dari tanggung jawab terhadap manusia, lingkungan, dan komunitas.

Telaah terhadap Waniambei, Kenate Derane, Nute Murajo, Yapo Mamacica, Lenso Inoni Nifako serta karya-karya lain dalam Album I Side B hingga Volume 5 memperluas pemahaman mengenai dialog antarkebudayaan dan pewarisan pengetahuan.

Keberagaman bahasa, wilayah adat, irama, dan pengalaman sejarah dipertemukan tanpa harus menghilangkan kekhasan setiap komunitas. Dialog kebudayaan dapat berlangsung antarmanusia sekaligus mengungkap hubungan masyarakat dengan alam, leluhur, dan Sang Pencipta.

Keseluruhan karya Mambesak memperlihatkan bahwa kebudayaan Papua menyimpan sumber pengetahuan yang dapat dikembangkan melalui pendidikan. Namun, penafsirannya perlu didukung dokumentasi, penelitian bahasa, dan kajian etnografi.

Berikut, keterlibatan masyarakat pemilik tradisi agar makna setiap lagu tidak dilepaskan dari konteksnya. Langkah tersebut penting untuk membedakan isi dokumentasi sejarah dari penafsiran filosofis yang dikembangkan pada masa kini.

Pada akhirnya, Mambesak merupakan warisan kebudayaan yang memiliki relevansi bagi pembangunan pendidikan kontekstual di Papua. Karya-karyanya dapat membantu peserta didik memahami martabat manusia, tanggung jawab ekologis, sejarah, persaudaraan, kebenaran, dan spiritualitas melalui pengalaman budaya mereka sendiri.

Kurikulum Sekolah Berbasis Mambesak dapat menjadi salah satu jalan untuk mempertemukan pengetahuan lokal dengan ilmu pengetahuan modern. Melalui pendekatan tersebut, pendidikan diharapkan melahirkan generasi Papua yang mampu mengembangkan pengetahuan, menjaga identitas budaya, dan mengambil bagian dalam membangun kehidupan yang bermartabat bagi manusia serta seluruh lingkungan hidupnya.