OPINI  

Papua, Nama yang Lengket Dalam Memori Kolektif

Dr Yosua Noak Douw, S.Sos, M.Si, MA, Doktor lulusan Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua. Foto: Istimewa

Oleh Yosua Noak Douw

Doktor lulusan Universitas Cenderawasih, Jayapura

SETIAP kita menyebut kata “Papua”, sebagian besar dari kita mungkin hanya membayangkan sebuah wilayah di ujung timur Indonesia. Kita teringat burung cenderawasih, Raja Ampat yang memukau, atau pegunungan bersalju di garis Khatulistiwa.

Jarang sekali kita berhenti sejenak dan bertanya: dari mana nama itu berasal, dan mengapa pulau ini pernah berganti nama berkali-kali? Padahal, di balik nama yang kita ucapkan sehari-hari itu tersimpan perjalanan panjang tentang perjumpaan, kekuasaan, perlawanan, dan pencarian jati diri.

Nama bukan sekadar label. Ia adalah wadah ingatan. Ia merekam siapa yang pernah datang, siapa yang pernah berkuasa, dan siapa yang pernah berjuang agar suaranya didengar. Sejarah penamaan Papua adalah salah satu contoh terbaik untuk memahami hal itu, dan justru karena itulah ia layak dijadikan bahan belajar bagi generasi muda Indonesia.

Jejak Awal dalam Ingatan Nusantara

Jauh sebelum kapal-kapal Eropa berlabuh di Maluku, pulau besar ini sudah menjadi bagian dari jaringan dagang nusantara. Kitab Nagarakretagama yang ditulis pada abad ke-14 menyebut wilayah bernama Wwanin, yang oleh sejumlah ahli dikaitkan dengan Onin, kawasan pesisir di sekitar Fakfak.

Pada masa berikutnya, Kesultanan Tidore memiliki hubungan erat dengan pesisir barat pulau ini dan mengenal wilayah yang disebut Papua Gam Sio atau “Papua Sembilan Negeri”.

Fakta ini penting untuk kita catat. Papua bukanlah wilayah asing yang tiba-tiba “ditemukan”. Ia sudah lama terhubung dengan pulau-pulau lain di nusantara melalui perdagangan, perkawinan, dan pertukaran budaya.

Orang Papua sendiri tentu sudah memiliki nama-nama untuk kampung, sungai, gunung, dan wilayah adat mereka jauh sebelum siapa pun menuliskannya dalam kitab atau peta. Sayangnya, nama-nama dari dalam inilah yang paling jarang tercatat dalam buku sejarah kita.

Satu Kata, Dua Tafsir

Kata “Papua” sendiri menyimpan teka-teki yang menarik. Tafsir yang paling sering kita dengar mengaitkannya dengan kata Melayu pua-pua atau papuwah, yang merujuk pada rambut keriting penduduknya.

Jika tafsir ini yang kita pegang, maka “Papua” adalah nama yang lahir dari pandangan orang luar terhadap ciri fisik orang lain. Ia terasa seperti cap, bukan pengakuan.

Namun ada tafsir lain yang jauh lebih indah. Sebagian peneliti menelusuri asal kata ini ke ungkapan dalam bahasa Biak, sup i papwa, yang berarti “tanah di bawah matahari terbenam”.

Dilihat dari Biak, kepulauan di sebelah barat memang berada di arah matahari tenggelam. Dalam tafsir ini, “Papua” bukan lagi cap dari orang asing, melainkan cara orang Papua sendiri memandang dan menamai dunianya.

Di sinilah pelajaran pertama yang sangat berharga. Kata yang sama bisa bermakna merendahkan atau bermakna puitis, tergantung suara siapa yang kita dengarkan lebih dulu.

Dalam belajar sejarah, kita sering tanpa sadar mewarisi cara pandang para penulis yang berkuasa. Sejarah penamaan Papua mengajak kita untuk selalu bertanya: apakah ada versi lain dari cerita ini, dan apakah versi itu datang dari orang yang mengalaminya langsung?

Ketika Penjelajah Memberi Nama

Abad ke-16 membawa nama-nama baru. Pelaut Portugis yang tiba di Maluku ikut memakai sebutan Papua, dan Jorge de Menezes sekitar tahun 1526 menyebut kawasan ini Ilhas dos Papuas.

Beberapa tahun kemudian, pada 1545, pelaut Spanyol Ynigo Ortiz de Retes menyusuri pantai utara pulau ini. Ia merasa daratan itu mirip dengan Guinea di pantai barat Afrika, sehingga ia menamainya “Nueva Guinea”, Guinea Baru.

Coba kita renungkan sejenak cara penamaan itu. Ortiz de Retes tidak bertanya kepada penduduk setempat tentang nama tanah mereka. Ia membandingkan pulau ini dengan tempat lain yang sudah ia kenal, lalu menempelkan nama itu begitu saja.

Nama “Nueva Guinea” lebih banyak bercerita tentang isi kepala sang pelaut daripada tentang pulau yang ia lihat. Meski demikian, nama inilah yang kemudian bertahan berabad-abad sebagai New Guinea dalam bahasa Inggris dan Nieuw Guinea dalam bahasa Belanda.

Ketika Belanda menguasai bagian barat pulau, wilayah itu dikenal sebagai Nederlands Nieuw Guinea. Di bagian timur, Inggris dan Jerman membagi wilayahnya, dan bagian selatan yang semula dikuasai Inggris kemudian diurus Australia dengan nama “Papua”.

Dari jejak inilah kelak lahir negara Papua Nugini. Peta pulau ini akhirnya dibelah oleh garis-garis yang ditarik di meja perundingan bangsa-bangsa Eropa, bukan oleh orang yang tinggal di atasnya.

Irian: Nama yang Lahir dari Perjuangan

Menjelang berakhirnya era kolonial, muncul keinginan untuk melepaskan diri dari jejak penamaan penjajah. Nama “Papua” ketika itu dianggap membawa nuansa merendahkan. Dari sinilah lahir nama “Irian”, yang diusulkan oleh Frans Kaisiepo, putra Biak yang kemudian dikenal sebagai Pahlawan Nasional.

Nama Irian memiliki makna yang kaya dalam berbagai bahasa daerah. Dalam bahasa Biak ia dapat diartikan sebagai “tanah panas”, dalam bahasa Serui sebagai “tanah bangsa”, dan dalam bahasa Merauke sebagai “bangsa yang diletakkan lebih tinggi”.

Pada masa perjuangan pembebasan Irian Barat, kata ini juga dipopulerkan sebagai akronim politis “Ikut Republik Indonesia Anti Nederland”. Setelah wilayah ini diserahkan ke Indonesia pada 1963, namanya menjadi Irian Barat, lalu berubah menjadi Irian Jaya pada 1973.

Bagi generasi yang hidup di masa Trikora, nama Irian bukan sekadar sebutan geografis. Ia adalah simbol semangat, pengorbanan, dan cita-cita persatuan.

Tidak mengherankan jika hingga kini masih ada tokoh yang merasa terikat secara emosional dengan nama tersebut dan berharap nama itu tidak dilupakan. Perasaan ini patut kita pahami, karena ia lahir dari pengalaman nyata sebuah generasi.

Kembali ke Papua

Titik balik terjadi menjelang pergantian milenium. Pada akhir Desember 1999, Presiden keempat Republik Indonesia KH Abdurrahman Wahid (Gur Dur) berkunjung ke Jayapura untuk berdialog dengan berbagai elemen masyarakat dan menyaksikan matahari terbit pertama tahun 2000.

Dalam kunjungan itulah ia mengumumkan bahwa nama Irian Jaya akan dikembalikan menjadi Papua. Keputusan ini kemudian dikukuhkan melalui Undang-Undang Otonomi Khusus pada 2001, yang sudah mengalami revisi.

Bagi banyak orang Papua, langkah Gus Dur kala itu dirasakan sebagai bentuk pengakuan. Nama yang dulu dianggap cap dari luar kini dipeluk kembali sebagai identitas yang dipilih sendiri.

Dengan gaya khasnya yang penuh humor, Gus Dur menyampaikan pesan yang sangat serius: negara mau mendengarkan bagaimana orang Papua ingin disebut dan dihargai.

Perjalanan nama ini terus berlanjut. Sejak 2022, Provinsi Papua dimekarkan sehingga kini bagian barat pulau Nugini terbagi menjadi enam provinsi: Provinsi Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

Semuanya memakai kata “Papua”. Nama yang dulu diperdebatkan kini menjadi rumah bersama bagi jutaan orang dengan ratusan bahasa dan budaya yang berbeda.

Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Sejarah penamaan Papua memberi kita setidaknya tiga pelajaran penting. Pertama, bahasa tidak pernah netral. Setiap nama membawa cara pandang tertentu, dan cara pandang itu sering kali mencerminkan siapa yang memegang kekuasaan pada masanya.

Ketika belajar sejarah, kita perlu peka terhadap hal ini agar tidak sekadar mengulang suara pihak yang paling keras.

Kedua, sejarah selalu memiliki lebih dari satu sudut pandang. Nama Irian dan nama Papua sama-sama memiliki alasan yang bisa dipahami. Bagi sebagian orang, Irian adalah simbol perjuangan kebangsaan.

Bagi sebagian lainnya, Papua adalah pengakuan atas identitas asli. Belajar sejarah yang baik bukan berarti memilih satu pihak lalu menyalahkan yang lain, melainkan memahami mengapa setiap pihak merasa demikian.

Ketiga, menghormati sebuah wilayah dimulai dari kesediaan mendengarkan penghuninya. Selama berabad-abad, pulau ini dinamai oleh pelaut, pedagang, dan pemerintah dari luar.

Baru belakangan suara orang Papua sendiri mendapat ruang dalam menentukan namanya. Ini mengingatkan kita bahwa persatuan yang sejati tidak dibangun dengan menyeragamkan, tetapi dengan saling mengakui.

Bagi para guru dan pelajar, kisah ini bisa menjadi pintu masuk yang menarik untuk belajar sejarah secara lebih hidup. Daripada sekadar menghafal tahun dan nama tokoh, kita dapat mengajak siswa bertanya: siapa yang memberi nama ini, mengapa, dan bagaimana perasaan orang yang dinamai?

Pertanyaan sederhana semacam itu melatih nalar kritis sekaligus empati, dua hal yang sangat dibutuhkan bangsa yang majemuk seperti Indonesia. Pada akhirnya, nama Papua menyimpan ingatan tentang pelaut yang tersesat dalam perbandingan.

Pun tentang penjajah yang membelah pulau di atas peta, tentang pejuang yang mencari nama baru untuk kemerdekaan, dan tentang masyarakat yang akhirnya kembali memeluk nama yang lahir dari tanahnya sendiri.

Tugas kita sebagai generasi penerus terutama tanah Papua bukan sekadar mengingat nama-nama itu, tetapi merawat makna di baliknya: bahwa setiap tempat dan setiap orang berhak menceritakan dirinya sendiri, dan berhak untuk didengarkan.