JAYAPURA, ODIYAIWUU.com — Universitas Katolik (Unika) Fajar Timur Papua, Sabtu (10/10) merayakan Dies Natalis Perdana di Jayapura, Papua. Dies Natalis mengusung tema Menyambung Sejarah, Menyalakan Fajar, Membangun Masa Depan Papua.
Dies Natalis perdana dihadiri para Uskup Regio Papua yakni Uskup Jayapura Mgr Yanuarius Teofilus Matopai, Pr; Uskup Timika Bernardus Bofitwos Baru, OSA; dan Uskup Manokwari-Sorong Mgr Hilarion Datus Lega, Pr.
Selain itu, Uskup Agung Merauke Mgr Petrus Canisius Mandagi, MSC; dan Uskup Agats-Asmat Mgr Aloysius Murwito, OFM serta para imam, diakon, biarawan dan biarawati, para misionaris, dan seluruh tokoh Gereja.
Dalam kesempatan tersebut hadir juga Gubernur Provinsu Papua Mathius Derek Fakhiri beserta jajaran pemerintah; pimpinan LLDIKTI Wilayah XIV Papua dan Papua Barat.
Kemudian, Dewan Pembina, Pengurus, dan Pengawas Yayasan Sekolah Tinggi Teologi Katolik Papua (YTTKP); Rektor beserta seluruh jajaran pimpinan, dosen, tenaga kependidikan; dan mahasiswa Unika Fajar Timur Papua.
Berikut, para pimpinan perguruan tinggi, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, para mitra, donatur, alumni, orang tua mahasiswa, insan pers serta seluruh undangan yang berbahagia.
Ketua YTTKP Dr drg Aloysius Giyai, M.Kes dalam sambutannya mengajak hadirin memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas kasih dan penyertaan-Nya pada hari yang bersejarah tersebut boleh berkumpul untuk merayakan Dies Natalis perdana Unika Fajar Timur Papua.
“Dalam kesempatan penuh syukur ini, atas nama yayasan saya menyampaikan selamat datang dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah hadir, memberikan dukungan serta mengambil bagian dalam perjalanan panjang lahirnya Universitas Katolik Fajar Timur Papua,” ujar Aloysius Giyai melalui keterangan tertulis di Jayapura, Papua, Minggu (11/10).
Aloysius juga menyampaikan Pantun sebagai salam pembuka sekaligus menghadirkan suasana kian semarak. “Jalan-jalan ke Kota Jayapura. Singgah sejenak di Teluk Youtefa. Syukur kepada Tuhan kita panjatkan bersama. Dies Natalis perdana menjadi tonggak sejarah kita.”
Aloysius mengatakan, Dies Natalis perdana Unika Papua bukan sekadar perayaan sebuah institusi pendidikan tinggi. Namun, lebuh dari itu adalah ungkapan syukur atas kesetiaan, doa, pengorbanan, dan perjuangan para pendahulu yang telah meletakkan dasar bagi hadirnya sebuah universitas Katolik di tanah Papua.
“Universitas Katolik Fajar Timur Papua tidak lahir dari ruang kosong. Universitas ini tumbuh dari sejarah panjang yang berawal dari perintisan pendidikan calon imam pada Agustus 1964, dilanjutkan dengan pendirian Akademi Teologi Katolik pada 10 Oktober 1967 hingga dimulainya perkuliahan pada 15 Februari 1969 dengan 12 mahasiswa dan tiga dosen,” kata Aloysius.
Perjalanan tersebut kemudian berkembang melalui berbagai tahap pelembagaan, penguatan akademik, dan pembenahan kelembagaan hingga menjadi Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur. Kini, perjalanan itu berlanjut melalui transformasi menjadi Universitas Katolik Fajar Timur Papua.
“Saya ingin menegaskan satu hal penting: transformasi menjadi universitas bukanlah pemutusan sejarah STFT melainkan kelanjutan dan perluasan karya pendidikan yang telah dirintis oleh Gereja di tanah Papua. Kita tidak memulai dari nol. Kita melanjutkan warisan iman, ilmu pengetahuan, tradisi intelektual, dan pengabdian yang telah dibangun selama puluhan tahun,” ujarnya.
Namun, di balik perjalanan tersebut ada peran penting para Uskup, imam, misionaris, dosen, tenaga kependidikan, alumni serta berbagai pihak yang telah bekerja dengan tulus, bahkan ketika fasilitas dan sumber daya masih sangat terbatas.
Nama-nama mereka diakui Aloysius mungkin tidak seluruhnya tercatat dalam sejarah tetapi jasa dan pengorbanannya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberadaan universitas ini.
“Atas nama yayasan, saya menyampaikan penghormatan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para pendahulu. Semoga semangat pengabdian mereka terus hidup dalam diri setiap orang yang melanjutkan karya ini,” kata Aloysius.
Aloysius menambahkan, Fajar Timur adalah nama yang mengandung harapan. Fajar tidak datang seketika, tetapi terbit perlahan, membawa terang setelah malam yang panjang. Demikian pula universitas ini, dibangun melalui proses, kesetiaan, dan kerja bersama.
Perubahan dari sekolah tinggi menjadi universitas merupakan kesempatan besar, tetapi sekaligus menghadirkan tanggung jawab yang jauh lebih besar. Status universitas bukanlah tujuan akhir.
Status ini harus menjadi sarana untuk memperluas akses pendidikan, mengembangkan ilmu pengetahuan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan menjawab kebutuhan masyarakat Papua yang semakin kompleks.
“Kita ingin agar putra-putri Papua tidak hanya memperoleh pendidikan yang baik dalam bidang filsafat, teologi, dan pastoral tetapi juga memiliki kesempatan mengembangkan kompetensi dalam bidang ilmu pengetahuan dan profesi lainnya sesuai kebutuhan masyarakat,” kata Aloysius, tokoh awam Katolik tanah Papua.
Papua diakuinya membutuhkan tenaga profesional yang kompeten, pemimpin yang berintegritas, tenaga kesehatan yang memahami kondisi masyarakat, tenaga ekonomi yang mampu memberdayakan potensi lokal, serta generasi muda yang sanggup menghadirkan inovasi bagi pembangunan daerahnya.
Namun, perluasan bidang ilmu tidak boleh membuat masyarakat sekaligus umat Katolik tanah Papua kehilangan jati diri. Identitas Katolik, nilai-nilai kemanusiaan, spiritualitas pelayanan, dan tradisi intelektual yang diwariskan oleh STFT harus tetap menjadi jiwa Universitas Katolik Fajar Timur Papua.
“Kita ingin memperluas ilmu tanpa mempersempit nilai, memperbanyak kesempatan tanpa mengurangi mutu, serta membangun masa depan tanpa melupakan akar sejarah,” kata Aloysius.
Dalam semangat itulah, yayasan memandang transformasi ini sebagai amanah yang harus dijalankan secara bertanggung jawab, dengan tetap menghormati sejarah, memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan, dan menjaga keberlanjutan penyelenggaraan pendidikan tinggi.
Sebagai badan penyelenggara, ujar Aloysius, pihak yayasan menyadari bahwa membangun universitas tidak cukup hanya dengan menghadirkan nama, gedung, dan program studi. Universitas yang kuat harus ditopang oleh tata kelola yang baik, sistem penjaminan mutu, pengelolaan keuangan yang bertanggung jawab, serta pembagian kewenangan yang jelas.
Yayasan memiliki tanggung jawab untuk memastikan tersedianya dukungan kelembagaan dan sumber daya bagi penyelenggaraan universitas. Sementara itu, rektor bersama jajaran pimpinan universitas menjalankan tugas pengelolaan akademik dan operasional sesuai kewenangan serta ketentuan yang berlaku.
“Hubungan yayasan dan universitas harus dibangun dalam semangat saling menghormati, komunikasi yang terbuka, dan tanggung jawab bersama. Yayasan harus menjalankan tanggung jawabnya sebagai badan penyelenggara, dan universitas harus memiliki ruang profesional untuk menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi secara bermutu,” ujarnya.
Karena itu, penguatan anggaran dasar yayasan, statuta universitas, peraturan rektor, standar operasional prosedur, sistem penjaminan mutu internal serta transparansi dan akuntabilitas keuangan merupakan pekerjaan penting yang harus kita tuntaskan secara bertahap dan konsisten.
Semua pihak terkait harus membangun sistem yang kuat agar keberlangsungan universitas tidak bergantung pada satu atau dua figur. Pemimpin dapat berganti, tetapi tata kelola harus tetap berjalan. Generasi dapat berganti, tetapi mutu pendidikan harus terus meningkat.
Di bidang pengembangan sarana dan prasarana, semua pihak juga memiliki cita-cita untuk memperkuat kampus yang telah menjadi pusat sejarah dan pelayanan pendidikan, sekaligus membuka ruang pengembangan kawasan pendidikan masa depan.
Semua rencana tersebut harus dilaksanakan berdasarkan perencanaan yang matang, kemampuan pembiayaan, prioritas akademik, dan keberlanjutan kelembagaan. Artinya, tidak boleh membangun gedung lebih cepat daripada membangun sistem. Kita harus bertumbuh secara seimbang, kuat dalam tata kelola, bermutu dalam akademik, sehat dalam keuangan, dan teguh dalam identitas,” katanya.
“Dalam perayaan Dies Natalis perdana ini, kita bersyukur atas perjalanan panjang STFT Fajar Timur yang kini berlanjut menjadi Universitas Katolik Fajar Timur Papua. Perubahan ini bukan sekadar perubahan bentuk lembaga, melainkan upaya untuk meneruskan sejarah, menjaga nilai-nilai yang telah diwariskan, dan memperluas pelayanan pendidikan bagi Gereja dan masyarakat di tanah Papua,” katanya. (*)










