JAKARTA, ODIYAIWUU.com — Ketua Presidium Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia Sanctus Thomas Aquinas periode 2024–2026 Susana Florika Marianti Kandaimu, Sabtu (26/9) menegaskan sikap tidak menghadiri proses pelantikan salah satu kubu dalam dinamika internal organisasi.
Susana Florika Marianti Kandaimu juga angkat bicara dan menyatakan sikap terkait beredarnya undangan pelantikan salah satu kubu yang mencantumkan namanya sebagai pihak yang diundang.
“Saya perlu tenegaskan bahwa pencantuman nama saya dalam undangan tersebut tidak dapat dimaknai sebagai bentuk kehadiran atau dukungan saya terhadap salah satu pihak,” ujar Susana Kandaimu melalui keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (26/9).
Pengurus Pusat PMKRI Sanctus Thomas Aquinas periode 2026–2028, Minggu (20/9) resmi dilantik di Jakarta. Prosesi pelantikan yang berlangsung khidmat diawali ibadat pemberkatan, penyematan gordon serta pemailan jas almamater hingga penutupan sidang pleno pelantikan.
Kader PMKRI Cabang Yogyakarta Yohanes Tola resmi menjabat sebagai Ketua Presidium/Mandataris MPA XXXIII/Formatur Tunggal PP PMKRI periode 2026–2028.
Ketua Panitia Pelaksana Ludgerius M Tumanggor mengawali rangkaian laporan kegiatan menyampaikan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan agenda pelantikan. Dalam laporannya, Ludgerius mengapresiasi kerja keras seluruh panitia, dukungan alumni serta pihak-pihak yang berkontribusi hingga acara pelantikan berjalan lancar dan akuntabel.
Ludgerius juga menguraikan alasan mendasar di balik pemilihan sub-tema pelantikan Ite, Inflammate Omnia (Pergilah dan Kobarkanlah Semuanya). Tema ini bukan sekadar slogan akademis atau hiasan spanduk.
“Tema ini adalah panggilan keras bagi seluruh kader PMKRI di seluruh pelosok Nusantara untuk keluar dari zona nyaman, turun ke tengah masyarakat, dan menyalakan api perjuangan, keadilan serta kebenaran di tengah berbagai tantangan bangsa saat ini,” kata Ludgerius.
Anggota Dewan Pertimbangan PP PMKRI Sebastian Salang, memberikan catatan kritis mengenai dinamika gerakan mahasiswa dan perhimpunan saat ini. Sebastian menyoroti ancaman pragmatisme yang kian merayapi dunia gerakan kepemudaan.
“Perhimpunan ini lahir dari idealisme dan independensi yang murni. PMKRI tidak boleh tergoda oleh nilai-nilai pragmatis atau terseret dalam arus kepentingan politik praktis jangka pendek yang merusak watak kritis mahasiswa. Independensi adalah marwah dan harga diri PMKRI. Jika independensi itu tanggal, maka PMKRI kehilangan roh perjuangannya,” ujar Sebastian.
Prosesi pengukuhan kepengurusan semakin sakral melalui doa dan berkat pelantikan yang dipimpin RmFerdinandus Effendi Kusuma Sunur, SJ. Dalam doa dan tumpangan tangannya di hadapan para pengurus, Romo Ferdinandus menitipkan pesan kenabian agar jajaran pengurus baru konsisten menjalankan fungsi keadilan.
“Semoga Roh Kudus memampukan mereka untuk mempromosikan perdamaian dan keadilan, berani bersikap melawan penguasa yang zalim serta konsisten membela rakyat kecil. Biarlah hidup mereka mencerminkan pengikut-pengikut Kristus yang memperjuangkan kedamaian dan keadilan dalam Kristus,” ujar Romo Ferdinandus.
Sedangkan Yohanes Tola menegaskan arah perjuangan politik perhimpunan untuk mengawal keadilan sosial dan perbaikan fungsi negara.
Tiga persoalan utama yang disoroti meliputi penempatan personel Polri pada birokrasi sipil, anjloknya Indeks Persepsi Korupsi (CPI) 2025 ke skor 34/100 serta ancaman exclusion error pada penyaluran bantuan sosial berbasis data desil.
Menurut Tola, menjawab tantangan tersebut ada tiga agenda utama kepengurusan yaitu transformasi organisasi melalui pembenahan tata kelola internal, aktivasi dan ekspansi cabang di berbagai daerah, dan gerakan sosial berbasis riset dan Ajaran Sosial Gereja (ASG).
Kandaimu menambahkan, sebelumnya, telah berlangsung pelantikan dari salah satu kubu. Pada kesempatan tersebut ia tidak hadir. Sikap yang sama akan ia ambil terhadap pelantikan dari pihak lainnya.
“Saya tidak akan hadir dalam pelantikan kedua kubu sebelum adanya penyatuan kembali Pengurus Pusat PMKRI. Sikap ini bukan ditujukan untuk memperpanjang perbedaan, apalagi mengambil posisi untuk salah satu pihak,” kata Kandaimu.
Menurut Kandaimu, ia ingin menjaga marwah perhimpunan dan memastikan bahwa Pengurus Pusat PMKRI tidak semakin terseret ke dalam perpecahan. Seperti yang telah ia sampaikan sebelumnya, tidak akan hadir dalam pelantikan dari kedua pihak sebelum adanya penyatuan.
“Saya akan hadir ketika PMKRI kembali menyatu. PMKRI bukan milik satu kelompok, bukan milik satu kepentingan, dan bukan pula milik satu periode kepengurusan. PMKRI adalah rumah bersama kader Katolik yang dibangun melalui sejarah, perjuangan, dan pengabdian yang Panjang,” kata Kandaimu tegas.
Kandaimu juga meminta kepada seluruh pihak menahan diri dan membukan ruang dialog yang sungguh-sungguh, para senior, alumni serta pastor moderator juga mememiliki peran penting untuk membantu menghadirkan ruang rekonsiliasi yang dapat mempertemukan semua pihak.
“Saya tidak berdiri di salah satu kubu. Saya berdiri untuk PMKRI. Mari Tetap berada pada satu rumah Perhimpunan yang kita cintai bersama. Pro Ecclesia et Patria,” ujar Kandaimu. (*)










