Awam Katolik dari Kota Senja Layangkan Surat Terbuka Minta Mgr Mandagi Ajukan Pengunduran Diri

Uskup Keuskupan Agung Merauke Mgr Petrus Canisius Mandagi, MSC. Foto: Istimewa

KAIMANA, ODIYAIWUU.com — Tokoh muda dan awam Katolik tanah Papua Soleman Itlay, Minggu (6/9) melayangkan surat terbuka menyerukan agar Uskup Keuskupan Agung Merauke Mgr Petrus Canisius Mandagi, MSC mengajukan pengunduran diri kepada Takhta Suci Vatikan dari jabatannya sebagai gembala umat di keuskupan paling timur Indonesia itu.

“Kami memahami bahwa kepemimpinan seorang Uskup bukan sekadar persoalan jabatan, melainkan pelayanan, tanggung jawab, dan perutusan Gereja,” ujar Soleman Itlay di Kota Senja Kaimana, Provinsi Papua Barat, Minggu (6/9). Berikut surat terbuka Soleman selengkapnya.

Surat Terbuka Kepada Uskup Agung Merauke

Kepada Yang Mulia

Mgr Petrus Canisius Mandagi, MSC

di

Merauke

Perihal: Seruan Pengunduran Diri dan Uskup Baru Keuskupan Agung Merauke

Yang Mulia Mgr Petrus Canisius Mandagi, MSC, Uskup Agung Merauke yang saya hormati.

Dengan hormat, tetapi juga dengan keprihatinan dan tanggung jawab sebagai bagian dari umat serta masyarakat tanah Papua, kami menyampaikan seruan terbuka agar Yang Mulia segera mengajukan pengunduran diri dari Tahta Keuskupan Agung Merauke kepada Takhta Suci Vatikan.

Kami memahami bahwa kepemimpinan seorang uskup bukan sekadar persoalan jabatan, melainkan pelayanan, tanggung jawab, dan perutusan Gereja. Karena itu, permohonan pengunduran diri ini tidak dimaksudkan sebagai penolakan terhadap pribadi Yang Mulia, tetapi sebagai seruan untuk membuka ruang bagi regenerasi kepemimpinan Gereja lokal Papua.

Sebelumnya, Yang Mulia pernah menyampaikan bahwa salah satu alasan masih bertahan memimpin Keuskupan Agung Merauke adalah karena belum adanya perwakilan diplomatik Takhta Suci yang baru di Indonesia setelah Mgr Piero Pioppo mendapat penugasan baru.

Pada 1 Juli 2026 Paus Leo XIV telah menunjuk Mgr Walter Erbì sebagai Nunsius Apostolik untuk Indonesia dan Asean menggantikan Mgr Piero Pioppo. Dengan demikian, alasan tersebut tidak lagi menjadi hambatan.

Karena itu, kami memohon dengan sungguh-sungguh: jangan menunda lagi. Ajukanlah pengunduran diri secara terhormat kepada Takhta Suci dan buka jalan bagi kepemimpinan baru.

Bersamaan dengan itu, kami memohon agar Yang Mulia menyampaikan kepada Takhta Suci pentingnya mempertimbangkan imam asli Papua atau imam yang lahir dan besar di Papua sebagai calon Uskup Agung Merauke berikutnya.

Yang kami maksud bukan sekadar asal-usul biologis, tetapi seorang imam yang memiliki pengalaman pastoral yang kuat, kemampuan akademis, integritas moral, kedewasaan rohani, kapasitas kepemimpinan, serta pemahaman mendalam terhadap konteks sosial, budaya, ekologis, dan pastoral Papua.

Gereja membutuhkan gembala yang bukan hanya mengenal Papua dari buku atau laporan, pintar di atas kertas tapi miskin dengan pengalaman pastoral. Setelah Gereja ini berjalan cukup jauh, saat ini kami butuh gembala yang berani merendahkan diri untuk hidup bersama manusia Papua, memahami tanah dan hutannya, mengenal adat dan budayanya, serta merasakan suka-duka umatnya dengan hati nurani.

Seruan ini semakin relevan ketika melihat kembali sejarah Gereja Katolik di tanah Papua telah mencapai 132 tahun perjalanan misi sejak Pastor Cornelis Le Cocq d’Armandville pertama kali masuk di Sekru, Fakfak pada 22 Mei 1894,

kemudian disusul dengan kehadiran Henri Nollesn dkk di Merauke pada 14 Agustus 1905, sekitar 121 tahun lalu. Setelah perjalanan sejarah yang panjang itu, sudah selayaknya Gereja menunjukkan kematangan dan keberakaran dengan memberi ruang lebih besar kepada kepemimpinan pribumi Papua.

Tahta Keuskupan Agung Merauke sebagai keuskupan metropolitan tidak seharusnya terus-menerus dipandang hanya sebagai ruang kepemimpinan yang datang dari luar Papua.

Saatnya Gereja memperlihatkan bahwa benih Injil yang ditanam selama lebih dari satu abad telah bertumbuh menjadi Gereja lokal yang dewasa.

Untuk Gereja yang semakin berakar di tanah Papua, kami percaya, kehadiran Uskup dari kalangan pribumi Papua bukan sekadar simbol identitas. Ini merupakan bagian dari proses inkulturasi, kemandirian, keberakaran, dan kedewasaan Gereja lokal.

Karena itu, Yang Mulia Mgr Petrus Canisius Mandagi, MSC, kami memohon: bukalah jalan itu. Jadikan pengunduran diri sebagai warisan pelayanan terakhir yang bermartabat: memberikan ruang bagi generasi baru dan membantu Gereja Papua menemukan gembalanya sendiri.

Saatnya Gereja di tanah Papua semakin berakar. Saatnya Gereja semakin menyatu dengan manusia dan alam Papua. Saatnya putra-putri Papua dipercaya memimpin Gerejanya sendiri.

Kaimana, 6 September 2026

 

Hormat Kami

Soleman Itlay

Umat Katolik Tanah Papua