OPINI  

Membaca Buku: Perihal Menjadi Manusia Merdeka yang Tak Sekadar Menerima Dunia

Anthon Moerbianto, Pegiat Aksi-Berpikir Komunitas Filsafat Oemah Djiwa. Foto: Istimewa

Oleh Anthon Moerbianto

Pegiat Aksi-Berpikir Komunitas Filsafat Oemah Djiwa

BERPIKIR adalah salah satu kapasitas dari sekian banyak kapasitas lain yang ada pada manusia. Kapasitas berpikir merupakan kapasitas paling damai, namun paling ditakuti oleh kekuasaan, kemiskinan, ketaatan buta, penindasan dan kekerasan.

Terkesan paradoks: paling damai tetapi paling ditakuti. Justru dalam watak paradoksal inilah, kapasitas berpikir memungkinkan manusia tidak sekadar menerima dunia. Kapasitas ini bekerja manakala membaca buku.

Ketika seseorang membaca buku, ia sedang belajar memahami tempat ia tinggal. Ketika ia belajar berpikir, ia juga sedang belajar menolak gagasan gagasan yang mencederai nilai kemanusiaan.

Ketika kesempatan untuk belajar dibungkam maka kekerasan sebagai akibat pengetahuan yang minim akan bertumbuh subur. Kekerasan yang kian subur membentuk rantai kekerasan. Pada akhirnya, rantai ini akan memusnahkan nilai kemanusiaan.

Akan tetapi rantai tersebut dapat diputus dengan cara sederhana, yakni membaca. Dalam dan melalui cara yang sederhana inilah, seseorang yang tekun membaca mempunyai kemampuan: bersikap, berbicara, dan berpikir, berkeputusan. Deretan kemampuan ini berakar pada nalar.

Membaca adalah kunci untuk belajar. Mengapa? Karena membaca adalah sumber belajar yang paling: lengkap, mudah diakses, murah, cepat, dan terkini. Membaca adalah sistem pembelajaran ganda.

Melalui membaca, kita akan mempelajari lebih dari satu hal dari bahan bacaan. Membaca juga merupakan metode pelatihan pribadi berkelanjutan untuk pengembangan diri.

Tindakan Strategis dan Berpihak

Kita berada dalam semangat zaman visual. Semangat ini menjadi gairah bagi pertumbuhan kebudayaan visual. Para warga negeri ini lebih tekun melihat atau menonton. Ketekunan ini divasilitasi oleh teknologi digital dengan sistem algoritma super canggih.

Zaman ini, sebagian besar orang minimal mempunyai satu device. Meskipun demikian, belum tentu semua dari sebagian besar ini membaca melalui device masing-masing. Oleh sebab itu, mengembangkan kebudayaan membaca merupakan tindakan strategis dan berpihak.

Tindakan strategis dan berpihak ini semakin mendesak bila kita menyimak data survei minat baca masyarakat Indonesia. Data survei Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 dan 2022, menunjukkan bahwa kemampuan literasi membaca siswa Indonesia berada di peringkat bawah.

Dari rendah minat baca di Indonesia, justru ada yang menarik berdasarkan data Lembaga Riset Digital Marketing Emarketer: Saat ini hampir 100 juta penduduk Indonesia memiliki gadget atau urutan kelima dunia terbanyak kepemilikan gadget.

Namun, menjadi mencengangkan karena meskipun minat membaca buku rendah, tetapi data Wearesocial per Januari 2017 menunjukkan: orang Indonesia mampu menatap layar gadget kurang lebih 9 jam sehari.

Jelas sekali bahwa penggunaan media sosial lebih dibandingkan penggunaan perangkat digital untuk membaca. Hal ini juga berarti kebudayaan membaca belum dianggap sebagai aktivitas penting atau menyenangkan.

Orang lebih tertarik pada tayangan visual dalam bentuk tiktok, reels, dan lain-lain. Semoga, menonton tayanangan visual dapat menumbuhkan imajinasi untuk mencari tahu lebih dalam mengenai ada apa di balik yang tampak.

Semoga juga imajinasi –yang juga merupakan salah satu kapasitas dari nalar– tidak mati oleh peran algoritma yang eksesif dalam platform media sosial pada saat menonton aneka visual.

Oleh sebab itu, sungguh masuk akal ucapan Karlina Supelli, dosen pada Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara pada sebuah podcast, “Buku tidak bisa digantikan dengan Tiktok dan menonton film.  Karena kerja otak hanya bisa dilatih supaya tajam bila otak berdialog saat membaca.”

Ada banyak faktor mempengaruhi minat membaca suatu negara. Mulai dari akses pendidikan, kondisi sosial ekonomi hingga sikap budaya negara tersebut terhadap pendidikan.

Beberapa negara dengan minat membaca tinggi, secara umum memiliki jaringan insfrastruktur pendidikan dengan pondasi yang kuat, anggaran anggaran negara yang tinggi untuk pendidikan, dan kebijakan pemerintah yang mendorong pembentukan karakter manusia melalui aneka kegiatan literasi.

Sedangkan pada negara dengan tingkat literasi rendah, faktor-faktor penyebab literasi rendah adalah kemiskinan, minim akses terhadap pendidikan berkualitas, kebijakan-kebijakan menganulir kepentingan pendidikan, dan kesenjangan sosial yang terlalu jauh antara warga yang kaya dan warga yang miskin.

Membaca Menjadikan Seseorang Utuh

Mengapa membaca begitu penting bagi manusia? Francis Bacon –filosof Inggris– dalam esai berjudul “Of Studies” menyatakan bahwa manusia senantiasa membutuhkan keseimbangan. Oleh sebab itu, dalam konteks menumbuhkan dan mengembangkan kebudayaan membaca, kita mengupayakan keseimbangan antara studi dan pengalaman praktis.

Membaca berarti berstudi. Sisi praktis dari membaca adalah menyeleksi beberapa buku yang hendak dibaca. Sisi studi dari membaca –seperti mengolah makanan dalam mulut adalah mencicip, mengunyah, menelan dan mencerna bahan bacaan. Dengan demikian, keseimbangan antara studi dan pengalaman praktis membentuk karakter diri dan meningkatkan kemampuan menetapkan keputusan.

Bacon mendasarkan perkara keseimbangan antara studi dan pengalaman praktis pada filsafat empirisme, filsafat yang menggunakan metode berpikir induktif. Studi adalah strategi rasional nalar mengolah pengalaman indrawi.

Strategi rasional ini mampu berfokus pada kemajuan praktis, kebebasan berpikir, dan kebijaksanaan. Fokus ini adalah buah dari pengolahan nalar akan pengalaman hidup manusia.

Berdasar pada filsafat empirisme itulah, Bacon merenungkan secara filosofis perkara keseimbangan antara studi dan pengetahuan. Dalam “The Essays” (1597), ia memaparkan tiga tujuan studi.

Pertama, studi untuk kesenangan atau kenggunaan pribadi. Seseorang studi untuk menyenangkan dan menghibur diri tanpa memaksakan pengetahuan yang diperoleh dari studi kepada kepada orang lain.

Kedua, studi untuk menikmati keindahan. Keindahan dari studi terletak pada pada diskusi dan berbagi pengetahuan yang diperoleh dengan dan bersama orang lain. Ketiga, studi untuk memperoleh pengetahuan dan menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah-masalah praktis.

Dalam tujuan ketiga mengandung pula kegunaan pengembangan diri individu agar lebih praktis dalam hidup. Jadi, studi memampukan manusia menyenangkan diri, menikmati keindahan studi, dan menangani masalah-masalah praktis dalam hidup sehari-hari.

Hanya manusia yang studi. Dalam konteks studi, Bacon menggolongkan tiga tipe manusia. Pertama, orang-orang licik. Golongan pertama ini mencela studi karena mereka mengetahui bahwa ada orang lain yang lebih berpengetahuan atau berilmu dari golongan mereka.

Kedua, orang-orang sederhana. Golongan kedua ini mengagumi studi karena mereka tahu bahwa studi akan mengarah pada pengembangan kecerdasan. Ketiga, orang-orang bijaksana.

Golongan ketiga ini menggunakan pengetahuan dari hasil studi untuk memperjuangkan pemenuhan kepentingan diri sendiri dan kepentingan orang lain.

Apa hubungan antara studi dan membaca? Mengapa studi mensyaratkan membaca? Dua pertanyaan ini adalah upaya menarik relevasi pemikiran Bacon tersebut dalam konteks menumbuhkan dan mengembangkan minat membaca.

Sejak era tutur-lisan bergeser ke era tulisan pada abad-abad silam, aneka pengetahuan manusia pun dipatrikan dalam berbagai tulisan. Segala sesuatu yang telah dilakukan, dipikirkan, diperoleh, atau dialami manusia tersimpan rapi seperti dalam pengawetan magis pada halaman-halaman buku.

Pengetahuan dalam buku-buku memiliki keragaman aksentuasi yang unik dan khas. Keragaman ini melahirkan aneka makna dan nilai pada pembaca setelah mencicipi, menelan, dan mencerna isi buku yang dibaca.

Hal ini menunjukkan bahwa saat membaca, pembaca memproses dengan nalar isi buku melalui cara mempelajari dan menganalisis sudut padang atau perspektif dan nilai-nilai yang disampaikan penulis.

Objek-objek yang dianalisis adalah informasi, pengetahuan, frasa, kalimat, kosa kata, gaya penulisan. Dengan demikian, pembaca memperoleh nilai kemanusiaan, kealaman, bahkan ketuhanan dari buku-buku yang telah dibaca.

Dalam kerangka berpikir yang demikian, membaca buku merupakan sebuah studi terhadap kemanusiaan, kealaman, dan ketuhanan. Pembaca juga dapat menjadikan studi sebagai metode melatih atau mengolah kepribadian secara berkelanjutan: olah pikir dan olah rasa.

Membaca sebagai jalan studi akan menantang pembaca untuk masuk dalam proses berpikir yang baik. Membaca memberikan latihan diri agar disiplin dalam memperoleh aneka pengetahuan baru.

Membaca buku adalah tualang ke dalam kisah-kisah hebat para tokoh dunia, memasuki dunia kisah dan pengalaman kehidupan manusia jelata, menjelajahi patah tumbuh hilang berganti peradaban manusia dan alam semesta.

Mungkin banyak hal yang kita pelajari di sekolah-sekolah formal tidak relevan bagi kehidupan konkrit setiap hari. Tetapi melalui membaca buku-buku, kita memperkaya pengetahuan dan memperbaharui pikiran.

Kita tidak bisa terus-menerus kembali ke sekolah, tetapi kita bisa membaca. Oleh sebab itu, Francis Bacon berkata dengan nada antropologis yang indah dan puitis, “membaca menjadikan seseorang utuh.”

Membaca sebagai Perjalanan Batin

Kita bisa menganalogikan membaca sebagai sebuah laku batin. Bagaimana tubuh diajak untuk berprihatin dengan berpuasa agar mendapat pencerahan dan nilai spiritualitas hidup.

Membaca tak sekedar mengerti arti dari barisan kata yang berbaris tetapi juga tentang memahami apa yang kita baca, berdialog dan berkelana menjelajahi halaman demi halaman.

Membaca buku adalah kerja sunyi yang gaduh, hening tetapi memaksa kita untuk berpikir, ikut tergelak saat itu lucu, ikut menolak atas sebuah peristiwa yang menggugah sisi kemanusiaan, lalu merasa jatuh cinta dan tahu betul betapa rumitnya cinta itu.

Membaca buku-buku tentang sastra, filsafat, dan sejarah akan mengajarkan orang tentang banyak hal. Membaca sebuah karya sastra misalnya, dalam sebuah karya sastra, orang diajak untuk bertemu dengan kisah tentang manusia; penderitaan, daya hidup, kematian, dan berbagai pilihan hidup yang tidak selalu tegas.

Karya sastra mengajarkan orang untuk berbicara dengan fasih, yang dari sinilah lahir sikap empati dalam diri manusia atau pembacanya. Dari membaca, orang akan mengenal tentang seni bicara, seni menulis, dan seni bahasa yang akan menggerakkan seni berfikir atau seni pemikiran. Dengan demikian, sehingga orang dapat mengemukakan ide-idenya secara tepat, elegan, dan benar.

Buku, kertas dan pena mungkin tampak kecil di hadapan kekuatan lain seperti senjata dan kekuasaan. Tetapi merekalah yang mengubah sejarah secara perlahan. Tulisan-tulisan lahir dari pemikiran. Tulisan-tulisan menggerakkan dan mengajak pembaca untuk berpikir, mengerti, dan memaknainya dengan tindakan.

Selama kita yakin pada pemikiran yang dibangun dari dialektika pikiran terutama bagi mereka yang paling sering disisihkan, maka kita sedang memilih dunia yang lebih adil, lebih aman, dan lebih manusiawi.

Berliterasi atau menggerakkan kebudayaan membaca adalah kerja panjang, keras, yang diam-diam membentuk tulang punggung pikiran. Di sanalah dialog terjadi. Dari dialog itulah pelan tapi pasti manusia belajar berpikir, melawan lupa, dan menolak tunduk begitu saja.

Membaca adalah tindakan sadar untuk membangun manusia merdeka, manusia yang tak sekadar menerima dunia tapi mempersoalkannya.