JAKARTA, ODIYAIWUU.com — Ratusan massa dari Solidaritas Umat untuk Mgr Paskalis Bruno Syukur, OFM yang merupakan umat Katolik, Selasa (10/2) menggelar aksi Seribu Lilin dan Doa di depan Kedutaan Besar Vatikan (Nunciatura Apostolik), Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat.
Dalam aksi damai tersebut, hadir juga sosok umat Katolik masing-masing Dr Yustinus Prastowo dan Prof Dr Robertus Robert serta sejumlah umat lintas profesi. Namun, pasca aksi Seribu Lilin dan Doa itu, muncul suara pro dan kontra berbagai kalangan kepada Yustinus, peserta aksi.
“Saya jawab lugas. Ruang publik kini tak dibatasi yang fisik. Justru belakangan ini media sosial menjadi ruang publik yang paling aktif dan berpengaruh. Warganet berjejaring, bertukar informasi, saling kritik, bahkan tak jarang saling serang,” ujar Yustinus Prastowo melalui cuitannya di jejaring sosial Facebook-nya @Yustinus Prastowo di Jakarta, Minggu (15/2).
Berikut cuitan lengkap Yustinus dalam akun tersebut:
Aksi di Kedubes Vatikan. Ada Apa?
Sejak kami melakukan Aksi 1000 Lilin di depan Kedubes Vatikan, banyak pertanyaan dan pro kontra berdatangan. Dari yang sungguh2 ingin tahu dan mendalami hingga yang sekadar mendukung atau mencela. Untuk semua respon, saya berterima kasih. Itu tanda Gereja masih hidup, berdenyut. Bukan fosil atau monumen tua tak berguna. Di titik ini kita patut bersyukur.
Selanjutnya ada gugatan, kenapa mesti mengumbar urusan internal Gereja ke publik, khususnya di jalanan. Gereja bukan entitas politik dan tidak menganut demokrasi, tetapi hierarki yang punya cara tersendiri dalam menyelesaikan persoalan.
Saya jawab lugas. Ruang publik kini tak dibatasi yang fisik. Justru belakangan ini media sosial menjadi ruang publik yang paling aktif dan berpengaruh. Warganet berjejaring, bertukar informasi, saling kritik, bahkan tak jarang saling serang. Kini advokasi pun kerap dilakukan via medsos dan efektif: mulai dari menggugat jalanan rusak, tak setuju dengan perilaku pejabat, mendukung penindakan pada perusak lingkungan, hingga menolak kenaikan tunjangan pejabat negara. Agustus 2025 adalah gerakan cukup besar yang dimulai dari medsos.
Maka mempartisi jalanan vs medsos itu kurang tepat. Keduanya sudah menjadi lokus perbuatan hukum yang diatur dan punya implikasi. Bisa sama2 memalukan atau memuliakan.
Kenapa tak berkomunikasi dengan hierarki? Terus terang saya sendiri bingung. Silang sengkarut soal pengunduran diri Mgr Paskalis ini terkesan dibiarkan. Begitu banyak informasi membanjiri medsos tanpa penjelasan otoritas yang memadai. Bahkan ada beberapa tudingan yang dijadikan rujukan banyak orang dan terkesan valid. Implisit mendaku bersumber dari otoritas. Makian, hujatan, dan serangan ke pribadi Mgr Paskalis, yang didahului surat dua pastor Keuskupan Bogor, menambah kebingungan.
Jika ekspresi jalanan disayangkan dan dihujat, kenapa ada surat dua pastor yang sangat telanjang dan mengumbar aib uskupnya, dibiarkan terjadi. Lagi2, dijadikan rujukan. Apakah mereka yang secara formal belajar hukum gereja dan teologi itu pantas melakukan itu? Dan kenapa ini tak dianggap sebagai pelanggaran dan hal aneh? Kami bahkan buru2 dihardik dengan hukum kanonik, tanpa kesediaan membaca substansi seruan dan ajakan refleksi kami.
Saya sengaja posting dan diserang di Threads, platform medsos yang sengaja saya pilih untuk menguji arus opini umat Katolik. Saya sudah kebal dengan serangan begini. Lima tahun membantu Bu Sri Mulyani, saya terbiasa menghadapi urusan yang lebih berat dan keras, dan biasa saya hadapi sendiri.
Prinsip saya jelas: saya tak gegabah bersikap sebelum mendengarkan dan mendapatkan cukup informasi dan mengujinya. Begitu yakin saya melakukan sesuatu yang benar, urusan selanjutnya tinggal sanggup sediakan energi untuk bertarung opini. Dan saya sungguh merasakan Roh Kudus bekerja. Begitu banyak yang berempati dan berbagi informasi dan perasaan, bahwa kami sedang berjuang demi cinta tulus pada Gereja.
Di trotoar depan gerbang Kedutaan, kami tak memaki, tak ada hujatan atau tuntutan. Kami sepenuhnya menerima keputusan Paus. Tak ada desakan Mgr Paskalis diangkat kembali menjadi Uskup Bogor. Kami hanya ingin ada terang pada kabut pertanyaan yang menyelimuti. Pernyataan Mgr Paskalis bahwa ada tekanan, dan di sisi lain ada orang yang dengan percaya diri mendaku punya informasi akurat tentang kesalahan Mgr Paskalis.
Mudah merekonstruksi ini. Jika klaim orang tersebut benar, bahwa informasi yang dia terima akurat, maka hanya ada kemungkinan: hasil visitasi apostolik bocor. Saya yang awam beranggapan semua ini rahasia dan hanya boleh diketahui hierarki sangat terbatas, guna pengambilan keputusan Bapa Suci. Jika klaim itu keliru, bersamaan dengan surat terbuka dua pastor Keuskupan Bogor yang diumbar ke publik dan memantik perpecahan: dibiarkan tanpa penjelasan apapun.
Apakah dalih Gereja tak menganut demokrasi lantas bisa dimaknai anti pada pertanyaan2 mendasar tanpa prasangka seperti yang kami ajukan? Dan apakah otoritas sudah berhitung cermat jika ini berlarut maka akan menggerus trust? Kenapa beberapa pihak begitu mudah bersikap formal-legalistik, sikap yang oleh Paus Fransiskus ditentang dengan pendekatan pastoral yang lebih humanis.
Ada pula kritik ke kami, seolah hanya fokus dan militan ke isu Mgr Paskalis dan abai pada isu lain seperti Papua, Maumere, dan lainnya. Sama sekali tidak. Di tempat dan kesempatan lain kami turut mengadvokasi dengan cara kami. Tapi lebih mendasar, isu2 besar itu hanya akan tersentuh dan tuntas diadvokasi jika kita bisa menyelesaikan isu internal ini secara terang. Mestinya tak sulit memahami korelasi ini. Kita hanya sanggup menuntaskan perkara besar saat sudah teruji pada perkara2 kecil.
Tampaknya kita mesti menyadari ada yang salah dan masalah di internal Gereja. Barangkali kita ini hipokrit, menjalankan hidup-ganda dengan menyembah Tuhan dan Mammon sekaligus. Dalam situasi seperti ini menjadi tak penting berapa orang yang mendukung kita. Ini jika kita sepakat kita tak sedang menang-menangan. Bahkan saya mendapat kabar banyak pastor yang mestinya bisa dengan mudah mengambil sikap hitam-putih, tetiba menjadi abu2.
Saya tak pesimis. Kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Dan saya secara sadar dan bertanggung jawab telah memilih jalan saya. Barangkali berisiko, tapi hidup ini cuma sekali, dan saya ingin sesekali berarti. Martin Luther banyak dihujat dan baru memperoleh pengakuan baik dan tulus dari Vatikan, 500 tahun kemudian.
Sesuai bidang keilmuan saya, saya akan fokus pada pemeriksaan aspek keuangan saja. Kebetulan saya sudah membaca dan sedang mempelajari dengan cermat dan mendalam laporan keuangan dan dokumen2 otentik lain terkait RS Misi Lebak. Ini pintu masuk polemik dan titik tengkar awal. Saya tidak mau berdebat teologis dan dogmatis, termasuk masuk ke sensasi isu perempuan. Bagi saya semua ini urusan moral publik yang seharusnya tak rumit.
Mohon ditunggu dalam beberapa hari ke depan saya akan merilis analisis saya terhadap hal ini. Kebetulan saja saya pernah belajar akuntansi dan pernah menjadi auditor. Dan rasanya tak akan ada yang abu2 lagi, semestinya hitam-putih dan benderang.
Langkah ini saya tempuh sebagai kontribusi saya untuk penyelesaian yang lebih objektif dan fair: menguji tuduhan soal keuangan dengan standard keilmuan yang teruji. Agar tak jatuh pada suka atau tak suka yang subyektif. Temasuk menangkal kemungkinan para Sengkuni pecundang merasa jadi pemenang.
Seorang sahabat berusaha meyakinkan saya bahwa Mgr Paskalis bukan orang baik. Saya pun bukan orang baik. Dan yang merasa lebih baik, silakan melemparkan batu pertama kali! Di sini kita tak hendak membuktikan baik-buruk tetapi benar-salah. Dasarnya adalah tuduhan yang telah diumbar dan tersebar.
Saya hanya ingin Gereja Katolik memanfaatkan momen ini untuk berkaca, berbenah, membuka dialog yang terbuka, dan rekonsiliasi. Tak akan ada pengampunan tanpa penyingkapan kebenaran. Juga tak perlu saling menyalahkan.
Saya hanya umat biasa yang ingin terlibat. Di kerja sunyi dan tak populer ini saya senantiasa merunduk untuk mendapat terang Roh Kudus, dan dengan rendah hati hormat dan taat pada Bapa Suci dan para Uskup gembala kami. Usai ini, semoga Gereja Katolik Indonesia sanggup kembali menjadi kompas moral bagi banyak urusan bangsa. Bangsa yang sedang dilanda masalah korupsi, kerusakan lingkungan, kemiskinan dan ketimpangan ekstrem, hedonisme akut -yang jangan2 iblis saja sudah gagal memahami. (*)










