Oleh Marco Kasipdana
Pemuda GIDI Wilayah Pegunungan Bintang; Sarjana Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota
TANAH Papua baru saja memperingati Pekabaran Injil di Tanah Papua yang ke-171 tahun 2026. Pada 5 Februari 1855 untuk pertama kali, Injil masuk di Pulau Mansinam dan merupakan tonggak sejarah peradaban di Papua, pulau jumbo nan indah yang penuh susu dan madu. Di saat itulah manusia, binatang, hewan, tumbuhan, batu, kayu, setan, tanah, udara, air apa saja yang ada di tanah Papua ini menjadi Kristen yang tak ditawar lagi.
Tentang pengajaran kekristenan di tanah Papua bukan hal baru. Pengajaran baru justru sebagai bentuk penggenapan Allah melalui misionaris asal Jerman Carl Wilhelm Otto dan Jhonn Gottlob Geissler dari organisasi Zending der Nederlands Hervomde Kerk (ZNHK) memenuhi amanat Agung Yesus Kristus yang terdapat dalam Markus 16:15 dan Matius 28:19-20.
Tidak dipungkiri bahwa sebelum para misionaris itu datang orang Papua sudah mengenal kasih, mengasihi dan nilai-nilai budaya yang terdapat dalam aktivitas keseharian hidup sehingga saat Injil tiba di Mansinam Gereja di tanah Papua mulai berkembang, baik melalui misionaris mancanegara yang dibantu oleh hamba-hamba Tuhan lokal yang dipersiapkannya.
Semakin hari semakin berkembang melalui proses penginjilan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi jemaat yang pada akhirnya lahirlah GKI, Kingmi, Baptis hampir seantero tanah Papua, terutama di wilayah pesisir mulai dari Papua Barat, Papua bagian Selatan, Papua bagian Tengah kecuali Papua Pegunungan.
Lahirnya GIDI
Pedalaman Papua, kini provinsi Papua Pegunungan, terdiri dari delapan kabupaten. Para penginjil mulai injakkan kaki pertama kali di pedalaman Papua pada abad ke-19 (1950-an). Saat itu Injil mulai diberitakan melalui misionaris asal Eropa, Amerika dan Australia. Pada 12 Februari 1963 gereja pribumi bernama GIDI lahir melalui kerjasama yang baik antara misionaris luar dan para orang tua pedalaman Papua Pegunungan kala itu.
GIDI lahir dengan nama awal Gereja Injil Di Irian Barat (GIJB) pada awal berdirinya Gereja 1963. Selanjutnya berganti nama menjadi Gereja Injili Di Irian Barat (GIIB) pada 1970-an dan diganti lagi menjadi Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) sesuai dengan situasi sosial politik dan pertumbuhan Gereja di Indonesia. Dan kini memiliki delapan wilayah pelayanan, 100 Klasis, kurang lebih satu juta anggota GIDI dan memiliki basis pelayanan misi Injili hingga ke beberapa negara.
Penulis teringat sebuah pernyataan misionaris Ishak Samuel Keinje: “Orang dengan kepandaian, makrifat datang ke tanah Papua tetapi mereka datang bukan untuk membangun tanah dan manusia Papua justru orang Papua akan bangkit memimpin dirinya sendiri.” Pernyataan Keije mengingatkan bagaimana Yesus, putera Allah datang merendahkan diri dan sama dengan manusia (Injil Yohanes 1:-9).
Artinya ingin membangun Papua walaupun orang luar datang dengan harta dan tahta tetapi tidak samakan hidupnya dengan orang Papua dan nilai-nilainya hidupnya. Sebut saja makan bersama, tidur bangun sesuai dengan budaya dan karakter hidup bangsa Papua maka bukan tidak mungkin justru manusia dan alam semesta Papua menyatu.
Selanjutnya mengambil hati orang Papua. Selama belum menyatu dan menyesuaikan diri dengan aktivitas dan budaya tradisional masyarakat Papua lalu menawarkan konsep eropa, Amerika, dan konsep luar maka pasti justru berbanding terbalik dengan kondisi sosial dan tak seimbang.
Pada 12 Februari 2026 GIDI memasuki usia ke-63. Peringatan ini menjadi momen refleksi refleksi bagaimana perjuangan panjang masa lalu, melihat kekuatan, kelemahan, dan ancaman tetapi juga peluang gereja GIDI berkembang dalam berbagai aspek demi kemuliaan nama Tuhan.
Penulis ingin sedikit masuk bagaimana para pendahulu gereja mendirikan gereja ini dengan kekuatan doa, semangat, dan kekuatan moral dengan menunjukkan sikap tanggung sebagai s pemimpin dan mengambil komitmen di awal misi GIDI tahun 1963 di Bogondi, suku Lanny (kini Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan).
Di sana terjadi sebuah percakapan radikal sebagaimana hampir semua orang GIDI dengar, di setiap moment HUT dan kegiatan besar gerejawi dikumandangkan yakni “Kami Ingin Berdnri Sendiri “. Pernyataan ini bukan muncul tanpa alasan, bukan juga tiba-tiba muncul begitu saja.
Justru di balik pernyataan ini terkandung makna mendalam yang sifatnya mendesak baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Pernyataan tersebut dimaknai sebagai pernyataan politik, ekonomi dan sosial budaya dalam gereja.
Perspektif Pembangunan
Makna “Kami ingin berdiri sendiri” dilihat dari tiga aspek utama yaitu politik, ekonomi dan sosial budaya. Ketiga aspek itu dapat diuraiakan sebagai berikut. Pertama, aspek politik. Aspek ini dalam arti lebih luas yaitu bagaimana gereja berkontribusi terhadap institusi negara.
Kehadiran Gereja GIDI berkontribusi terhadap lembaga-lembaga negara, sistem pemerintahan yang di dalamnya baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Gereja berdiri bersama negara yang sedang ada bahkan melakukan sebuah perubahan dalam sistem ketatanegaraan yang baru dan berpikir tentang arah politik bangsa Papua melalui gereja.
Kedua, aspek ekonomi. Gereja hadir memberikan pelayanan yang terbaik di bidang ekonomi (sandang, pangan, papan, perkebunan, peternakan, perindustrian dan perdagangan). Gereja hadir sebagai subjek sekali objektif pembangunan.
Gereja jadi tembok pertahanan terakhir untuk jemaat tumbuh, berdaya dan berdampak pada sektor-sektor ekonomi sehingga kualitas ekonomi lokal tumbuh dan berkontribusi terhadap jemaat GIDI dan orang-orang membutuhkan pelayanan kasih lewat gerakan gereja.
Ketiga, aspek sosial budaya. ASpek ini berkaitan dengan layanan di bidang pendidikan, kesehatan, minat, penerbangan, bandara udara. Bagian ini gereja berdiri di garis depan dan mendorong jemaat dengan membangun sarana/prasarana umum.
Semuan itu dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan daya kreativitas, inovasi dengan membangun fasilitas umum demi terwujudnya jemaat mudah mendapatkan kesempatan, jaminan dan layanan sosial yang layak atau oleh pemimpin gereja disebut “kami meminum dari airnya sendiri”.
Pengaruh Pelayanan GIDI
GIDI adalah gereja Injili. Injili artinya menginjili yang belum terinjili, menjangkau belum terjangkau, memberkati yang belum terberkati. GIDI 63 tahun adalah waktu di mana gereja ini mempersiapkan konsep besar tentang kemana arah gereja selanjutnya selain bicara hal-hal Ilahi.
50 tahun yang akan datang adalah waktu di mana gereja ini berada pada level teknik atau metode yang tepat dipakai untuk masuk dalam satu dimensi untuk berkontribusi terhadap semua sektor.
Selanjutnya 50 tahun berikut adalah gereja Injili akan ada di posisi yang siap membangun peradaban baru dan melihat tanda-tanda keajaiban Kristus melalui proses pembangunan yang nyata.
Dengan iman dan hati dapat dikatakan akan ada fasilitas penunjang pendidikan, kesehatan, bandara udara, gedung sinode, fasilitas olahraga, perpustakaan, laboratorium penyimpanan dokumen penting dan mampu bersaing dalam konteks yang lebih luas.
Artinya gereja mampu menerjemahkan kalimat “kami ingin berdiri sendiri” itu dinyatakan dalam realitas kehidupan. Darimana sumber anggaran untuk mendukung dan membangun semua program dan kegiatan gereja? Tanya kepala gereja, pendiri Gereja yaitu Tuhan Yesus dan Dia akan memberikan jawaban yang tepat dan pasti.
Yesus lahir di kandang yang hina, Betlehem di Nazareth dan dianggap bukan pemimpin. Ia bukan Raja atas segala Raja tetapi kini nama-Nya termasyhur, nama-Nya dipopulerkan, dan disebut Allah dan Juruselamat.
Gereja GIDI lahir di pedalaman Papua, dinilai banyak pihak sebagai gereja koteka, gereja pedalaman, gereja serba terbatas, gereja belum jelas donaturnya tetapi kita percaya Yesus yang memulai, Yesus yang sedang bekerja dan Yesus pula yang mengakhiri gereja ini.
Yesus berpesan kepada muridnya. “Roh Kudus turun atas kamu dan kamu menjadi saksi-Ku mulai dari Yerusalem dan Yudea dan Samaria sampai ke ujung bumi.” Tafsiran ini juga berlaku di dalam proses bentuknya gereja GIDI.
Kata-kata sederhana tetapi mengandung makna besar: Apakah Yesus yang kalian bawa dari Amerika, Australia dan Eropa itu bawa pulang (lagi) ke Eropa? Ini pertanyaan orang tua (Suku Lanny).
“Tidak Yesus tidak pulang ke Amerika tetapi Yesus tetap berdiam bersama kalian.” Demikian respon misionaris luar negeri. “Kalau begitu: kami ingin berdiri sendiri,” kata orangtua Suku Lanny.
Kata Yesus kepada orangtua sebagai pendiri Gereja Injili: “Silahkan berdiri sendiri sebab Aku menyertai kamu mulai dari Bogondini, Gangkime, Kelila, Yakukimo, Pegunungan Bintang, Pantura, Jabodetabek sampai ke ujung bumi”.
Selamat Ulang Tahun Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) ke-63 tahun 2026. Tuhan berkati selalu.










