Oleh Darius Sabon Rain, SE, M.Ec.Dev
Magister Ekonomi Pembangunan UGM Yogyakarta; Pemerhati Ekonomi dan Sosial
DALAM peta persaingan global yang semakin sengit, term “inovasi” sering kali terasa jauh, terpusat di ibu kota atau seolah-olah menjadi monopoli perusahaan teknologi raksasa. Namun sebenarnya denyut nadi dari transformasi sebuah bangsa justru berdetak dari daerah.
Di sanalah masalah riil muncul dan solusi konkret dibutuhkan. Di sinilah peran strategis Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kabupaten Mimika hadir, bukan sekadar sebagai unit birokrasi baru, melainkan sebagai “otak” yang menggerakkan lompatan inovasi di tanah Amungsa, Bumi Kamoro (Mimika).
Metafora “otak” ini sengaja dipilih. Otak adalah pusat komando yang menerima informasi dari seluruh organ (permasalahan daerah), mengolahnya dengan kecerdasan dan pengetahuan (riset), lalu mengirimkan sinyal untuk bertindak (kebijakan dan implementasi).
Brida dirancang untuk menjadi simpul kecerdasan kolektif daerah yang menghubungkan akademisi, pelaku usaha, pemerintah dan komunitas/masyarakat. Ia adalah “antarmuka” yang menerjemahkan kebutuhan praktis dunia usaha dan masyarakat menjadi agenda riset dan sebaliknya mengonversi temuan akademis menjadi produk, kebijakan dan layanan yang bermanfaat.
Kesenjangan Klasik
Selama ini, kita mengenal dikotomi yang memprihatinkan: menara gading akademisi dengan riset brilian yang dihasilkan kerap hanya berakhir sebagai dokumen di perpustakaan. Bahkan sekadar memenuhi syarat administrasi di jurnal ilmiah, dan dunia industri yang haus solusi tapi enggan berinvestasi pada riset dasar.
Sementara itu, pemerintah daerah kerap terjebak dalam pembangunan fisik dan program jangka pendek. Brida hadir sebagai “jembatan” yang mengatasi kesenjangan ini.
Dengan mandat yang jelas, Brida bertugas memetakan potensi unggulan dan masalah kronis di daerah seperti limbah industri, kelangkaan air bersih, inflasi, in-efisiensi rantai pasok logistik di wilayah pedalaman dan lain-lain, lalu mengarahkan sumber daya intelektual dan pendanaan untuk memecahkannya.
Sebagai contoh, Mimika sebagai daerah penghasil sagu, tidak sekadar memikirkan cara mengelola tepung sagu menjadi berbagai produk makanan tradisional hingga camilan modern.
Sebagai “otak”, Brida bisa mendorong riset terapan dengan model pengelolaan berbasis zero waste (tanpa limbah), di mana seluruh bagian pohon sagu dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, menghasilkan nilai ekonomi tinggi dan sekaligus melestarikan lingkungan.
Ampas sagu dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk organik (kompos), media tanam anggrek dan bahan pakan ternak (unggas). Kulit batang sagu (gaba) memiliki potensi sebagai bahan alternatif dalam industri pengolahan kayu (laminasi), panel kayu atau bahan bangunan ringan.
Cangkang dan serat digunakan sebagai bahan bakar biomassa pada pembangkit listrik (resource substitution) untuk menggantikan bahan bakar fosil.
Riset ini kemudian dikawinkan dengan program pendampingan bagi usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) setempat untuk naik kelas, didukung oleh kebijakan fiskal daerah yang menarik investasi pengolahan hilir. Inilah inovasi sistemik, bukan lagi proyek yang terpencar.
Membangun Ekosistem, Bukan Hanya Produk
Keunggulan Brida sebagai “otak” terletak pada kemampuannya membangun ekosistem inovasi. Sebuah otak tidak bekerja sendiri. Ia membutuhkan sistem saraf yang tersambung ke seluruh tubuh. Brida berperan sebagai “orkestrator” yang menghubungkan berbagai pemain kunci.
Link dengan dunia akademik (perguruan tinggi): Brida dapat mendanai riset yang berorientasi pada solusi daerah sekaligus menjadi “pembeli” pertama atas teknologi tepat guna yang dihasilkan kampus.
Link dengan dunia usaha iIndustri dan UMKM): Brida menjadi mitra industri dalam penyelesaian masalah teknis dan sumber talenta inovasi. Bagi UMKM, Brida adalah penyedia akses teknologi, pendampingan dan sertifikasi.
Link dengan pemerintah daerah: Brida memberikan dasar ilmiah dan data yang kuat bagi perumusan kebijakan dan perencanaan pembangunan daerah. Link dengan masyarakat dan komunitas: Brida menjadi wadah partisipasi masyarakat dalam mengidentifikasi masalah yang dihadapi dan menguji solusi, memastikan inovasinya relevan dan adaptif.
Dengan peran ini, Brida bergerak melampaui konsep “OPD” yang kaku. Ia harus menjadi wadah yang lincah, kolaboratif dan berjejaring luas, baik di level daerah maupun nasional.
Tantangan yang Harus Diatasi agar “Otak” Tetap Tajam
Menginstal “otak” saja tidak cukup. Agar Brida benar-benar berfungsi optimal, ada beberapa tantangan krusial harus diatasi. Pertama, kemandirian dari paradigma “proyek”. Dalam hal ini Brida harus dibangun sebagai lembaga yang berkelanjutan (sustainable), tidak tergantung pada siklus proyek.
Perlu komitmen APBD yang memadai dan stabil, didukung skema pendanaan hybrid dari korporasi (seperti corporate social responsibility/CSR yang strategis), pemerintah pusat dan lembaga donor yang selaras.
Kedua, sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni, Brida perlu diisi oleh talenta hybrid yang memahami ilmu pengetahuan, dinamika bisnis dan birokrasi. Sistem rekrutmen harus berbasis kompetensi serta skema insentif yang menarik, untuk menghindari jebakan menjadi “tempat penampungan” pegawai. Selain itu, staf Brida harus memiliki kepekaan sosio-kultural yang luar biasa.
Ketiga, dukungan politik dan regulasi. Brida harus dipandang sebagai aset strategis jangka panjang. Perlu payung hukum yang kuat (berupa Perda) yang memberikan kewenangan dan fleksibilitas operasional kepada Brida, termasuk aspek pendanaan dan kemitraan.
Keempat, mindset dan budaya inovasi. Tantangan terberat mungkin adalah mengubah budaya kerja dari yang birokratis-prosedural menjadi eksperimental dan berorientasi pada hasil (outcome). Memberi ruang untuk gagal (fail-fast) dalam riset dan pengujian adalah bagian dari pembelajaran. Brida harus menjadi contoh budaya kerja baru ini.
Kelima, membangun kepercayaan (trust) dengan masyarakat adat. Ini adalah fondasi terpenting. Brida harus membuktikan diri bukan hanya sebagai perpanjangan tangan birokasi, tetapi juga mitra yang mendengarkan dan membawa manfaat nyata. Pendekatan partisipatif di mana masyarakat terlibat aktif sejak dari identifikasi masalah hingga uji coba solusi adalah kata kuncinya.
Menuju Masa Depan: Brida sebagai Katalis Kedaulatan Mimika
Keberhasilan Brida Mimika tidak hanya diukur dari jumlah paten semata, tetapi dari berkurangnya kesenjangan ekonomi, munculnya lapangan kerja baru di luar sektor tambang, membaiknya kualitas lingkungan dan menguatnya kebanggaan identitas budaya lokal yang disokong oleh ekonomi modern.
Impian yang diharapkan adalah Mimika menjadi lebih mandiri, tangguh dan sejahtera karena ilmu pengetahuan yang diinternalisasikan dalam kebijakan dan ekonominya. Masalah lokal dapat diselesaikan dengan solusi lokal yang canggih, produk unggulannya memiliki muatan teknologi dan nilai tambah tinggi, serta daya tariknya bagi investasi dan talenta terampil semakin kuat.
Momentum otonomi khusus seharusnya bukan hanya tentang mengelola keuangan daerah tetapi lebih penting lagi adalah tentang otonomi berpikir dan berinovasi. Brida adalah manifestasi dari otonomi tersebut. Ia adalah investasi daerah pada kecerdasan kolektifnya sendiri.
Oleh karena itu, dukungan kepada Brida haruslah bersifat holistik dan berkelanjutan. Masyarakat harus aktif menyuarakan kebutuhan riil, akademisi harus terbuka turun gunung, pelaku usaha harus berani berkolaborasi dan pemerintah daerah harus memberikan mandat dan kepercayaan penuh.
Brida bukanlah penyelesai semua masalah tetapi ia adalah “otak” yang merancang peta jalan menuju solusi. Dengan mengoptimalkan fungsi Brida, kita tidak sekadar mengejar ketertinggalan tetapi sedang mempersiapkan Mimika untuk menjadi pelopor, pemecah masalah dan kontributor aktif dalam lompatan inovasi.
Dengan memadukan kekayaan alam, kearifan lokal dan kecerdasan kolektif yang terlembagakan melalui Brida, Mimika dapat menulis babak baru: dari daerah yang dikenal karena kekayaan alamnya yang dikeruk, menjadi daerah yang dikagumi karena kemampuan inovasinya dalam membangun peradaban yang berkelanjutan dan bermartabat di tanah Papua.
Saatnya “otak” Mimika berpikir, merancang, dan melompat ke masa depan yang ditentukan oleh anak-anak negerinya sendiri.









