Kisah masa kecilnya dimulai di Enarotali, Paniai, Papua Tengah. Kelak ia total mendedikasikan diri sebagai hamba Tuhan melayani jemaat dan masyarakat bumi Cenderawasih.
BAGI masyarakat tanah Papua khususnya di Papua Tengah, Pendeta Jack Ikomou, S.Th bukanlah nama yang asing dan sulit dikenal publik. Ia buah iman dari keluarga Kristen generasi awal di tanah Papua, khususnya wilayah adat Meepago (Papua Tengah).
Kisah perjalanan hidup dan pelayanan Pendeta Jack Ikomou adalah sejarah yang tersimpan rapi dalam memori kolektif masyarakat, khususnya jemaat Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua, Enarotali.
Bila menelusuri jejak perjalanan pengabdian dan pelayananan Pendeta Jack Ikomou bagi jemaat Gereja Kingmi. Menyentuh biografi Pendeta Ikomou bukan sekadar mengenang lalu mengakrabi ziarah perjalanan seorang hamba Tuhan.
Dari biografi itu, dapat dibaca, direkam, dan direnungkan jejak kasih karunia Allah yang bekerja nyata dalam sejarah hidup seseorang. Kehidupan Pendeta Ikomou menyuguhkan dengan jelas bahwa panggilan Tuhan tidak selalu berjalan lurus, tetapi selalu setia menuju tujuan-Nya.
Menelusuri jejak masa kecil hingga mengabdi Tuhan lewat tugas perutusan Pendeta Ikomou sebagai hamba-Nya, bukan sekadar bersua dengan kisah tanpa luka. Dari sana, terselip pula kisah tentang iman yang tumbuh, jatuh, dihancurkan, dipulihkan, dan akhirnya dipakai Tuhan secara utuh bagi pelayanan Injil.
Akar Kehidupan dan Iman
Pendeta Jack Ikomou lahir 10 Januari 1953 di Enarotali, kota Kabupaten Paniai, Provinsi Papua Tengah. Ia lahir sebagai buah iman dari generasi keluarga Kristen awal Gereja Kingmi di tanah Papua. Akar kehidupan yang lengket dengan adat beriringan dengan iman yang kukuh sebagai pengikut Kristus.
Orangtuanya, Yakopa Yumabi Ikomou-Naomi Uwotuai Gobay adalah pasangan suami-istri (pasutri) penganut Kristen pertama yang menikah secara gerejawi di Gereja Kingmi Enarotali. Janji suci dua sejoli ini berlangsung saat sang ayah, Yumabi Ikomou masih menempuh pendidikan di Sekolah Alkitab.
Lahir dari keluarga yang taat adat dan agama membuat Pendeta Ikomou tumbuh sekaligus ikut mewarnai sejarah yang penting bagi gereja Papua. Kala itu, Injil masih merupakan kabar baru bagi banyak orang asli Papua di wilayah pedalaman.
Gereja belum mapan, fasilitas terbatas, dan para pelayan Tuhan bekerja dalam kesederhanaan namun dengan pengorbanan paripurna. Pendeta Ikomou lahir bukan hanya dari rahim seorang ibu, tetapi dari rahim kebangunan rohani yang sedang tumbuh di tanah Meepago.
Yakopa Yumabi Ikomou-Naomi Uwotuai Gobay termasuk murid angkatan pertama Sekolah Alkitab di Enarotali. Di angkatannya, Yakopa duduk sebangku dengan Zeth Yeimo, tokoh gereja Papua. Bahkan hingga dewasa, keluarga besar Pendeta Jack Ikomou sangat akrab dekat dengan pusat pembentukan iman Kristen generasi awal Papua.
Dalam konteks inilah Pendeta Jack Ikomou lahir di tengah api kebangunan rohani awal Injil di wilayah Meepago. Sejak awal, hidupnya sudah berpijak doa, pengajaran firman, dan teladan iman yang menghidupi seluruh ziarah hidupnya.
Sebagai anak laki-laki pertama Gereja Kingmi di Tanah Papua, ia dipersembahkan secara khusus kepada Tuhan oleh Pendeta Tuan Walter Pos, suatu tanda profetis yang kelak digenapi melalui perjalanan hidup dan pelayanannya.
Persembahan ini bukan sekadar simbol liturgis, tetapi sebuah penyerahan hidup yang kelak terbukti: hidupnya “dikembalikan” kepada Tuhan melalui jalan yang tidak mudah.
“Tahun 1959, bapa saya diterima sebagai anggota Kepolisian Republik Indonesia dan dipindahkan dari Enarotali ke Moanemani, (kini) Kabupaten Dogiyai. Saat itu, bapa membawa serta seluruh keluarga,” ujar Pendeta Jack Ikomou.
Menurut Pendeta Jack Ikomou, perpindahan ayah beserta keluarganya membuka babak baru kehidupan keluarga. Perpindahan ini sekaligus mulai mempertemukan Pendeta Jack Ikomou dengan dunia yang lebih luas, budaya yang beragam, dan pengalaman hidup yang membentuk daya tahan serta karakternya sejak dini.
Pendidikan Berbasis Nilai
Sejak tiba di Moanemani, tahun 1961 Jack Ikomou kecil mengawali pendidikan formalnya saat masuk TK Katolik Moanemani. Ikomou kemudian melanjutkan pendidikan dasar di Sekolah Dasar Katolik (SDK) Kimupugi Moanemani tahun 1962–1968.
“Kegiatan belajar mengajar dalam lingkungan pendidikan Katolik pada saat itu sangat ketat, disiplin, dan berorientasi pada pembentukan nilai, karakter. Dari sinilah tertanam pula nilai-nilai kerendahan hati, ketekunan, disiplin hidup, dan rasa hormat terhadap otoritas Rohani,” kata Jack Ikomou.
Sejak kelas 5 SDK Kimupugi, Pastor Kleopas Regrok, seorang imam Katolik melihat potensi besar dalam diri Jack Ikomou. Selama satu tahun penuh, setiap pagi dan sore, pastor tersebut mendatangi asrama polisi Nuwaibutu untuk meminta izin orangtua agar Jack disekolahkan di Seminari Santo Paulus Padang Bulan, Abepura, Jayapura.
Kesungguhan pastor ini muncul setelah melihat bakat dan kecerdasan siswanya, Jack Ikomou sudah terlihat sejak dini. Jack Ikomou bukan hanya pintar secara akademik, tetapi memiliki kepekaan rohani dan kedewasaan berpikir di atas rata-rata.
Ia meraih juara pertama saat lulus SDK Kimupugi. “Saya lulus tes masuk seminari dengan nilai terbaik. Atas persetujuan orangtua tahun 1968 saya dikirim ke Jayapura dan naik pesawat gratis,” ujar Ikomou.
Menurut Ikomou, keberangkatan ke Jayapura menjadi pengalaman besar bagi seorang anak dari pedalaman. Ia mengaku sangat berat hati meninggalkan keluarga, budaya lokal, dan kenyamanan masa kecil untuk memasuki dunia pendidikan rohani yang ketat dan penuh tuntutan.
Di Jayapura Ikomou melanjutkan pendidikan di SMP Seminari Santo Paulus tahun 1968–1970. Kemudian, ia masuk SMA Gabungan Dok V Jayapura. Namun di masa SMA, terjadi krisis identitas dan kebingungan arah hidup. Tekanan akademik, pergumulan batin serta dinamika masa muda membuatnya berpindah ke STM Dok VII jurusan mesin, lalu meninggalkan Jayapura pada 1972.
“Masa ini menjadi fase pencarian yang berat, diwarnai ketidakpastian, kegelisahan batin, dan kekecewaan pribadi. Panggilan yang pernah terasa jelas seolah mengabur. Inilah fase yang kelak sangat menentukan dalam membentuk kedalaman pelayanannya,” ujar Ikomou.
Gagal dan Jatuh
Dalam perjalanan pendidikan, atas saran gurunya, Yusak Ikomou, ia kembali melanjutkan sekolah di Sekolah Guru Bawah (SGB). Dinyatakan lulus dengan peringkat satu atau juara satu, Ikomou lalu dikirim ke SPG Negeri Abepura. Namun di tengah jalan kandas.
Tahun 1973, Ikomou mengikuti pelatihan vocational training center (VTC) bidang bangunan yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Setelah lulus, ia menunggu panggilan kerja ke Tembagapura, sebuah harapan besar bagi masa depan ekonomi.
Tahun 1974, Ikomou diterima bekerja di Kantor Pos Jayapura. Dari 300 peserta seleksi hanya 16 orang yang dinyatakan lulus, termasuk dirinya. Secara sosial dan ekonomi, diakui Ikomou, adalah puncak keberhasilan. Namun justru di titik inilah kejatuhan dimulai.
Selama 1974–1980, hidupnya dikuasai oleh minuman keras (miras), suka berbuat keributan, keluar masuk penjara hingga terkena skorsing kerja. Masa depannya suram. Tahun 1980, misalnya, Ikomou diskors dari Kantor Pos Jayapura. Tahun-tahun berikutnya menjadi masa paling gelap.
“Saat itu saya hidup tanpa arah, mabuk terus-menerus, keluar masuk Lembaga Pemasyarakatan Jayapura dan Nabire. Ini adalah fase kehancuran total, di mana semua potensi saya seakan sirna. Namun dalam iman Kristen, justru di titik inilah Tuhan bekerja paling dalam menyapa hati saya,” kata Ikomou.
Tahun 1983, dalam sebuah Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di Gereja Bethesda Nabire Pendeta Jack Ikomou mengalami pertobatan sejati. Ia berjumpa dengan Tuhan bukan sebagai orang sukses, melainkan sebagai manusia yang hancur.
“Di hadapan firman Tuhan, saya menyadari sungguh dosa-dosa saya, kehancuran hidup, dan kasih karunia Allah yang memanggil saya kembali. Inilah babak baru kehidupan. Bukan perbaikan kecil, tetapi perubahan arah hidup secara total,” ujar Ikomou.
Menjadi Hamba Tuhan
Pendeta Jack Ikomou mengisahkan, tahun 1984 ia diterima tanpa tes di Sekolah Theologia STA Walter Pos, Tapioka Nabire. Setelah menempuh pendidikan selama tiga tahun ia lulus 1987. Namun setelah lulus, ia kembali menghadapi penolakan. Masa lalu menjadi tembok. Beberapa Sekolah Alkitab dan gereja menolak melayaninya.
“Akhirnya, melalui campur tangan Tuhan, tuan Gibings di Beoga, Intan Jaya menerima dan menugaskan saya melayani jemaat di Tembagapura dan Gereja Kingmi Bahtera Timika mendampingi Pendeta Dr Noak Nawipa (Almarhum),” ujar Ikomou.
Tahun 1988, dengan dukungan penuh keluarga Pendeta Zuls —termasuk perlengkapan pelayanan lengkap—Ikomou diantar ke Timika menggunakan pesawat MAF. Namun, hanya empat bulan melayani, ia jatuh sakit akibat serangan malaria, penyakit jantung, dan tuberculosis (TBC).
Tahun 1988–1990, Ikomou menjalani masa pemulihan total. Seluruh biaya hidup dan pengobatan ditanggung oleh tuan Gibings. Masa ini diakuinya bukan sekadar pemulihan fisik, tetapi pemulihan iman dan ketergantungan penuh kepada Tuhan. Tahun 1990, Tuhan menyembuhkannya secara total.
Sejak 1990–2005, Pendeta Ikomou melayani di Bedeyda Topo – Uwapa, wilayah tanpa akses jalan. Ia kemudian mendirikan Tim Penginjilan Kasih Allah Melanda Piyaiye Uwapa, melayani daerah pedalaman, danau-danau Yamor serta KKR keliling Nabire, Moanemani, Waghete, dan Enarotali.
Ia juga menjadi pelopor pencetakan dan pembagian Alkitab Bahasa Mee secara gratis, disertai pemutaran film Injil, pembagian pakaian, dan pelayanan kesehatan. Tahun 1999, ia diangkat sebagai Ketua Komisi Penginjilan Klasis Nabire. Kemudian, tahun 2006 ia terpilih sebagai Ketua Departemen Penginjilan dan Doa Sinode Kingmi di Tanah Papua.
“Tahun 2006–2025, saya membangun dan melayani di Menara Doa Sinode Kingmi APO Jayapura. Selama tahun itu saya melayani tanpa honor, uang saku tetapi dengan pemeliharaan Tuhan yang nyata,” ujar Jack Ikomou.
Kini, di usia yang sudah menyentuh angka 73 tahun Pendeta Jack Ikomou, S.Th menjadi saksi hidup kasih karunia Allah. Ziarah hidupnya sungguh menjadi saksi bahwa Allah tidak mencari umat-Nya yang hidup sempurna tetapi yang memiliki hati dan bersedia dipulihkan.
Pelayanan semasa hidup penuh onak dan duri adalah warisan iman bagi gereja di tanah Papua dan generasi yang akan datang. Pengalaman pelayanan sebagai hamba Tuhan di tengah kehidupan yang menawarkan hal-hal duniawi yang kerap membelenggu, namun di satu fase tertentu kasih Tuhan sungguh nyata bagi umat-Nya. (*)










