Nama Ilmuwan Indonesia Diabadikan sebagai Asteroid, Menandai Kiprahnya di Tingkat Dunia

Christoforus Bayu Risanto, SJ, imam Katolik dan ilmuwan asal Indonesia. Sumber foto: ikadriyarkara.org

JAKARTA, ODIYAIWUU.com — Dalam daftar resmi Bulletin Working Group for Small Body Nomenclature (WGSBN), badan di bawah International Astronomical Union (IAU), tercantum nama (752403) Bayurisanto = 2015 PZ₁₁₄.

Penamaan ini, mengutip ikadriyarkara.org, Rabu (14/1) bukan sekadar simbol astronomi, namun bentuk penghargaan ilmiah internasional kepada Christoforus Bayu Risanto, seorang imam Serkat Jesuit (SJ) asal Indonesia yang menekuni riset meteorologi dan ilmu atmosfer.

Dalam dokumen WGSBN Bulletin, dijelaskan bahwa Christoforus Bayu Risanto adalah peneliti yang berfokus pada peningkatan akurasi prakiraan cuaca dengan mengombinasikan model fisik atmosfer dan teknik data assimilation, khususnya di wilayah dengan keterbatasan data observasi.

Penelitian imam lulusan Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta tahun 2007, memanfaatkan data kelembapan dari GPS meteorology yang dipadukan dengan data konvensional dari stasiun cuaca.

Pengakuan ilmiah ini menjadi semakin bermakna karena Bayu Risanto, imam Katolik kelahiran tahun 1981, kini merupakan bagian dari Vatican Observatory (Specola Vaticana), lembaga riset astronomi tertua yang masih aktif di dunia dan berada di bawah naungan Tahta Suci.

Kehadiran Bayu menandai kontribusi ilmuwan Indonesia dalam komunitas ilmiah global yang menjembatani sains modern dan tradisi intelektual Gereja Katolik.

Dalam laman resmi Vatican Observatory, dijelaskan, Bayu Risanto menempuh pendidikan lintas disiplin: mulai dari sains, meteorologi, hingga teologi. Ia meraih gelar Ph.D dalam Atmospheric Sciences dari University of Arizona, dengan fokus pada numerical weather prediction dan pemodelan cuaca ekstrem.

Latar belakang ini menjadikannya unik: seorang imam sekaligus ilmuwan yang bekerja pada irisan antara iman, sains, dan tanggung jawab ekologis.

Penelitiannya memiliki relevansi tinggi bagi kawasan tropis seperti Indonesia, di mana tantangan prakiraan hujan, banjir, dan cuaca ekstrem masih menjadi persoalan serius.

Dengan pendekatan berbasis model dan data mutakhir, karya Bayu berkontribusi pada pengembangan sistem peringatan dini yang lebih akurat.

Dalam tradisi astronomi internasional, penamaan asteroid sering diberikan untuk menghormati ilmuwan, tokoh budaya, dan figur religius yang memberikan kontribusi signifikan bagi kemanusiaan.

Dalam daftar yang sama, tercantum pula nama-nama seperti Faustina, Ledochowska, dan Alabiano, yang masing-masing merujuk pada tokoh religius dan intelektual lintas zaman.

Masuknya nama Bayurisanto ke dalam katalog benda langit menempatkan ilmuwan Indonesia ini sejajar dengan figur-figur dunia yang kontribusinya diakui melampaui batas negara dan disiplin ilmu.

Ia menjadi contoh bagaimana kerja ilmiah yang tekun, senyap, dan berbasis pelayanan dapat memperoleh pengakuan universal.

Observatorium Vatikan sendiri secara konsisten menegaskan bahwa penelitian ilmiah tidak bertentangan dengan iman, melainkan memperkaya pemahaman manusia akan ciptaan.

Kehadiran Bayu Risanto di lembaga ini sekaligus memperkuat pesan bahwa Gereja Katolik tetap aktif dalam dialog sains modern, termasuk isu perubahan iklim dan keberlanjutan bumi.

Dengan asteroid yang kini menyandang namanya, Bayu Risanto tidak hanya menorehkan prestasi personal, tetapi juga membawa nama Indonesia ke peta langit —sebuah simbol bahwa kontribusi intelektual dari Selatan Global memiliki tempat yang diakui dalam sejarah sains dunia. (*)