Ketua Pemuda Katolik Papua Tengah Tino Mote Minta Dua Pihak di Kwamki Narama Berhenti Saling Serang

Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Papua Tengah Tino Mote, SIP. Foto: Istimewa

NABIRE, ODIYAIWUU.com — Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Papua Tengah Tino Mote, SIP meminta dua kelompok warga yang bertikai di Kwamki Narama berhenti saling serang menggunakan senjata tajam. Aksi tersebut akan menambah panjang penderitaan keluarga kedua belah pihak sebagai sesama orang asli Papua.

“Pertama, saya atas nama Pemuda Katolik Papua Tengah menyampaikan duka kepada keluarga korban atas meninggalnya sesama saudara akibat konflik dua kelompok warga sesama anak Papua di Kwamki Narama. Semoga para korban yang meninggal mendapat tempat di sisi Tuhan,” ujar Tino Mote di Nabire, kota Provinsi Papua Tengah, Selasa (5/1).

Tino juga meminta seama saudara dari dua kelompok yang terlibat konflik agar berhenti untuk kebaikan bersama. Konflik selalu melahirkan penderitaan dan duka. Karena itu, kedua belah pihak harus mengutamakan dialog, duduk bersama untuk menyelesaikan setiap perbedaan pendapat yang muncul. Dialog, katanya, adalah warisan nenek moyang dan leluhur.

“Kedua belah pihak mesti sungguh menyadari bahwa konflik apapun bentuknya dengan menggunakan senjata tajam yang berujung jatuh korban meninggal. Kita semua perlu ingat bahwa populasi orang asli Papua semakin berkurang setiap saat akibat berbagai konflik, termasuk perang suku,” kata Tino.

Selain itu, konflik juga akan mengganggu berbagai sendi kehidupan Masyarakat, khususnya orang asli Papua. Aktivitas ekonomi warga, terutama pihak-pihak yang terlibat konflik akan terganggu. Begitu juga pendidikan anak-anak juga akan berpotensi terbengkelai dan akan merugikan masa depan anak sendiri.

“Sebagai Ketua Pemuda Katolik Papua Tengah dan anak asli tanah Papua, saya sekali lagi memohon agar konflik dua kelompok warga di Kwamki Narama harus dihentikan. Saya mengajak sesama saudara yang terlibat konflik menyadari sungguh-sungguh bahwa konflik yang berujung jatuh korban akan merugikan orang asli Papua sendiri. Ingat, tidak ada orang lain mendamaikan kita, kecuali kita sendiri,” kata Tino.

Tino juga menghimbau tokoh masyarakat asli Papua, kaum intelektual, dan pemimpin gereja lokal tak henti-henti memberikan pemahaman kepada warga dua kelompok yang bertikai agar mengakhiri perang panah. Konflik yang berlarut-larut juga akan memberi peluang pihak-pihak lain mempekeruh suasana.

“Kami mengapresiasi langkah yang ditempuh pemerintah daerah dan Forkopimda, aparat keamanan, dan semua pihak yang berkehendak baik mencari solusi damai. Meski demikian, utamanya adalah kesadaran kelompok yang bertikai. Apalagi, mereka tinggal di honai yang sama, honai Papua. Saling memaafkan, menyadari dan mengakui kelemahan satu sama lain sebagai sesama saudara terasa berat tapi itu satu-satunya jalan,” ujar Tino.

Selain itu, Tino juga meminta agar kalangan intelektual asal Kwamki Narama dan Mimika tak henti-henti memberikan pemahaman yang agar dua kelompok yang terlibat konflik kembali hidup rukun agar mereka melanjutkan aktivitas sehari-hari. (*)