TIMIKA, ODIYAIWUU.com — Uskup Keuskupan Timika Mgr Dr Bernardus Bofitwos Baru, OSA, Selasa (13/1) meminta keluarga besar Suku Kamoro di Kabupaten Mimika memberi perhatian serius dalam hal pendidikan generasi muda.
Permintaan tersebut disampaikan Uskup Bernardus saat meresmikan Gedung Gereja Santo Stefanus Kampung Aikawapuka, Distrik Mimika Tengah sekaligus memberikan Sakramen Krisma bagi 400 pemuda-pemudi Aikawapuka.
Uskup Bernardus, doktor bidang Misiologi lulusan Universitas Kepausan Urbanum tahun 2017, menyebut generasi muda setempat merupakan masa depan gereja, masa depan bangsa, dan masa depan tanah Papua.
Karena itu Uskup Bernardus berpesan agar generasi muda Aikawapuka tidak boleh terlibat atau melibatkan diri pada hal-hal yang dapat merugikan dan merusak masa depan mereka seperti mabuk-mabukan alkohol, pergaulan bebas dan hal-hal negatif lainnya.
“Anak-anak muda merupakan aset gereja, mesti dijaga dan dibimbing dengan baik. Para orang tua dan keluarga memiliki peran sangat penting dalam membimbing dan membentuk karakter anak. Orang tua terus memberikan nasihat dan motivasi kepada anak untuk bisa sukses,” ujar Uskup Bernardus mengutip papuatengah.antaranews.com di Timika, kota Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Rabu (14/1).
Menyikapi makin menurunnya kualitas pendidikan anak-anak asli Mimika terutama dari kalangan Suku Kamoro, kata Mgr Bernardus, gembala yang ditahbiskan menjadi Uskup Timika pada Mei 2025 di Gereja Katedral Tiga Raja, Keuskupan Timika berencana menggelar lokakarya pendidikan.
Menurut Uskup Bernardus, dalam lokakarya tersebut akan digali semua persoalan terkait dunia pendidikan di Mimika, terutama melalui Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Tillemans Keuskupan Timika, lalu dibuat kebijakan-kebijakan untuk mendorong peningkatan kualitas pendidikan anak-anak asli Papua.
Guna meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak asli Papua, Keuskupan Timika akan melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak, seperti pemerintah daerah, PT Freeport Indonesia, Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) dan pemangku kepentingan lainnya.
“Supaya anak-anak Suku Kamoro yang pintar-pintar bisa kita kirim belajar di luar daerah, sehingga nanti mereka akan kembali menjadi pemimpin yang hebat di negerinya sendiri,” ujar Mgr Bernardus, Uskup putra asli Papua kelahiran Dusun Bokraby, Desa Suswa, Distrik Mare, Papua Barat 22 Agustus 1969.
Dalam kesempatan itu Uskup Bernardus menekankan gedung gereja megah yang kini hadir di Kampung Aikawapuka tidak hanya dijadikan tempat berdoa dan memuji Tuhan, namun juga sebagai tempat untuk bergumul menemukan masa depan bagi masyarakat setempat.
Wilayah Aikawapuka dan sekitarnya rencananya akan dimekarkan menjadi wilayah dekenat tersendiri dari Dekenat Mimika yang berpusat di Kota Timika.
Setelah itu Keuskupan Timika juga akan memekarkan Paroki Maria Bintang Laut Kokonao menjadi tiga paroki baru agar pelayanan umat, termasuk di bidang pendidikan generasi muda di kampung-kampung pesisir barat Mimika bisa lebih terorganisir lebih baik lagi.
Ketua Panitia Pembangunan Gereja Katolik Santo Stefanus Aikawapuka Dominikus Mitoro menyebut total anggaran pembangunan gedung gereja baru senilai Rp 3,2 miliar merupakan sumbangan dari Pemkab Mimika dan YPMAK selaku pengelola dana kemitraan PTFI.
Kepala Distrik Mimika Tengah Thobias Baka berharap dengan diresmikannya gedung gereja baru maka masyarakat Aikawapuka lebih giat dan tekun dalam membangun kehidupan spiritualitas mereka.
Harapan serupa dikemukakan Ketua Pengurus YPMAK Dr Leonardus Tumuka. “Dengan dibangunnya gedung gereja ini, kami berharap iman umat Katolik Kampung Aikawapuka terus bertumbuh yang diwujud-nyatakan melalui kasih dan persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Leo Tumuka.
Kehadiran Uskup Bernardus di Aikawapuka disambut antusias oleh ribuan umat Katolik yang hadir. Umat tidak saja datang dari Kampung Aikawapuka tetapi kampung-kampung sekitar seperti Timika Pantai, Keakwa dan Atuka. (*)










