Oleh Yakobus Dumupa
(Umat Katolik Papua, tinggal di Nabire, Tanah Papua)
PELUNCURAN Universitas Katolik Fajar Timur Papua pada Minggu, 8 Februari 2026, di Aula Stadion Lukas Enembe, Kampung Harapan, menandai sebuah momen yang patut dicatat dalam perjalanan pendidikan tinggi di Papua. Sebuah universitas baru selalu membawa harapan: tentang perubahan, pembaruan, dan kemungkinan arah yang lebih baik. Namun harapan yang jujur selalu berjalan beriringan dengan pertanyaan yang perlu diajukan sejak awal.
Pertanyaan itu tidak rumit, tetapi menentukan: apakah universitas ini akan sungguh menjadi ruang perjumpaan akal dan hati, ataukah ia hanya akan melanjutkan pola pendidikan tinggi yang selama ini berjalan: tertib secara administratif, tetapi miskin kedalaman makna. Pertanyaan ini tidak bermaksud meragukan niat, melainkan menguji arah. Sebab arah sebuah universitas sering kali ditentukan bukan oleh niat awal, tetapi oleh pilihan-pilihan yang diambil setelah euforia peluncuran berlalu.
Pengalaman panjang dunia pendidikan menunjukkan bahwa banyak universitas lahir dengan visi besar, tetapi perlahan menyempit menjadi “institusi prosedural”. Pendidikan direduksi menjadi pemenuhan kurikulum, pengumpulan kredit, dan pencapaian indikator formal. Akal diasah agar efisien dan fungsional, sementara hati—sebagai pusat kepekaan moral dan tanggung jawab kemanusiaan—sering kali tidak mendapat ruang yang setara. Dalam kondisi seperti ini, universitas tetap berjalan, tetapi kehilangan daya pembentukannya.
Identitas “Katolik” yang disandang Universitas Katolik Fajar Timur Papua menempatkannya pada posisi yang tidak netral. Identitas ini membawa tuntutan etis yang lebih dalam daripada sekadar keberhasilan akademik. Ia menuntut pendidikan yang memanusiakan manusia, yang berani bertanya tentang makna, tujuan, dan dampak dari pengetahuan yang diajarkan. Pertanyaannya kemudian bergeser: apakah identitas ini akan menjadi kekuatan yang hidup, atau sekadar melekat sebagai atribut institusional?
Mempertemukan akal dan hati bukanlah slogan yang mudah diwujudkan. Akal diperlukan untuk berpikir jernih, kritis, dan analitis. Hati diperlukan untuk menjaga empati, keadilan, dan orientasi kemanusiaan. Ketika akal berjalan sendiri, pendidikan berisiko menjadi dingin dan teknokratis. Ketika hati berjalan tanpa akal, pendidikan kehilangan ketajaman. Universitas yang bermakna justru lahir dari keberanian menjaga ketegangan kreatif antara keduanya.
Pilihan ini akan segera terlihat di ruang-ruang belajar. Apakah ruang kelas akan menjadi tempat dialog yang hidup, di mana pertanyaan-pertanyaan mendasar dirawat, ataukah sekadar ruang penyampaian materi yang aman dari gangguan berpikir kritis. Sistem pendidikan yang sudah mapan cenderung menyingkirkan pertanyaan yang dianggap merepotkan. Universitas yang ingin mempertemukan akal dan hati justru harus memberi tempat bagi pertanyaan-pertanyaan itu, meskipun tidak selalu nyaman.
Kurikulum juga menjadi medan uji yang penting. Kurikulum yang hanya meniru pola umum tanpa keberanian kontekstual berisiko menghasilkan lulusan yang terampil, tetapi terlepas dari realitas hidup di sekitarnya. Pendidikan yang mempertemukan akal dan hati menuntut keterhubungan dengan persoalan nyata, dengan pengalaman sosial, dan dengan refleksi etis yang berkelanjutan. Tanpa itu, universitas hanya akan melahirkan profesional yang cakap, tetapi rapuh secara moral.
Di titik ini, peran dosen menjadi sangat menentukan. Dosen tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi sebagai penentu iklim intelektual dan moral kampus. Ketika dosen memilih menjadi pelaksana sistem semata, pendidikan berhenti pada prosedur. Ketika dosen hadir sebagai pendamping intelektual yang jujur dan terbuka, pendidikan berubah menjadi proses pembentukan manusia. Pilihan ini mungkin tidak spektakuler, tetapi dampaknya menentukan wajah universitas dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang akal dan hati adalah pertanyaan tentang keberanian institusional. Berani atau tidak universitas ini melampaui kenyamanan sistem yang sudah ada. Berani atau tidak ia menilai keberhasilannya bukan hanya dari kelancaran administrasi dan capaian formal, tetapi dari kualitas manusia yang dibentuk. Keberanian semacam ini tidak selalu terlihat cepat, tetapi ia meninggalkan jejak yang panjang.
Momen peluncuran pada 8 Februari 2026 di Aula Stadion Lukas Enembe kini telah menjadi catatan sejarah. Namun makna sejatinya baru akan terlihat dalam perjalanan ke depan. Apakah Universitas Katolik Fajar Timur Papua akan sungguh menjadi ruang perjumpaan akal dan hati, ataukah hanya menjadi satu lagi institusi pendidikan yang berjalan sebagaimana biasanya, akan ditentukan oleh pilihan-pilihan sunyi yang diambil hari demi hari. Pertanyaan itu dibiarkan terbuka—bukan untuk dijawab dengan kata-kata, melainkan dengan praktik pendidikan yang nyata.









