Puisi Ziarah Empat Puluh Hari ke Jantung Salib Karya Mariana Sogen

Foto ilustrasi

Ziarah Empat Puluh Hari ke Jantung Salib

 

Empat puluh hari aku menapaki padang-Mu, Tuhan

seperti debu yang Kau panggil dengan namaku

Di antara sunyi dan desir godaan

Engkau berjalan di depanku—

dan aku hanya belajar

menaruh kakiku di jejak luka-Mu

 

Salibku kecil

sering hanya seberat keengganan bertobat

namun di bawah bayang Salib-Mu

aku mengerti:

bukan beratnya yang menebus

melainkan kasih yang memanggulnya

 

Di jalan sempit yang Kau tunjukkan

aku melihat bukit itu menjulang—Kalvari

tempat bumi dan surga saling menatap

melalui tubuh-Mu yang terentang

 

Empat puluh hari aku ingin tinggal

di ruang antara doa dan lapar

antara air mata dan harapan

agar hausku menyatu dengan haus-Mu

dan dari lambung-Mu yang terbuka

mengalir sungai rahmat

membasuh merah dosaku

hingga putih seperti fajar Paskah

 

Jangan biarkan terang dunia

membutakan mataku dari Cahaya-Mu

jangan biarkan malam

menyamar sebagai istirahat

padahal ia jurang tanpa dasar

 

Jika aku goyah

jadikanlah salib sebagai tongkatku

dan nama-Mu sebagai napasku

 

Peganglah tanganku, Tuhan

sebab sering aku tersesat

di dalam diriku sendiri

Biarlah aku berjalan bersama-Mu

dan disalibkan bersama-Mu—

agar keakuanku mati

dan bangkitlah kasih-Mu dalam dadaku

 

Dan ketika empat puluh hari itu genap

aku tak lagi mencari surga

sebagai tempat di ujung perjalanan

melainkan menemukan-Mu

di dalam hati yang telah Kau ubah:

hati yang rela mengampuni

rela berkorban

rela mengasihi

seperti Engkau lebih dahulu mengasihiku

Lospallos, Timor Leste, Rabu Abu, 18 Februari 2026

Sr Mariana Sogen, ADM (Avelina Evi Sogen) lahir 15 Desember 1966 di Tenawahang, Kabupaten Flores Timur, ujung timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga Katolik yang sederhana, yang menanamkan nilai iman, ketekunan, dan semangat pelayanan sejak usia dini.

Pendidikan dasarnya diselesaikan di SD Kalike, Solor Selatan, Pulau Solor, Flores Timur, tahun 1979. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri Pamakayo, Solor Barat, dan lulus pada tahun 1982. Pendidikan menengah atas ditempuh di SMA Negeri Larantuka dan diselesaikan pada tahun 1985.

Pada tahun yang sama, 1985, ia memutuskan untuk memasuki Biara ADM di Yogyakarta, menapaki panggilan hidup bakti yang telah ia gumuli sejak masa remaja. Komitmennya untuk mengintegrasikan iman dan pendidikan mendorongnya melanjutkan studi tinggi. Pada tahun 1997, ia meraih gelar Sarjana Pendidikan Agama Katolik dari Sadhar Yogyakarta.

Sejak tahun 1997 hingga 2014, Sr Mariana mengabdikan diri sebagai pendidik di SMPK St Aloysius Weetebula. Selama kurang lebih tujuh belas tahun, ia terlibat aktif dalam karya pendidikan dan pembinaan iman generasi muda, menanamkan nilai-nilai Kristiani melalui pengajaran dan keteladanan hidup.

Memasuki babak baru panggilannya, pada tahun 2016 ia diutus sebagai misionaris pastoral ke Tutuala, Lospalos, Timor Leste. Hingga saat ini, ia terus melayani dalam karya pastoral dan pendampingan umat, menghadirkan semangat misioner Gereja di tengah masyarakat yang sederhana dan penuh dinamika sosial.

Dengan latar belakang pendidikan agama, pengalaman panjang sebagai pendidik, dan komitmen misioner lintas batas, Sr Mariana menjalani panggilannya sebagai religius yang setia melayani Gereja dan umat, khususnya di wilayah-wilayah perifer yang membutuhkan kehadiran kasih dan pengharapan.