OPINI  

Menyambung Asa Ekonomi Mimika dari Rantai Hulu Smelter Gresik

Darius Sabon Rain, SE, M.Ec.Dev, Magister Ekonomi Pembangunan UGM Yogyakarta; Pemerhati Ekonomi dan Sosial. Foto: Istimewa

Oleh Darius Sabon Rain, SE, M.Ec.Dev

Magister Ekonomi Pembangunan UGM Yogyakarta; Pemerhati Ekonomi dan Sosial

PEMBANGUNAN smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) di Gresik Jawa Timur yang telah beroperasi penuh bukan sekadar pencapaian teknis atau pemenuhan amanat Undang-Undang (UU). Lebih dari itu, ia adalah sebuah simpul strategis dalam rantai nilai ekonomi nasional yang memiliki potensi besar.

Potensi ini bertujuan untuk menyambung asa kemajuan ekonomi di Kabupaten Mimika sebagai tempat bijih mentah itu berasal. Pertanyaannya, bagaimana manfaat ekonomi dari hilirisasi di Gresik ini bisa dirasakan secara nyata dan berkelanjutan di tanah Mimika?

Selama ini, diskursus publik seringkali terjebak pada dikotomi “ekspor bijih mentah” versus “hilirisasi di dalam negeri”. Pembangunan smelter Gresik telah menjawab tantangan hilirisasi tersebut dengan gemilang.

Namun kita tidak boleh terbuai oleh kesuksesan di hilir, lalu melupakan masa depan di hulu. Narasi keberhasilannya belum lengkap jika tidak diikuti dengan strategi untuk memastikan kesejahteraan turut mengalir ke daerah hulu sebagai sumber kekayaan alam tersebut.

Ada sebuah ironi yang dalam dari rantai nilai ini yakni Mimika menyediakan bahan baku dan menanggung dampak terberat, sementara nilai tambah ekonomi, industrialisasi dan klaster industri maju dengan pesat dan terkonsentrasi di Gresik.

Rantai nilai ini terputus secara geografis dan ekonomi. Konsentrat langsung dikapalkan, memutus hubungan antara “hulu” (Mimika) dan “hilir” (Gresik) dalam proses penciptaan nilai tambah (added value).

Akibatnya, asa ekonomi masyarakat Mimika untuk bangkit dari ketergantungan pada tambang dan membangun kemandirian pasca tambang seolah melayang jauh, seperti ikut terbawa kapal ke pulau Jawa. Pertanyaan mendesaknya adalah bagaimana kita bisa menyambung kembali asa, harapan ekonomi Mimika dari rantai nilai yang justru berujung di Gresik?

Rantai yang Terputus dan Asa yang Melayang

Ada beberapa faktor membuat asa ekonomi itu terputus. Pertama, hilangnya momen penciptaan nilai tambah. Proses fisik pengolahan konsentrat menjadi produk setengah jadi atau jadi (katoda tembaga, kawat, dan lain-lain) terjadi sepenuhnya di luar Papua.

Sebuah momen dimana teknologi tinggi diterapkan, lapangan kerja skill tinggi tercipta dan industri pendukung (maintenance, engineering dan lain-lain) tumbuh, dan semua itu terjadi di Gresik. Mimika kehilangan kesempatan untuk mempelajari, menguasai, dan memiliki bagian dari tahap industri yang paling bernilai ini.

Kedua, lemahnya keterkaitan industri (industrial linkage). Ekonomi di sekitar Gresik berkembang pesat dengan munculnya usaha logistik, jasa teknik, perdagangan dan perumahan yang digerakkan oleh industri smelter.

Di Mimika, meski PTFI memiliki program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat yang masif dan telah mempekerjakan sekitar 40 persen tenaga kerja orang asli Papua, namun keterkaitan industri yang lebih luas dan mandiri di luar lingkup PTFI masih terbatas. UMKM lokal belum menjadi pemasok utama rantai pasok industri pengolahan mineral yang canggih.

Ketiga, skema redistribusi yang tidak membangun kapasitas produktif. Dana Bagi Hasil (DBH) dan Dana Otsus yang diterima memang besar. Namun aliran dana ini seringkali terjebak dalam logika belanja konsumtif dan proyek infrastruktur fisik, dari pada diinvestasikan secara sistematis untuk membangun kapasitas industri dan sumber daya manusia (SDM) yang mampu bersaing dalam rantai nilai global yang sama. Dana itu mengalir tetapi tidak “menyambung” Mimika dengan industri hilirnya sendiri.

Tiga Strategi Penyambungan Rantai Nilai

Menyambung asa ekonomi Mimika memerlukan intervensi yang berani dan revolusioner dalam tata kelola rantai nilai nasional. Bukan dengan memindahkan smelter dari Gresik, tetapi dengan menciptakan jembatan ekonomi yang kuat antara Mimika dan Gresik.

Paling kurang ada tiga strategi kunci yang perlu diterobos. Pertama, membangun jembatan kepemilikan dalam bentuk “saham” sebagai penyambung asa. Ini adalah terobosan yang terbilang radikal tetapi adil.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah dan Kabupaten Mimika (melalui Badan Usaha Milik Daerah/BUMD), harus mempelopori dan berani melobi untuk memperoleh kepemilikan saham di PT Smelting Gresik.

Caranya bisa melalui mekanisme penyertaan modal in-kind dimana saham dapat diberikan sebagai bagian dari perpanjangan kontrak operasi atau sebagai kompensasi atas kontribusi bahan baku jangka panjang.

Ini adalah pengakuan bahwa nilai smelter di Gresik tidak akan ada tanpa pasokan dari Mimika. Dengan memiliki saham, Kabupaten Mimika akan memperoleh dividen yang nilainya bisa lebih besar dan berkelanjutan dari pada sekadar penerimaan dana bagi hasil.

Manfaat lainnya Mimika juga memiliki hak suara dalam keputusan strategis, akses penuh terhadap pemanfaatan teknologi dan pasar serta memiliki mandat untuk menempatkan putra-putri Papua dalam program magang dan alih pengetahuan di smelter. Ini adalah penyambungan langsung pada level kepemilikan dan pengambilan keputusan.

Kedua, membangun jembatan kapasitas yakni mendirikan sebuah institusi atau pusat inovasi dan pengembangan SDM di hulu yang terhubung dengan hilir. Hal ini dapat diwujudkan dalam bentuk dana abadi (endowment fund) untuk pendidikan dan riset.

Sebagian dari penerimaan negara dari sektor pertambangan dan pengolahannya harus dialokasikan wajib untuk mendirikan dan mendanai institusi atau pusat inovasi pengolahan mineral dan energi terbarukan di Mimika sebagai daerah penghasil utama.

Institusi ini akan berafiliasi dengan perguruan tinggi setempat dan fokus pada riset pemanfaatan mineral lokal (tembaga, emas dan mineral ikutan), teknologi pengelolaan tailing yang ramah lingkungan dan ekonomi sirkular pertambangan. Pusat inovasi di Mimika menjadi “laboratorium hulu” bagi pengembangan teknologi yang bisa diterapkan di Gresik.

Bentuk yang kedua adalah kuota dan beasiswa link-and-match. Smelter di Gresik wajib memiliki program magang, pelatihan, dan beasiswa dengan kuota tetap (misalnya 30 persen) untuk putra-putri daerah Mimika.

Tujuannya bukan sekadar mencetak tenaga kerja terampil, tetapi terutama menciptakan engineers, manajer dan peneliti masa depan dari tanah mereka sendiri. Gresik menjadi “rumah magang hilir” bagi peneliti dan calon insinyur Papua. Inilah penyambungan pada level pengetahuan dan teknologi.

Ketiga, membangun jembatan pasar, dengan memasukkan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) Mimika dalam rantai pasok nasional. PT Smelting Gresik dan jaringan industrinya di Jawa Timur harus secara aktif membina dan membeli produk dari UMKM Mimika yang lulus sertifikasi.

PT Smelting Gresik diwajibkan memiliki program khusus “pasok dari Mimika”. Pemerintah harus memfasilitasi program kemitraan dimana UMKM Mimika dilatih untuk memproduksi barang kebutuhan smelter dan industri pendukungnya, seperti alat pelindung diri (APD) khusus, jasa pembersihan industri, komponen perawatan non-kritis, hingga produk makanan dan kerajinan untuk kebutuhan karyawan.

Barang-barang ini kemudian dikirimkan sebagai bagian dari pengiriman konsentrat ke Gresik. Efek multipliernya dapat menciptakan permintaan yang stabil, mengajarkan UMKM lokal tentang standar industri tinggi dan yang terpenting secara fisik dan ekonomi menyambungkan usaha kecil di Mimika dengan aktivitas industri di Gresik.

Dengan demikian pengiriman barang tidak lagi satu arah (konsentrat saja) tetapi menjadi dua arah yakni konsentrat dan produk UMKM ke Gresik, sedangkan uang dan order ke Mimika. Inilah penyambungan pada level pasar dan pemberdayaan UMKM.

Dari Eksploitasi Menuju Integrasi

Selama ini hubungan Mimika dan Gresik lebih mirip hubungan “eksploitasi dan pelayanan” dimana Mimika sebagai tempat eksploitasi sumber daya dan Gresik melayani pengolahannya. Kita harus mengubahnya menjadi hubungan “integrasi dan kemitraan” dalam satu rantai nilai yang kohesif.

Smelter Gresik tidak harus berhenti menjadi lokomotif ekonomi nasional. Namun lokomotif itu harus menarik seluruh gerbongnya, termasuk gerbong yang membawa Mimika sebagai sumber bahan bakunya menuju stasiun kemakmuran yang sama. Menyambung asa ekonomi Mimika dari smelter Gresik bukanlah mimpi yang mustahil.

Ia memerlukan keberanian untuk mendesain ulang arsitektur ekonomi yang lebih adil. Dengan membangun tiga jembatan: kepemilikan, kapasitas, dan pasar, kita tidak hanya menyambung rantai yang terputus tetapi juga mengalirkan kembali nilai tambah, pengetahuan, dan peluang ke tempat di mana sumber segalanya bermula.

Ending-nya, keberhasilan hilirisasi nasional tidak boleh diukur hanya dari nilai ekspor di Gresik, tetapi juga dari kebangkitan ekonomi berkelanjutan di Mimika. Ketika asa ekonomi Mimika tersambung dengan kilau smelter Gresik, barulah kita dapat memastikan bahwa asap smelter di Gresik tak lagi dilihat sebagai simbol ketimpangan melainkan sebagai asap dari mesin pertumbuhan yang inklusif, yang menghangatkan seluruh negeri dari ujung Barat hingga ujung Timur.

Inilah tugas kita bersama menulis ulang rumus kemakmuran, agar kemakmuran itu sendiri tidak terkonsentrasi tetapi menyebar secara berkeadilan. Mimika tidak boleh hanya menjadi catatan kaki dalam laporan tahunan keberhasilan smelter Gresik. Ia (Mimika) harus menjadi bab utama dalam cerita keberhasilan hilirisasi Indonesia.