Ketika Pangan Lokal Sagu Dijadikan Aneka Biscotti dan Brownchips di Papua

Astia Mulyawati dan seorang rekannya saat berada di tempat Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Basyira Kukis miliknya yang memproduksi Sagu Biscotti dan Brownchips Sagu dan diminati warga Papua. Produk ini juga sudah merambah pasar global melalui berbagai event seperti Malaysia dan Jerman.  Foto: Istimewa

JAYAPURA, ODIYAIWUU.com — Sagu kini tak hanya menjadi salah satu makanan tradisional masyarakat Papua, seperti papeda, sagu bakar, dan lain sebagainya yang diolah secara tradisional.

Namun, saat ini bisa diolah menjadi Sagu Biscotti dan Brownchips Sagu yang disukai oleh banyak orang dan beredar luas di pasaran.

Sagu yang dulu dikenal hanya bisa dikelola secara tradisional, kini bisa dirasakan dalam bentuk yang modern dan memiliki nilai jual di pasaran dalam bentuk kemasan yang diberi nama Sagu Biscotti dan Brownchips Sagu.

Sagu Biscotti dan Brownchips Sagu pertama kali dikenalkan perempuan muda bernama Astia Mulyawati, melalui tempat Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang diberi nama Basyira Kukis.

Di tempat inilah sagu dijadikan dalam kemasan dan oleh-oleh bagi para wisatawan yang berkunjung ke Papua.

Menurut Astia, ia telah memulai usaha Sagu Biscotti dan Brownchips Sagu sejak tahun 2021, namun belum terlalu fokus dilakukan.

Tahun 2023 hingga 2024, Basyira Kukis mulai fokus untuk memproduksi Sagu Biscotti dan Brownchips Sagu dengan bahan dasar sagu yang diambil langsung dari masyarakat secara tradisional di Sentani, Kabupaten Jayapura.

“Pada 2024, kami dapat kesempatan untuk pameran nasional bersama Menteri Perindustrian, khusus produk olahan sagu melalui Festival Sagu di Jakarta. Pada tahun ini kita dapat tiga pameran, yakni Pameran Trade Expo Indonesia dan Woderful Indonesia bersama Kementerian Pariwisata,” ujar Astia di Jayapura, Selasa (20/1).

Menurut Astia, pada awal pameran di Sarinah Jakarta, pihaknya langsung membawa produk Sagu Biscotti dan Brownchips Sagu. Tidak membutuhkan waktu lama, hasil produksi ini langsung habis terjual. Kebanyakan produknya ini dibeli oleh para pengunjung yang berasal dari luar negeri.

“Biscotti orang luar mereka tahu, kebanyakan dibuat dari tepung, tetapi yang kami bawa adalah Biscotti dengan bahan dasar sagu. Ini merupakan hal baru bagi mereka dan saat mereka suka, sehingga pulang dari pameran, kita komitmen untuk memproduksi biscotti dengan bahan dasar sagu dari Papua,” lanjut Astia.

Untuk rasanya sendiri, kata Astia, Sagu Biscotti dan Brownchips Sagu memiliki varian rasa, yakni Almon Kismis Ori, Almond Kismis Less Sugar, Kenari Coklat Less Sugar, Browchips Sagu, Choco Almond, Choco Cheese dan Greetea Almond

“Sagu Biscotti dan dan Brownchips Sagu ini kita sesuaikan dengan selera dan juga tidak terlalu banyak gula, karena kita sesuaikan dengan para pelanggan yang diabetes, sehingga bisa dikonsumsi oleh semua orang,” katanya.

“Untuk Sagu Biscotti kita tambahkan tepung keladi yang kita buat sendiri. Ada juga Almond dan Kismiss, agar rasanya lebih modern. Selain itu, kita pakai Coklat dan Kenari, sebab kalau untuk masyarakat timur sangat familiar,” kata Asti.

Astia mengatakan, Sagu Biscotti dan Brownchips Sagu yang diproduksi ini bisa dimakan oleh semua usia, baik anak-anak maupun orang dewasa. Kemasannya juga dibuat sedemikian rupa, agar Ketika dibuka bisa dimakan dan bisa ditutup lagi.

“Sagu Biscotti dan Brownchips Sagu ini sudah dipasarkan dan bisa dibeli oleh masyarakat diberbagai pertokoan seperti Saga, dan berbagai supermarket lainnya. Selain itu, bisa ditemukan juga di bandara untuk dibeli sebagai oleh-oleh dari Papua,” ujarnya.

Astia menambahkan, Sagu Biscotti dan Brownchips Sagu ini sudah dikirim ke beberapa daerah yang ada di Papua maupun di luar Papua, seperti di Jakarta, Kabupaten Nabire, Mimika dan beberapa daerah lainnya.

“Kami jual Sagu Biscotti dan Brownchips Sagu dengan harga Rp 35000 hingga Rp 37000 per pcs (bungkus). Masyarakat di luar Papua juga bisa membelinya secara online lewat Shoppe,” katanya.

Selain itu, pada tahun 2025, Sagu Biscotti dan Brownchips Sagu telah dibawa untuk ikut pameran di Malaysia Internasional Halal Showcase (Mihas), Malaysia dan Pasar Hamburg, Jerman.

“Saya berharap kehadiran Sagu Biscotti ini mampu mengangkat nilai sagu sebagai salah satu makanan khas Papua. Selain itu, tidak ada lagi sagu yang terbuang begitu saja,” ujar Astia. (*)