OPINI  

Hari Amal Bakti Kemenag ke-80: Iman, Pengabdian, dan Damai

Willem Wandik, S.Sos, Bupati Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua Pegunungan periode 2025-2030. Foto: Istimewa

Oleh Willem Wandik, S.Sos

Bupati Kabupaten Tolikara periode 2025-2030

KEMENTERIAN Agama Republik Indonesia di tanah Papua, Sabtu (3/1) menyelenggarakan Upacara Hari Amal Bakti Kementerian Agama ke-80 di Kota Jayapura. Momentum ini menjadi catatan sejarah penting, karena untuk pertama kalinya sepanjang perjalanan Kementerian Agama di Indonesia, upacara Hari Amal Bakti dilaksanakan di tanah Papua.

Bagi kami di tanah Papua, momentum ini merupakan sebuah kehormatan besar. Secara pribadi, saya berdiri di tempat ini mewakili para kepala daerah se-tanah Papua raya, dengan penuh rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta penyerahan iman, seraya meneguhkan komitmen bersama untuk terus merawat kerukunan umat beragama, memperkuat nilai-nilai spiritual, dan membangun tanah Papua yang damai, bermartabat, dan berkeadilan.

Peran Kementerian Agama di tanah Papua memiliki arti yang sangat strategis dan fundamental. Tanah Papua adalah ruang hidup yang majemuk -terdiri atas beragam suku, budaya, dan agama- namun justru dalam kemajemukan itulah masyarakat di tanah Papua telah lama mengenal dan mempraktikkan kerukunan antarumat beragama sebagai fondasi kehidupan sosial dan budaya, jauh sebelum wacana toleransi dan deklarasi kerukunan digaungkan secara formal oleh negara.

Sejarah mencatat bahwa pada masa lalu, konflik dan peperangan antar suku kerap terjadi di berbagai wilayah adat di tanah Papua. Namun seiring dengan kehadiran para pelayan agama -para misionaris dan pemuka agama dari berbagai keyakinan- nilai-nilai kasih, pelayanan, dan penghormatan terhadap martabat manusia mulai berakar dalam kebudayaan yang diintegrasikan dengan nilai-nilai iman.

Dari sanalah benih-benih kerukunan dan kedamaian tumbuh dan perlahan mengubah wajah kehidupan masyarakat di tanah Papua. Realitas ini menegaskan bahwa keberadaan agama di tanah Papua bukan sekadar dimensi spiritual, melainkan kekuatan sosial yang efektif dalam merajut harmoni dan perdamaian.

Oleh karena itu, pelajaran sejarah ini seharusnya menjadi refleksi penting bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk aparat keamanan dan intelijen negara. Refleksi itu ialah bahwa pendekatan yang berakar pada pelayanan keagamaan, dialog, dan penguatan peran tokoh agama jauh lebih relevan dan berkelanjutan dalam merawat kedamaian di tanah Papua.

Penjaga Harmoni

Ketika tanah Papua dirawat dengan kasih, pelayanan, dan keteladanan iman oleh para pemuka agama, maka damai tidak perlu dipaksakan. Ia akan hadir dengan sendirinya sebagai buah dari kepercayaan dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam perjalanan sejarah tersebut, Kementerian Agama telah tampil sebagai penjaga harmoni kehidupan beragama, yang secara konsisten merawat toleransi dan membuka ruang dialog antarumat beragama. Di tengah tantangan sosial, kondisi geografis yang berat serta kompleksitas sejarah tanah Papua, Kementerian Agama tetap berdiri sebagai peneduh dan penuntun moral.

Kehadiran Kementerian Agama penting memastikan bahwa setiap perbedaan tidak berkembang menjadi sumber pertentangan, melainkan dikelola sebagai kekuatan kolektif untuk membangun peradaban yang damai, adil, dan bermartabat di tanah Papua.

Selain itu, peran pendidikan agama yang dijalankan oleh Kementerian Agama di tanah Papua dipandang sebagai pilar utama dalam membangun akal, iman, dan karakter yang tangguh bagi generasi penerus di tanah Papua.

Dalam konteks ini, selaku kepala daerah kami menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kementerian Agama atas komitmen dan pengabdiannya dalam menyelenggarakan pelayanan pendidikan agama dan keagamaan di tanah Papua.

Kehadiran lembaga-lembaga pendidikan keagamaan seperti Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) Sentani dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Fattahul Muluk Papua merupakan bukti nyata kehadiran negara dalam mencerdaskan kehidupan anak-anak di tanah Papua secara utuh dan berimbang.

Pendidikan yang dibangun tidak hanya menumbuhkan kecerdasan intelektual, tetapi juga meneguhkan kekuatan iman serta membentuk karakter dan kepribadian yang berakar pada nilai-nilai religius, etika, dan kemanusiaan.

Melalui pendidikan agama yang inklusif dan kontekstual, generasi di tanah Papua dipersiapkan untuk menjadi insan yang cerdas, beriman, berkarakter kuat, serta mampu hidup berdampingan secara damai dalam kemajemukan di tanah Papua.

Di tanah Papua, pendidikan agama tidak dipahami semata-mata sebagai proses transfer pengetahuan, melainkan pembentukan manusia seutuhnya -yaitu manusia yang bertumbuh dalam iman, berakar pada etika, serta selaras dengan kearifan lokal orang asli Papua (OAP).

Pendidikan agama menjadi ruang pembentukan karakter, peneguhan jati diri, dan penguatan nilai kemanusiaan yang hidup dalam budaya di tanah Papua.

Sejalan dengan peran tersebut Kementerian Agama terus mendorong penguatan moderasi beragama sebagai landasan kehidupan beragama yang sehat dan berkeadaban -yang menjunjung tinggi sikap saling menghormati, inklusivitas, dialog, serta penghargaan terhadap martabat manusia.

Nilai-nilai moderasi ini menjadi semakin relevan dan bermakna di tanah Papua, sebuah wilayah dengan tantangan geografis yang ekstrem, mulai dari pegunungan yang terjal, lembah-lembah terpencil, hingga daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh akses transportasi dan layanan dasar.

Namun justru di tengah keterbatasan itulah, nilai pengabdian Kementerian Agama diuji dan dimuliakan. Melalui kehadiran para penyuluh agama, pendidik, dan pelayan keagamaan, negara hadir hingga ke pelosok dan ujung negeri, memastikan bahwa setiap warga masyarakat -tanpa memandang latar belakang agama maupun kondisi geografis- tetap memperoleh akses terhadap pendidikan agama, pembinaan keimanan, serta pelayanan keagamaan yang layak dan bermartabat.

Komitmen ini menegaskan satu pesan penting bahwa keterbatasan geografis tidak boleh menjadi penghalang bagi hadirnya keadilan sosial, persatuan, dan penguatan nilai-nilai spiritual sebagai fondasi utama perdamaian dan kehidupan bersama yang harmonis di tanah Papua.

Transformasi Nilai-nilai Iman

Kembali pada peran dan tanggung jawab yang kami jalankan sebagai kepala daerah di Tolikara, kami berupaya membangun transformasi nilai-nilai iman dalam tata kelola pemerintahan daerah selama masa kepemimpinan kami selaku Bupati. Melalui forum yang terhormat ini, izinkan saya menyampaikan sebuah kesaksian iman dari tanah Injil Tolikara. Di Kabupaten Tolikara, kami telah memulai sebuah gerakan bersama untuk mengintegrasikan nilai-nilai iman ke dalam agenda birokrasi pemerintahan daerah.

Sejak tahun 2025, kami mencanangkan Tolikara sebagai Tanah Injil, Tanah Damai dengan keyakinan bahwa Injil adalah sumber damai yang sejati bagi tanah Papua Pegunungan. Gerakan ini bukanlah agenda politik, melainkan panggilan sejarah dan spiritual -sebuah upaya melanjutkan warisan para misionaris dan penginjil yang dahulu datang ke tanah ini bukan dengan kekuasaan, melainkan dengan kasih, pengorbanan, dan doa.

Dari pelayanan merekalah nilai-nilai kemanusiaan, perdamaian, dan penghormatan terhadap martabat hidup mulai bertumbuh dan mengakar di tanah Papua Pegunungan. Salah satu momen perenungan rohani yang mendalam kami alami ketika berdiri di puncak Gunung Wambrakpaga. Di tempat itu, kami diingatkan bahwa Injil telah melahirkan sebuah peradaban Kristiani yang menjaga tanah ini dalam damai selama lebih dari satu abad.

Melalui pelayanan Injil di masa lalu, tanah Papua Pegunungan merasakan hadirnya peradaban yang memuliakan martabat manusia, mendamaikan suku-suku serta membuka jalan bagi masa depan yang lebih bermartabat.

Berangkat dari kesadaran iman tersebut, kami secara konsisten mendukung pendirian rumah-rumah doa di berbagai wilayah di Tolikara. Rumah doa bukan sekadar bangunan fisik melainkan akar rohani dan sumber kekuatan masyarakat. Kami meyakini bahwa jika akar iman bertumbuh kuat maka kehidupan sosial dan pembangunan daerah pun akan menjadi kokoh, tangguh, dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, nilai-nilai religius kami tempatkan sebagai kompas pembangunan daerah. Sebagai Bupati Tolikara, saya menegaskan bahwa iman harus menuntun kebijakan publik, pelayanan kepada rakyat serta pengelolaan kekuasaan. Ketika nilai-nilai iman berjalan seiring dengan tata kelola pemerintahan yang baik, pembangunan tidak hanya maju secara fisik tetapi juga menghadirkan keadilan, moralitas, dan kemanusiaan yang bermartabat bagi seluruh masyarakat.

Akhir kata, atas nama pemerintah dan masyarakat Kabupaten Tolikara di tanah Injil, saya menyampaikan “Selamat Hari Amal Bakti Kementerian Agama ke-80 Tahun 2026”. Terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas pengabdian, ketulusan serta kesetiaan Kementerian Agama dalam melayani bangsa dan negara, khususnya dalam mendampingi dan membina masyarakat orang asli Papua di tanah Papua.

Kiranya Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberkati setiap langkah pengabdian kita bersama, menjadikan tanah Papua sebagai tanah yang damai serta menuntun bangsa ini dengan terang iman dalam perjalanan menuju masa depan yang adil, bermartabat, dan berkeadaban. Syalom. Wa Wa. Waniambe. Yo Suba. Tabea Tabea. Matur Nuwun. Horas. Ya’ahowu.