FAK-FAK, ODIYAIWUU.com — Guru perintis Sekolah Dasar (SD) Inpres Peke Simeon Solo de Ona, Minggu (4/10) pukul 03.00 WIT meninggal dunia di rumahnya, Fak-fak, kota Kabupaten Fak-fak, Provinsi Papua Barat.
Simeon Solo meninggal dalam usia 74 tahun setelah menjalani perawatan medis di salah satu rumah sakit di Fak-fak. Selama menjalani perawatan medis di rumah sakit, ia ditemani Katharina Kire de Ona, putri semata wayang.
“Saya baru dengar kabar duka kalau adik guru Simeon Solo meninggal dunia pagi ini. Saya sangat sedih. Ade guru selalu bilang, ‘besa (sulung), kalau Tuhan panggil saya memilih dimakamkan di Fak-fak. Saya mau jasad saya menyatu dengan masyarakat dan tanah Papua.’ Itu pesan yang selalu ade guru sampaikan,” ujar Titus Wolo de Ona, kakak tertua Almahrum Simeon Solo de Ona, Minggu (4/10).
Sedangkan Yoman Ena de Ona, ponakan guru Simeon mengatakan, selama sakit Almarhum sempat menjalani perawatan di rumah sakit di Fak-fak. Namun, setelah menantu, ponakan, dan cucunya tiba di Fak-fak ia meminta agar segera check out dari rumah sakit dan kembali ke kediaman pribadinya.
“Istri serta anak sulung dan adik saya bertolak dari Timika tanggal 28 September dan tiba di Fak-fak tanggal 1 Oktober. Setelah bertemu mereka, bapa besar minta agar mereka keluar rumah sakit dan Kembali ke rumah. Beliau mau dirawat sampai Tuhan panggil. Pagi ini saya dapat kabar bapa besar dipanggil Tuhan,” kata Yoman di Timika, Papua Tengah.
Sejak tiba di Fak-fak tahun 1974, Simeon Solo de Ona langsung menjadi guru di SD Balai Latihan Kerja (BLK) Sungai Fakfak, kota Kabupaten Fak-fak, Provinsi Papua Barat. SD BLK ini saat itu dikelola Misi Katolik.
Simon mengisahkan, bermodal perahu layar dari Lewoleba, kota Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur selama 6 minggu, ia bersama puluhan rekannya sesama lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Kabupaten Flores Timur (sebelum Lembata pisah dari Flores Timur), setia di dalam perut perahu menerjang ganasnya laut menuju Irian Jaya.
“Kami bertolak dari dermaga Lewoleba, kota Pembantu Bupati Flores Timur wilayah Lembata April 1974. Tiba di Fakfak sebagai guru Trikora, saya langsung mengajar di Fak-fak,” ujar Simeon Solo kepada Odiyaiwuu.com dari Fakfak, kota Kabupaten Fakfak, Papua Barat, Jumat (24/11 2023).
Menurut Simeon, pada Desember 1975, ia diangkat jadi pegawai negeri sipil (PNS) lalu mendapat tugas merintis SD Inpres Peke (kala itu), Distrik Agimuga, Fakfak. SD Inpres Peke sangat jauh dari Timika, Fakfak (kini Kabupaten Mimika).
Selama satu setengah ia menjadi guru seorang diri merangkap kepala sekolah karena pejabat yang ditunjuk saat ini masih cuti mendampingi isterinya yang akan melahirkan. Tugas sebagai guru seorang diri merangkap kepala sekolah di SD Inpres Peke, dijalani tahun 1976-1978.
“SD Inpres Peke saya rintis dan menampung anak-anak asli. Sekolah itu kini sudah berganti nama jadi SD Inpres Jita. Letak sekolah ini kala itu berbatasan langsung antara Asmat (Mimika, saat itu) dengan Merauke (Papua Selatan),” ujar Simeon, guru kelahiran 15 Juni 1952 di kampung Kluang, Desa Belabaja (Boto), Kecamatan Nagawutun, Lembata, NTT.
Namun, tahun 1976, insiden kelam dihadapi Simeon dan isterinya, Gereta Kelanangame (Almrmh), perempuan asli Papua kelahiran Tsinga, kawasan Grassberg, Tembagapura, Mimika. Saat itu, anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) masuk dan membunuh para pegawai pendatang yang bertugas di Peke, terutama pendatang dari NTT, Maluku, dan Bugis.
“Tuhan sungguh baik. Saat itu saya dan isteri numpang di perahu motor yang isinya para tukang bangunan yang hendak ke Agimuga untuk bangun sekolah. Pegawai yang tinggal dengan saya di Peke kebetulan mau ke Agimuga juga sehingga saya dan maitua (isteri) ikut sehingga selamat. Tuhan sayang kami karena mungkin isteri saya anak pemilik ulayat Tembagapura, yang kini jadi area tambang Freeport Indonesia,” kata Simeon.
Menurut Simeon, dari pernikahan dengan Gereta Kalanangame, mereka dikaruniai anak-anak: si sulung Garden de Ona, kini mengabdi di Kabupaten Deiyai, Papua Tengah. Sedang anak kedua, Aryanto de Ona, ketiga Paul Suban de Ona, dan si bungsu Katharina Kire de Ona.
“Anak saya, Yanto (Aryanto de Ona) sedang berjuang menjadi tenaga P3K di salah satu kabupaten di Papua Tengah. Sedang Paul tinggal di Timika dan jadi buruh di sana setelah di PHK Freeport Indonesia,” ujar Simeon.
Begitu juga anak bungsu, Katharina, saat ini tinggal di Deiyai dan masih mencari kerja di sana. “Ya, hingga saat ini saya masih setia berdoa agar mereka bisa punya pekerjaan yang layak,” ujar Simeon. Selamat jalan, bapa guru Simeon Solo de Ona. Damailah di sisi-Nya. (*)










