DAERAH  

Bupati Kabupaten Puncak Elvis Tabuni Sambangi Warga yang Terdampak Konflik Melalui Bandara Mulia

Bupati Kabupaten Puncak Elvis Tabuni saat menyerahkan secara simbolis sembako untuk warga terdampak konflik dari Distrik Kembru, Mage Abume, dan Bina di Mulia, kota Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua Tengah, Sabtu (21/2). Sembako tersebut selanjutnya akan dibawa lalu didistribusikan kepada warga yang saat ini mengungsi di Distrik Jambi, Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah. Foto: Istimewa

MULIA, ODIYAIWUU.com — Bupati Kabupaten Puncak Elvis Tabuni, Sabtu (21/2) menyambangi warganya dari tiga distrik masing-masing Distrik (Kecamatan) Kembru, Mage Abume, dan Bina di Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua Tengah.

Kehadiran Bupati Tabuni bertujuan menyerahkan bantuan sembilan bahan pokok (sembako) kepada warganya yang mengungsi akibat kontak tembak yang diduga terjadi antara anggota Tentara Nasional Pembebasan Papua Barat, sayap militer Organisasi Papua Merdeka (TPNPB OPM) pekan ketiga Januari lalu.

“Bapak Bupati Puncak turun melalui Bandara Mulia, Puncak Jaya untuk menyerahkan sembako untuk pengungsi melalui anggota DPRD Puncak, para kepala distrik, dan kepala kampung,” ujar Matius Wonda, intelektual muda Puncak dari Mulia, kota Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah, Sabtu (21/2).

Menurut Matius, sembako itu selanjutnya akan dibawa anggota DPRD Puncak, ketiga kepala distrik, dan para kepala kampung untuk didistribusikan kepada warga Distrik (Kecamatan) Kembru, Mage Abume, dan Bina, Puncak, yang saat ini mengungsi di Distrik Jambi, Puncak Jaya.

Dalam momen penyerahan bantuan sembako tersebut, Bupati Elvis Tabuni menyampaikan rasa prihatin terhadap warganya yang harus mengungsi jauh dari Puncak ke Puncak Jaya.

Sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai pemimpin, Bupati Elvis berusaha maksimal untuk menolong warganya yang Tengah berada di lokasi pengungsian di Jambi.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Puncak juga mengalami kesulitan dalam memberikan bantuan kepada warga Distrik Kembru, Mage Abume, dan Bina. Pasalnya, tiga distrik itu sangat sulit diakses lewat jalan darat dan hanya melalui udara.

“Bandara Mulia dipilih sebagai jalur alternatif yang aman dan dekat dari distrik Jambi untuk mendistribusikan bantuan sembako kepada masyarakat yang terdampak pengungsi,” kata Matius.

Tanggung jawab Bupati Tabuni bukan pertama kali ini dengan memberikan bantuan sembako kepada pengungsi. Tahun lalu, ia juga menyambangi warganya di Distrik Sinak dan Ilaga yang terdampak konflik antara TPNPB-OPM dan TNI-Polri.

Media ini sebelumnya memberitakan, masyarakat Distrik Kembru, Puncak, Papua Tengah mengungsi ke sejumlah distrik seperti Distrik Sinak dan Distrik Yambi, Puncak Jaya. Langkah itu ditempuh menyusul serangan yang diduga dilakukan aparat TNI di Pos Timobut, Puncak.

“Masyarakat dari sejumlah kampung di Distrik Kembru memilih mengungsi sejak peristiwa penembakan dari Pos TNI Timobut menggunakan drone mulai Kamis, 22 Januari lalu” ujar Yosua Walia, warga Kampung Kembru, Distrik Kembru, Puncak, Papua Tengah, Kamis (5/2).

Menurut Yosua, serangan itu diduga dilakukan aparat keamanan sejak pekan ketiga Januari karena pimpinan Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kalenak Murib masuk di Distrik Kembru.

Akibat serangan tersebut, warga masyarakat sempat bertahan. Namun, menurut Yosua Walia, warga mengaku mendapat informasi akan terjadi serangan susulan di Kembru yang mengancam keselamatannya sehingga mereka disarankan mengungsi ke Distrik Sinak.

“Sejak tanggal 22 hingga 31 Januari terjadi serangan. Karena itu, pada Minggu (1/2) masyarakat Kembru yang berjumlah tujuh kampung, warga empat kampung yaitu Kampumg Kembru, Makuma, Nilime, dan Tenoti mengungsi ke Distrik Yambi,” kata Yosua Walia.

Sedangkan warga tiga kampung masing-masing Kampung Abuit dan sebagian lainnya mengungsi ke Distrik Sinak. Sebagian warga Kampung Belaba, Molu, dan Aguit diperkirakan mengungsi ke hutan demi menghindari keselamatan nyawa mereka.

“Warga masuk ke hutan mencari tempat yang lebih aman namun hingga kini belum diketahui keberadaannya. Kondisi masyarakat terutama anak-anak dikhawatirkan berpotensi terancam keselamatannya saat bertahan di pengungsian di hutan,” ujar Yosua. (*)