JAYAPURA, ODIYAIWUU.com — Tokoh gereja sekaligus Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (PGBWP) Gembala Dr Socratez Sofyan Yoman, MA, Kamis (8/10) melayangkan surat terbuka kepada Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn) Dr Dudung Abdurachman.
Dalam surat terbuka dengan perihal Merebut Hati Orang Papua, Socratez menyampaikan, persoalan konflik Papua pada dasarnya ada hambatan psikologis: ketidakadilan, pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat, dan distorsi sejarah dalam proses penggabungan Papua Barat ke dalam wilayah Indonesia.
“Persoalan konflik Papua Barat yang sudah berlangsung sejak 19 Desember 1961 sampai sekarang sudah menjadi seperti luka membusuk dan bernanah di dalam tubuh Indonesia,” kata Socratez dalam surat terbuka di Jayapura, Papua, Kamis (8/10). Berikut salinan isi surat selengkapnya.
Surat Terbuka
Perihal: Merebut Hati Orang Papua
Kepada yang Terhormat
Menkopolhukam RI Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman di Jakarta
Mengikuti arahan Presiden Prabowo Subianto kepada Menkopolhukam yang baru, Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman, menangani dengan serius konflik Papua yang sudah berdimensi internasional dengan pendekatan humanis dan kultural, operasi keamanan terbatas dan tegas, hanya kepada kelompok tertentu dalam upaya merebut hati rakyat Papua.
Perlu saya sampaikan dengan surat terbuka ini bahwa persoalan konflik Papua pada dasarnya ada hambatan psikologis, yaitu, ketidakadilan, pelanggaran HAM berat, dan distorsi sejarah dalam proses penggabungan Papua Barat ke dalam wilayah Indonesia.
Persoalan konflik Papua Barat yang sudah berlangsung sejak 19 Desember 1961 sampai sekarang sudah menjadi seperti luka membusuk dan bernanah di dalam tubuh Indonesia.
Perlu mendengarkan suara para rohaniawan, ilmuwan, akademisi, antropolog dan para pakar sudah sampaikan hasil riset dan pengamatan mereka, bahwa persoalan Papua Barat sudah menjadi seperti luka membusuk dan bernanah, bahkan penyakit cancer (kanker) yang melumpuhkan dan mematikan penduduk orang asli Papua secara sistematis, masif, meluas, dan kolektif.
Prof Dr Franz Magnis-Suseno mengatakan, ‘Papua adalah luka membusuk di tubuh bangsa Indonesia… kita akan ditelanjangi di depan dunia beradab, sebagai bangsa yang biadab, bangsa pembunuh orang-orang Papua’. (Sumber: Franz Magnis:Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme: 2015: 255).
Pastor Frans Lieshout, OFM, mengatakan, ‘Orang Papua telah menjadi minoritas di negeri sendiri. Amat sangat menyedihkan. Papua tetaplah luka bernanah di Indonesia.’ (Sumber: Pastor Frans Lieshout, OFM: Guru dan Gembala Bagi Papua, 2020:601).
Ibu Dr. Anti Solaiman mengatakan, ‘Papua itu luka dan isi lima buku Markus Haluk itu berisi luka semuanya yang belum ada solusinya. Luka itu bukan hanya dialami generasi tua, melainkan juga sudah dialami generasi anak dan bahkan generasi cucu’. (Sumber: Membawa Keadilan dan Damai ke Tanah Papua: 2024, 11).
Pendeta Gomar Gultom, Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) pada suatu diskusi tentang Papua pernah mengungkapkan. ‘Persoalan Papua hari ini sudah seperti luka bernanah yang belum sembuh, belum kering nanahnya tapi muncul luka yang baru di atasnya.’ (Sumber: Pendeta Ronald Rischard Tapilatu: Membawa Keadilan dan Damai ke Tanah Papua: 2024, xvi).
Lembaga Ilmu Pemgetahuan Indonesia LIPI-kini BRIN) telah merumuskan 4 akar konflik Papua yang tertuang dalam buku Papua Road Map: Negociating the Past, Improving the Present and Securing the Future (2008), sebagai berikut:
(1) sejarah dan status politik pengintegrasian Papua ke Indonesia; (2) kekerasan negara dan pelanggaran berat HAM sejak 1965 yang belum ada penyelesaian; (3) diskriminasi dan marjinalisasi orang asli Papua di tanah sendiri; (4) kegagalan pembangunan meliputi pendidikan, kesehatan, dan ekonomi rakyat Papua.
Jalan bermartabat, adil, manusiawi dan terhormat untuk Merebut Hati Orang Papua ialah menyelesaikan akar konflik Papua dengan dialog damai yang dimediasi pihak ketiga yang netral seperti pengalaman Indonesia dengan GAM di Helsinki pada 15 Agustus 2005.
Pada dasarnya ketidakadilan dan kekerasan negara yang berlangsung sudah 63 tahun sejak 1 Mei 1963 telah menyebabkan rakyat Papua kehilangan kepercayaan kepada pemerintah Indonesia dan Indonesia gagal total merebut hati rakyat Papua.
Akhir dari surat ini, saya harap membaca buku saya berjudul: Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua.
Terima kasih
Ita Wakhu Purom, 8 Oktober 2026
Gembala Dr AG Socratez Yoman, MA
Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua
Pendiri, Pengurus dan Anggota Dewan Gereja Papua Barat (WPCC)
Anggota Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC)
Anggota Aliansi Baptis Dunia (BWA)










