Oleh Dr Felix Baghi, SVD
Dosen Filsafat IFTK Ledalero, Maumere, Flores
TINDAKAN penyelamatan terhadap 13 perempuan asal Jawa Barat yang menjadi korban pelecehan dan eksploitasi di sebuah Pub Eltras di Maumere, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) memang memantik reaksi publik, termasuk dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (Kang Dedi Mulyadi/KDM).
Namun jika kita berhenti pada kronologi dan sensasi, kita kehilangan makna terdalam dari peristiwa ini. Yang terjadi sesungguhnya adalah momen etis: perjumpaan dengan ‘Yang Lain’ yang terluka.
Dalam filsafat etika Emmanuel Levinas, khususnya dalam karyanya, Totality and Infinity, wajah ‘Yang Lain’ bukanlah objek tatapan. Wajah itu adalah panggilan. Ia adalah interupsi terhadap egoisme kita. Ia mematahkan totalitas sistem, ideologi, dan identitas yang sering kita pakai untuk membenarkan jarak.
Wajah yang terluka menuntut tanggung jawab bahkan sebelum kita sempat bertanya: siapa dia? agamanya apa? sukunya mana? apakah ia bagian dari “kelompok kita”? Tanggung jawab, dalam arti ini, mendahului identitas. Etika lebih awal daripada politik. Moralitas lebih fundamental daripada kepentingan.
Apa yang dilakukan oleh ‘Justice, Peace and Integrity of Creation’ (JPIC) SVD Ende, ‘Tim Relawan Untuk Kemanusiaan Flores’ (Truk F) bukan sekadar aksi sosial karitatif. Itu adalah pernyataan moral yang tegas: manusia tidak boleh direduksi menjadi komoditas. Tubuh perempuan bukan alat produksi. Martabat bukan angka statistik. Harga diri bukan barang dagangan.
Eksploitasi yang mereka alami bukan sekadar pelanggaran hukum. Ia adalah kegagalan etis kolektif. Dalam logika pasar yang tak terkendali, tubuh perempuan, terutama yang miskin dan terpinggirkan, sering dinormalisasi sebagai “komoditas hiburan.” Bahasa ekonomi yang dingin menyamarkan kekerasan struktural. Kita menyebutnya “bisnis.” Padahal di baliknya ada ketakutan, paksaan, dan keterasingan.
Di sinilah tindakan penyelamatan menjadi tindakan politis dalam arti paling mendasar: ia menolak sistem yang membiarkan yang lemah diperas demi keuntungan. Ia berdiri melawan banalitas kejahatan yang sering bersembunyi di balik legalitas administratif.
Dalam spiritualitas Gereja Katolik, khususnya melalui karya keadilan, perdamaian dan keutuhan alam ciptaan, iman tidak berhenti di altar. Liturgi yang tidak menjelma menjadi solidaritas konkret adalah ritus yang kehilangan roh. Ekaristi yang tidak berbuah pada pembelaan terhadap yang rentan menjadi simbol yang kosong.
Iman sejati selalu bergerak menuju yang terluka. Pernyataan bahwa “kemanusiaan berada di atas sekat-sekat identitas” bukanlah relativisme. Ia justru adalah fondasi etis semua iman yang otentik.
Ketika seorang suster, imam, atau relawan bergerak menyelamatkan tanpa menanyakan agama atau etnis korban, mereka sedang mempraktikkan etika alteritas dalam bentuk paling murni: mengakui “Yang Lain” sebagai subjek, bukan objek belas kasihan.
Dalam konteks Indonesia yang plural dan kerap diguncang politik identitas, tindakan ini memiliki daya kenabian. Ia mengingatkan bahwa solidaritas tidak lahir dari kesamaan, melainkan dari pengakuan atas kerentanan bersama. Kita semua rentan.
Kita semua bisa menjadi korban. Vulnerable human being bukan konsep abstrak; ia adalah kondisi eksistensial manusia. Kesadaran akan kerapuhan inilah yang melahirkan tanggung jawab.
Peristiwa ini juga membuka luka lama: tubuh perempuan sebagai ruang eksploitasi sistemik, ekonomi, sosial, bahkan budaya. Menyelamatkan mereka berarti menolak struktur patriarkal dan kapitalistik yang memandang tubuh sebagai sumber laba. Itu adalah tindakan etis sekaligus tindakan perlawanan.
Etika alteritas menuntut lebih dari simpati. Ia meminta keberpihakan. Ia menuntut risiko. Ia berani berdiri di sisi korban meskipun tidak populer, meskipun berhadapan dengan kepentingan ekonomi atau tekanan sosial.
Apresiasi kepada JPIC SVD Ende, Truk F, dan semua pihak yang terlibat bukan semata karena mereka “menolong.” Mereka telah mengingatkan kita pada satu kebenaran mendasar: martabat manusia lebih tinggi dari ideologi; lebih luhur dari agama yang disempitkan; lebih sakral daripada sistem apa pun yang mengorbankan yang lemah.
Pada akhirnya, kemanusiaan bukan konsep yang nyaman dibicarakan. Ia adalah keputusan. Keputusan untuk memilih “Yang Lain” -the Other, tanpa syarat. Keputusan untuk tidak diam. Keputusan untuk bertanggung jawab.










