Jonni Hermanto Sebut Dunia Usaha Terbuka Luas Bagi Kemitraan Strategis Investor Amerika

Vice President Gaperi Prima dan Senior Advisor Pengembangan Bisnis Jonni Hermanto. Foto: Istimewa

JAKARTA, ODIYAIWUU.com — Pengembang properti (developer) Indonesia Jonni Hermanto mengatakan, sebagai salah satu pelaku usaha properti sekadar tunduk pada visi mentransformasi korporasi selaku pengembang.

Namun, lebih dari itu bergerak pula lebih dalam menjadi institusi pembangunan yang berkelanjutan (sustainable) dan membawa manfaat atau benefit bagi masyarakat sekitarnya.

“Kami selalu menekankan tata kelola yang lebih kuat, disiplin investasi serta pengembangan proyek yang berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi daerah dan masyarakat,” ujar Vice President Gaperi Prima dan Senior Advisor Pengembangan Bisnis Jonni Hermanto melalui keterangan tertulis kepada wartawan di Jakarta, Jumat (20/3).

Jonni Hermanto mengaku, sebagai pelaku usaha pihaknya menyambut baik penandatangan nota kesepahaman senilai 38,4 miliar dolar Amerika Serikat antara pelaku usaha Indonesia dan Amerika Serikat dalam sesi roundtable Business Summit yang diselenggarakan US-Asean Business Council di Gedung US Chamber of Commerce, Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (18/2).

“Kalau kita cermati dengan baik maka ini merupakan kabar baik bagi dunia usaha di tanah Air. Penandatanganan MoU itu menjadi wujud konkret kolaborasi sektor pemerintah serta swasta kedua negara di berbagai bidang mulai dari pertambangan dan hilirisasi, energi, agribisnis, tekstil dan garmen hingga manufaktur furnitur dan pengembangan teknologi,” katanya.

Menurut Jonni, sebagai developer pihaknya selalu bekerja keras dan bekerja cerdas menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendukung berbagai proyek strategis Presiden Republik Indonesia H. Prabowo Subianto yaitu pembangunan 3 juta rumah bagi rakyat setiap tahun. Karena itu, nilai-nilai yang menjadi panduan seperti trust, quality, and community menjadi basis pengabdian dan tak sekadar slogan.

“Iklim investasi yang terus membaik tentu menjadi pintu masuk bagi para investor Amerika Serikat. Dunia usaha juga terbuka luas menawarkan pasar dengan pertumbuhan stabil, kemitraan yang transparan dan profesional, proyek berbasis kebutuhan riil, dan ramah terhadap lingkungan hidup. Keberhasilan investasi bukan sekadar diukur dari return finansial. Lebih dari itu ialah benefit terhadap masyarakat,” kata Jonni.

Jonni mengatakan, kekuatan fundamental Indonesia yaitu posisi geopolitik yang sangat strategis yaitu Das Totenkreuz, berada di antara dua benua (Asia dan Australia) serta dua samudera (Hindia dan Pasifik). Posisi tersebut bukan sekadar fakta geografis, namun aset strategis yang memiliki nilai ekonomi, politik, dan perdagangan global yang sangat besar.

“Kita tahu, para ahli strategi dan pengamat geopolitik memandang Indonesia sebagai titik simpul jalur perdagangan internasional. Tidak hanya itu. Indonesia juga menjadi sentra pertumbuhan baru di kawasan Indo-Pasifik. Posisi ini menjadikan Indonesia kian relevan dan memiliki daya tawar kuat dalam bangunan ekonomi global yang terus berkembang,” ujar Jonni.

Jonni juga optimis di bawah kepemimpinan Presiden Republik Indonesia, H, Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka beserta jajaran Kabinet Merah Putih, stabilitas politik nasional terawat dengan baik.  Saat ini pemerintahan menekankan keberlanjutan pembangunan, penguatan kedaulatan ekonomi serta penciptaan iklim investasi yang kondusif dan berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang.

“Selain stabilitas politik, disiplin dan ketahanan fiskal Indonesia juga tetap terjaga. Pengelolaan anggaran negara dilakukan secara prudent, dengan rasio utang yang terkendali serta kebijakan fiskal yang bertanggung jawab. Kombinasi stabilitas politik dan fiskal ini menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan investor global,” kata Jonni. (*)