Ziarah Empat Puluh Hari ke Jantung Salib
Empat puluh hari aku menapaki padang-Mu, Tuhan
seperti debu yang Kau panggil dengan namaku
Di antara sunyi dan desir godaan
Engkau berjalan di depanku—
dan aku hanya belajar
menaruh kakiku di jejak luka-Mu
Salibku kecil
sering hanya seberat keengganan bertobat
namun di bawah bayang Salib-Mu
aku mengerti:
bukan beratnya yang menebus
melainkan kasih yang memanggulnya
Di jalan sempit yang Kau tunjukkan
aku melihat bukit itu menjulang—Kalvari
tempat bumi dan surga saling menatap
melalui tubuh-Mu yang terentang
Empat puluh hari aku ingin tinggal
di ruang antara doa dan lapar
antara air mata dan harapan
agar hausku menyatu dengan haus-Mu
dan dari lambung-Mu yang terbuka
mengalir sungai rahmat
membasuh merah dosaku
hingga putih seperti fajar Paskah
Jangan biarkan terang dunia
membutakan mataku dari Cahaya-Mu
jangan biarkan malam
menyamar sebagai istirahat
padahal ia jurang tanpa dasar
Jika aku goyah
jadikanlah salib sebagai tongkatku
dan nama-Mu sebagai napasku
Peganglah tanganku, Tuhan
sebab sering aku tersesat
di dalam diriku sendiri
Biarlah aku berjalan bersama-Mu
dan disalibkan bersama-Mu—
agar keakuanku mati
dan bangkitlah kasih-Mu dalam dadaku
Dan ketika empat puluh hari itu genap
aku tak lagi mencari surga
sebagai tempat di ujung perjalanan
melainkan menemukan-Mu
di dalam hati yang telah Kau ubah:
hati yang rela mengampuni
rela berkorban
rela mengasihi
seperti Engkau lebih dahulu mengasihiku
Lospallos, Timor Leste, Rabu Abu, 18 Februari 2026
Sr Mariana Sogen, ADM (Avelina Evi Sogen) lahir 15 Desember 1966 di Tenawahang, Kabupaten Flores Timur, ujung timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga Katolik yang sederhana, yang menanamkan nilai iman, ketekunan, dan semangat pelayanan sejak usia dini.
Pendidikan dasarnya diselesaikan di SD Kalike, Solor Selatan, Pulau Solor, Flores Timur, tahun 1979. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri Pamakayo, Solor Barat, dan lulus pada tahun 1982. Pendidikan menengah atas ditempuh di SMA Negeri Larantuka dan diselesaikan pada tahun 1985.
Pada tahun yang sama, 1985, ia memutuskan untuk memasuki Biara ADM di Yogyakarta, menapaki panggilan hidup bakti yang telah ia gumuli sejak masa remaja. Komitmennya untuk mengintegrasikan iman dan pendidikan mendorongnya melanjutkan studi tinggi. Pada tahun 1997, ia meraih gelar Sarjana Pendidikan Agama Katolik dari Sadhar Yogyakarta.
Sejak tahun 1997 hingga 2014, Sr Mariana mengabdikan diri sebagai pendidik di SMPK St Aloysius Weetebula. Selama kurang lebih tujuh belas tahun, ia terlibat aktif dalam karya pendidikan dan pembinaan iman generasi muda, menanamkan nilai-nilai Kristiani melalui pengajaran dan keteladanan hidup.
Memasuki babak baru panggilannya, pada tahun 2016 ia diutus sebagai misionaris pastoral ke Tutuala, Lospalos, Timor Leste. Hingga saat ini, ia terus melayani dalam karya pastoral dan pendampingan umat, menghadirkan semangat misioner Gereja di tengah masyarakat yang sederhana dan penuh dinamika sosial.
Dengan latar belakang pendidikan agama, pengalaman panjang sebagai pendidik, dan komitmen misioner lintas batas, Sr Mariana menjalani panggilannya sebagai religius yang setia melayani Gereja dan umat, khususnya di wilayah-wilayah perifer yang membutuhkan kehadiran kasih dan pengharapan.










